Friday Night Movie Review: The Dark Knight Rises

Dari kiri ke kanan; John Blake, Komisaris Gordon, Batman, Bane, Cat Woman

Saya sempat bingung ketika ingin menulis ulasan mengenai The Dark Knight Rises ini. Bingung karena tidak menemukan bagaimana cara mengulas film ini dengan “adil”, karena apapun yang saya katakan tidak akan bisa menggambarkan bagaimana megahnya The Dark Knight Rises. Itu juga salah satu alasan mengapa saya menunda penulisan ulasan untuk film ini. Bagi saya ini adalah film super hero terbaik yang pernah ada, dan juga merupakan penutup yang sangat pantas untuk si ksatria kegelapan. Saya bisa memahami mengapa Christopher Nolan pada akhirnya mau menyutradarai lagi The Dark Knight Rises setelah ia membaca naskahnya.

Memang beberapa orang mengatakan bahwa The Dark Knight masih lebih bagus daripada The Dark Knight Rises, tapi menurut saya itu hanya karena efek “Heath Ledger” saja. Jangan salah, menurut saya Ledger memang bisa memerankan tokoh antagonis yang sangat menarik, aktingnya juga jauh lebih bagus daripada Bane di The Dark Knight Rises. Tapi secara keseluruhan saya tetap menganggap The Dark Knight Rises ini lebih baik daripada The Dark Knight, terutama karena endingnya yang benar-benar sempurna. Ok langsung saja kita bahas film ini lebih lanjut, seperti biasa, ini adalah peringatan SPOILER bagi yang belum melihat filmnya.

Sebelumnya saya harus mengakui satu hal, saya belum pernah membaca komik Batman barang satu halaman pun. Tapi sebagai seorang jurnalis dan gamer saya cukup mengenal karakter Batman dan dunianya, entah itu lewat penelitian, menonton serial TV, atau lewat berbagai game yang pernah saya mainkan. Oleh karena itulah saya sedikit kecewa ketika melihat bagaimana Christopher Nolan memutuskan untuk menampilkan Bane. Sebagai satu-satunya orang yang berhasil “mematahkan” Batman (The Man Who Broke the Bat), Bane di the Dark Knight Rises ini kurang garang, baik dari segi kekuatan fisik maupun pikiran. Mungkin karena akting yang kurang baik, atau mungkin karena penutup mulut konyol yang selalu ia pakai, tapi yang pasti, menurut saya Bane tidak lebih dari penjahat suruhan dengan akses Rusia yang konyol.

Diluar Bane, salah satu masalah utama dari The Dark Knight Rises ada pada plot hole dan juga pemeran utama yang kalah menarik jika dibanding pemeran pembantunya. Saya jauh lebih tertarik melihat kepandaian John Blake dalam mengungkap kasus dan berbagai misteri yang ada, dibanding melihat Bruce Wayne yang selalu cemberut, dan tidak bisa melupakan peristiwa yang terjadi delapan tahun lalu. Bukankah Batman seharusnya adalah seorang detektif kawakan dan juga super hero? Kenapa justru sekarang seorang polisi baru bernama John Blake (karakter baru yang bahkan tidak pernah ada di versi komik dari Batman) yang mengambil alih peran ini? Ironisnya, hal ini juga menjadi salah satu nilai lebih dari The Dark Knight Rises. Justru karena akting yang memukau dari Joseph Gordon-Levitt inilah, ending dari The Dark Knight Rises benar-benar terasa pas. Bukan tidak mungkin nantinya akan ada komik ataupun film layar lebar baru dimana John Blake akan menjadi karakter utamanya.

Mengenai plot hole, jangan ditanya lagi deh, walaupun sudah berdurasi 2,5 jam, tapi tetap saja banyak hal-hal yang terasa tidak dijelaskan dengan benar. Seperti bagaimana caranya Bruce Wayne, yang sudah dalam kondisi bangkrut, bisa kembali ke Gotham yang sudah dikepung dari segala sisi, dari penjara yang terletak di luar negeri. Atau bagaimana Bruce Wayne bisa memakai kostum Batman ketika ia kembali ke Gotham sebelum ia bertemu dengan Lucius Fox dan mengakses tempat penyimpanan rahasia. Apakah Bruce Wayne menyimpan kostum Batman di berbagai tempat di luar Gotham? Lebih lucu lagi, kenapa tidak ada musuh yang mencoba menghalangi Gordon ketika ia mencoba masuk ke dalam trailer untuk mengacak sinyal pemicu dari bomb, apakah mereka tidak bisa melihat Gordon yang bergelantungan dari atas trailer? Dan yang paling lucu adalah usaha untuk menekan tombol pemicu, sebelum Bane dan penjahat-penjahat lainnya meninggalkan Gotham. Apakah mereka berharap selamat dari ledakan nuklir dengan bermodal mukjizat?

