Pada 15 November 2011 lalu, RIM pertama kali mengkonfirmasikan dua BlackBerry lainnya yang menjadi anggota OS 7, yaitu Bold 9790 serta Curve 9380. Sementara Bold 9790 alias Bellagio sudah dirilis 25 November 2011 pertama kali di Indonesia, seri BlackBerry paling ekonomis, yaitu Curve yang kini mengajukan Curve 9380 alias Orlando, baru dalam hitungan hari merasakan udara Indonesia.

Masuk kelas Curve, maka tidak heran jika harga Orlando dipatok termurah dibandingkan OS 7 lainnya yang full touchscreen. Dibandingkan Bellagio, Montana dan Monaco/Monza yang bermain di angka 4.5 jutaan, atau Dakota yang 5.5 jutaan, maka si Orlando yang diposisikan pada kelas bawah hadir dengan harga perkenalan Rp. 3.4 jutaan. Jujur saja, harga tersebut terlalu mahal, jika memang ditempatkan di posisi “entry level“… dibandingkan flagship-nya saja tidak terpaut jauh. Tapi, ya sudah, kita lihat saja perkembangan Orlando di pasaran, apakah benar berhasil mempertahankan ekosistem RIM yang hanya mengandalkan BlackBerry Messenger saja?

Trio OS 7 terbaru, Bellagio, Orlando dan Apollo. Ketiganya sudah available di Indonesia, dengan Apollo menjadi yang termurah, dijual dengan harga Rp. 3 jutaan.

Mengenai Orlando, yang bisa dikatakan menjadi versi mungil dan ekonomis dari BlackBerry 9860 Monza ini, kamu dapatkan layar 3.2-inchi, serta prosesor 800MHz, masih cukup cepat menjalankan OS 7 yang terkenal dengan waktu booting-nya yang lebih instant dibandingkan OS 6/sebelumnya – gejala lag baru terasa ketika menjalankan web browser, dan diperparah dengan tidak adanya dukungan Flash selama browsing. Bicara web browser, browser OS 7 yang dibanggakan oleh RIM memang beda. Dikembangkan berdasarkan engine WebKit-nya Apple, dan menggunakan sistem cache seperti iPhone. Begitu terasa saat kamu bergerak di suatu halaman web, entah zoom in atau ke atas/bawah., browser OS 7 bereaksi cukup cepat.

Layar Orlando ini sekadar capacitive dan tidak mendukung feedback getaran, jelas membuat kita kehilangan sensasi mengetik ala keyboard fisik, atau setidaknya jika touchscreen, masih bisa berbunyi klik seperti pada layar keluarga Storm. Namun tidak di sini, karena kamu murni menyentuh!

Secara fisik, penampilan 9380 ini walaupun masuk keluarga Curve, namun sekilas jika ada keyboard-nya kamu bisa melihatnya mirip seperti Tour 9360, bahkan jika dilihat dari belakang. Sayang bagian belakangnya tidak mengadopsi lapisan kasat seperti model yang lebih tinggi kastanya, karena bagian belakang Orlando begitu mudah menyisakan jejak jari. Kemudian layarnya, walaupun sudah 16 juta warna, namun rupanya masih menggunakan resolusi BlackBerry lawas, HVGA 480 x 360 pixel. Untunglah hanya dijejalkan ke dalam layar 3.2 inchi, masih terlihat tajam, apalagi dengan kerapatan per pixel sekitar 180 PPI.

Namun kamu jangan bandingkan dengan Bellagio, misalnya, yang layarnya hanya 2.4 inchi dengan resolusi 640 x 480 pixel. Untuk memory-nya, kamu dapati 512 MB baik untuk ROM dan RAM. Tidak terlampau kecil, walaupun kamu merasa jauh perbedaannya dengan Bellagio yang ROM-nya saja 8 GB, dan RAM-nya 768 MB. Namun untuk pengoperasian standar, Orlando masih bisa mengekesekusi semua perintah dengan lancar. Namun ketika kamu beranjak lebih jauh ingin eksplorasi aplikasi lainnya, patut diperhitungkan karena memory internal-nya hanya tersisa sekitar 150 MB saja setelah di-install OS 7. Dibandingkan Curve 3G 9330 yang sama-sama 512 MB ROM-nya, dengan OS 6 masih tersisa sekitar 250 MB bagi kita.

