Mungkin banyak diantara kita yang belum mengenal sosok Sudono Salim, atau yang bernama asli Liem Sioe Liong. Warga Tiongkok yang menetap di Indonesia, dan usahanya berpengaruh ke seluruh Indonesia bahkan Asia. Beliau meninggal dunia pekan lalu, Minggu, 10 Juni 2012 di Singapura pada usia 95. Tentunya berita ini mengejutkan beberapa pihak, terutama pihak yang mengenal beliau dengan baik.

Liem Sioe Liong merupakan anak kedua dari seorang petani di Fujian, China dan lahir pada 16 Juli 1916. Karena merasa berat hidup di China, akhirnya dia dan kakaknya, Liem Sioe Hie putus sekolah dan pergi ke Indonesia. Tepatnya di Medan pada tahun 1936, untuk mencari kehidupan lebih layak. Saat itu beliau hanya usaha kecil-kecilan di sana. Beliau juga dapat disebut sebagai salah satu pahlawan revolusi Indonesia lho, sebab beliau juga membantu memberikan persediaan medic selama perang. Bahkan dia juga berteman dengan kepala pasukan pada masa itu, yaitu almarhum mantan presiden Soeharto.

Namanya kian dikenal pada tahun 1956, setelah dia pindah ke Jakarta, dan mulai mendirikan banyak perusahaan besar yang sangat berpengaruh terhadap pemerintahan Indonesia. Bahkan pabrik sabun yang dia dirikan pertama menjadi pemasok utama Tentara Nasional Indonesia saat itu. Tak berhenti disitu saja, ia memulai membangun banyak perusahaan di bidang lainnya. Sebut saja di bidang makanan, beliau mendirikan Indofood. Kemudian dia juga yang mendirikan stasiun TV Indosiar. Dalam bidang perbankan beliau yang mendirikan Bank Central Asia (BCA), yang hingga saat ini menjadi salah satu bank terkuat di Indonesia. Tidak hanya itu, masih banyak perusahaan-perusahaan lainnya, seperti Indomaret, PT Indocement Tunggal Prakarsa yang lebih dikenal dengan produk semen Tiga Roda-nya, PT Hanurata, PT Waringin Kencana, hingga PT Bogasari Flour Mill…

Tentunya beliau tidak bekerja sendiri, dia dibantu oleh banyak rekan kerja dan juga alharhum mantan presiden Soeharto, kawan-kawannya seperti Djuhar Sutanto, Sudwikatmono,  dan Ibrahim Risjad.

Kedekatannya pada alm. Soeharto

Sayangnya pada 1998, Kerusuhan Mei membuatnya terpukul karena rumahnya dijarah dan dibakar. Ia terpuruk dan memutuskan untuk pensiun, dan menikmati hari tuanya di Singapura. Kini seluruh perusahaannya diteruskan oleh anaknya Anthony Salim dan menantunya Franciscus Weilirang.

Dimulai dari seorang petani yang akhirnya putus sekolah, bisa menjadi seorang yang sukses dan terkaya di Indonesia pada masa Orde Baru. Tidak hanya orang terkaya di Indonesia saja, bahkan dia juga sempat masuk menjadi salah satu dari 100 besar orang terkaya di dunia pada saat itu. Om Liem (salah satu nama panggilannya) bukan orang yang sombong, dia bahkan ikut menyumbangkan kekayaannya untuk Indonesia. Total 5% kekayaan Indonesia merupakan sumbangan darinya. Sayang cintanya pada Indonesia dirusak akibat orang Indonesia itu sendiri…

87 keseluruhan 1 dilihat hari ini