Tapi semua kelemahan yang ada bisa ditutup dengan jalan cerita yang “lengkap”, penuh kejutan, dan dijamin akan membuat mu terharu meneteskan air mata (seperti yang saya lakukan). Saya terutama sangat menyukai bagaimana Christopher Nolan mampu menyajikan The Dark Knight Rises seperti sebuah Kaiseki (hidangan lengkap masakan Jepang, yang terdiri dari 14 masakan). Mulai dari kedamaian palsu sebagai hidangan pembuka, bangkitnya musuh “lama” sebagai pembangkit selera, kembalinya tokoh utama sebagai hidangan utama pertama, badai permasalahan dan kekalahan tokoh utama sebagai hidangan utama kedua, bersatunya kekuatan baik untuk mengalahkan kejahatan sebagai hidangan penutup, dan arti sesungguhnya dari super hero sebagai pencuci mulut yang manis.

Hal lain yang membuat saya menyukai film ini adalah gaya pensutradaraan Christopher Nolan, yang kali ini mirip dengan bagaimana ia membuat The Prestige. Walau alur cerita dari The Dark Knight Rises tidak semimbingungkan dan melompat-lompat seperti The Prestige, tapi berbagai kilas balik, dan juga plot twist yang ada benar-benar membuat saya teringat akan The Prestige. Ada perasaan puas dan semacam pencerahan ketika pada akhirnya berbagai misteri dan juga flash back yang diceritakan di The Dark Knight Rises menyatu menjadi sebuah gambaran yang lengkap. Seolah-olah Anda berhasil menyelesaikan sebuah jigsaw puzzle dengan jutaan keping.

Lalu bagaimana dengan akting, adegan aksi, dan juga spesial efek yang digunakan? Untuk aksinya, seperti yang sudah saya katakan di atas, Joseph Gordon-Levitt mampu menampilkan karakter baru, John Blake, dengan sangat memukau, dan Anne Hathaway memerankan Cat Woman jauh lebih baik daripada Halle Berry. Tapi di luar itu tidak ada penampilan yang layak mendapat perhatian lebih. Adegan aksi dan juga spesial efek yang ada juga tidak bisa dibilang spesial. Yang jelas Avengers jauh lebih baik dalam sisi ini. Tapi dari awal saya memang tidak pernah berharap Batman untuk menampilkan aksi yang sama dengan The Avengers.

Akhir kata, saya sangat menyarankan Anda untuk melihat film layar lebar ini, jangan sampai Anda menyesal karena tidak melihatnya di bioskop. Banyak sekali pesan-pesan moral yang bisa kita ambil dari The Dark Knight Rises. Salah satu yang paling suka adalah mengenai bagaimana ketakutan adalah pendorong kesuksesan yang paling kuat, dan bahwa tanpa rasa takut seseorang justru tidak bisa berusaha dengan maksimal. Kuncinya adalah bagaimana mengubah rasa takut menjadi kekuatan pendorong dan bukan tenggelam didalamnya. Dan saya tidak membesar-besarkan mengenai ending mengharukan yang saya ceritakan di atas. Mata saya sempat sembap dengan air mata, bukan karena pengorbanan yang dilakukan tapi karena arti sesungguhnya dari The Batman. Pada akhirnya Batman memang hanyalah sebuah simbol, dan walaupun memang legenda Bruce Wayne berakhir disini, bukan tidak mungkin nantinya Christopher Nolan akan menggarap trilogi Batman lainnya.


SHARE
Previous articleThe Expendables 2 Featurette
Next articleHarga Untuk Menjadi Seorang Iron Man dan Batman!
Seseorang yang awalnya ingin menjadi seorang teknokrat namun justru berkecimpung di dunia game. Penggemar Jessica Alba dan Alexis Bledel yang memiliki spesialisasi di antaranya dalam bidang Anime, Game, RPG, Game Design, Manga, Movie dan Trading Card Game. Saat ini mendapat posisi sebagai Managing Editor ZIGMA dan OMEGA serta Lead QA I Play All Day Studio.