Kembali ke fisik, seperti BlackBerry lainnya, Orlando masuk kategori tipis dan ringan. Detailnya, dimensi Orlando adalah 60 x 109 x 11.2 mm, dengan berat hanya 98 gram. Bahkan tetap lebih kecil dan ringan dibandingkan Bellagio. Di bawah layarnya kamu temukan empat tombol - Call, Options, Back, Hang-up/Power, selain trackpad di tengah. Keempat tombol tersebut bukan tombol sentuh capacitive, seperti pada kebanyakan smartphone berlayar sentuh, melainkan kamu bisa menekannya seperti tipikal BalckBerry lainnya.

Fitur konektifitasnya juga standar seperti yang lain. Sudah mampu berjalan di jalur 3G dengan HSDPA, ada Wi-Fi b/g/n, GPS receiver serta dukungan BlackBerry Maps, Bluetooth 2.1, dan bahkan sudah dibenamkan chip NFC – yang sayang penerapannya bergantung pada operator penyedia layanan BlackBerry. Oh ya, seperti BlackBerry lainnya juga, jangan mencari logo radio FM di Orlando ya!!

Sementara tombol dan port lainnya di sekeliling tubuh smartphone ini, kamu temukan tombol kamera di bawah tombol volume, serta tombol lock di bagian atas. Hanya sayangnya, tombol kamera dan volume disediakan dengan feedback yang kurang bagus, karena terlalu kecil. Kameranya sendiri 5MP, dengan LED flash yang sudah lebih dari cukup sekadar foto untuk jejaring sosial dan berbagi melalui email. Kamera tersebut juga bisa merekam video dengan kualitas VGA pada 30 fps – lumayanlah! Dua port di tubuhnya, mulai micro-USB di sisi kiri, dan port audio 3.5mm di bagian atas. Sedangkan speaker-nya berada di sisi belakang – bawah Orlando, dan sayangnya, tidak terlalu keras output suaranya. Di balik cover belakang, kamu dapati baterai berkapasitas 1230 mAh, serta slot microSD untuk ekspansi hingga 32GB.

Memang Orlando diposisikan sebagai BlackBerry OS 7 dengan layar full touchscreen termurah. Namun murah di sini jangan disamakan dengan smartphone entry level seperti yang banyak digelontorkan produsen lokal, dengan Android murah yang begitu menarik. Atau jangan samakan dengan Samsung misalnya, dengan Android termurahnya yang sangat “seru tapi gak pake mahal!” Orlando pasti tetap mahal dengan patokan harga Rp 3.4 jutaan. Dengan dana sebanyak itu, kamu bisa mendapatkan banyak pilihan smartphone lainnya yang jauh lebih masuk akal. LG Optimus 2X P990, LG Optimus Black P970, Sony Ericsson Xperia Arc/Neo/NeoV/Play,  Samsung I9001 Galaxy S Plus, I8150 Galaxy W, Samsung Google Nexus S, HTC Desire S dan masih banyak lagi opsi lainnya, seperti mungkin iPhone 3G S jika kamu bertanya iOS.

Perbandingan Orlando vs Monza

Namun kembali pada kebutuhan, jika ingin smartphone yang bisa BBM, touch screen (walaupun gak enak jika biasa ngetik QWERTY dan kini pindah di layar touchscreen), cukup mungil dan ringan, serta OS yang tidak perlu menunggu lama ketika di-booting, Orlando bisa menjadi opsi yang bagus. Namun jika tidak butuh BBM, lebih baik cukup “Like This!” article saja deh… hehe!

419 keseluruhan 8 dilihat hari ini