Batman dan Joker Beraksi di Tutur Tinular

Serial Sandiwara Radio Tutur Tinular

Belakangan ini Tutur Tinular kembali beken. Sebagai seorang yang bergelut di industri kreatif bidang intellectual property, tentu saja saya menyambut dengan sangat antusias. Namun ternyata kepopuleran kisah legendaris ini karena menjadi bahan olok-olok di dunia maya. Ada Batman, Joker, Penguin, bahkan sampai Gundam!! Eit, tapi sebelum mem-bash Tutur Tinular, kita tengok dulu sejarahnya.

Tutur Tinular awalnya adalah sebuah sandiwara radio legendaris yang memiliki nilai lokal prestisius. Sandiwara radio yang pertama kali disiarkan pada 1 Januari 1989 ini diciptakan oleh S. Tidjab. Mengisahkan tentang perjalanan hidup dan pencarian jati diri seorang pendekar yang berjiwa ksatria bernama Arya Kamandanu yang hidup di masa runtuhnya Kerajaan Singhasari dan berdirinya Kerajaan Majapahit. Kesuksesan Tutur Tinular membuatnya dipancarluaskan lebih dari 512 stasiun radio di seluruh Indonesia, yang tergabung dalam Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia PRSSNI. Tak berhenti di sana, Tutur Tinular juga beberapa kali diangkat ke layar lebar di akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an.

Masa keemasan Tutur Tinular, syuting di Tembok Besar Cina.

Ketika perfilman Indonesia mati suri, Tutur Tinular pun hijrah ke layar kaca. Awalnya sih, ceritanya masih ikut pakem yang sesuai dengan sandiwara radionya. Namun begitu beralih ke Tutur Tinular 2011 dan 2012, segalanya menjadi… kacau balau.

Kalau di sinetron sebelumnya Tutur Tinular ditayangkan seminggu sekali, maka sejak tahun 2011 kisah ini tayang tiap hari dengan durasi selama dua jam. Bisa dibayangkan proses produksinya (penulisan naskah, syuting, editing, dsb). Karena hal itu juga, ceritanya jadi melenceng jauh dari pakem asal yang sarat dengan kejadian-kejadian sejarah. Tutur Tinular versi 2011 lebih menonjolkan kisah percintaan dan konflik dalam keluarga, dengan selingan lagu dangdut seperti halnya film Bollywood India, serta bermunculan tokoh-tokoh baru yang tidak ada dalam versi aslinya. Sebut saja Respati dan Laksmi yang merupakan tokoh cerita Saur Sepuh karya Niki Kosasih; kemudian juga ada Krishna, Arimbi, dan tokoh-tokoh dari epos Mahabharata; disusul Gerandong dan Mak Lampir dari cerita Misteri Gunung Merapi.

The Dark Knight Rises?
Dulu saya hidup di Gotham, setelah berobat ke Klinik Tong Seng saya muncul di Tutur Tinular. Terima kasih, Tong Seng.
Tampaknya bakal jadi musuh baru Batman yang keren!

Seolah belum cukup mengaduk-aduk kisah Tutur Tinular, Genta Buana Paramita selaku produsen seri ini, juga ikut menghadirkan tokoh-tokoh yang tidak berhubungan sama sekali dengan tokoh sejarah maupun tokoh Indonesia. Dimulai dari Wong Fei Hung, tokoh sejarah pahlawan Kung-Fu; lalu Pahlawan Bertopeng (emang ini Crayon Shinchan?); disusul dengan tokoh super hero, Batman, beserta musuh bebuyutannya Joker, bahkan belakangan Penguin juga ikutan; dan yang menggegerkan akhir-akhir ini adalah kemunculan Gundam!

Edit: Ralat, saya baru mendapat info bahwa Gundam tidak muncul di Tutur Tinular, melainkan Hikayat Ali Baba.

Why So Serious?!
Bukan Danny DeVito
Mobile Suit Gundam

Selain tokoh-tokohnya campur aduk dan alurnya yang sangat kacau, cerita Tutur Tinular ini juga dianggap sangat tidak manusiawi dan tidak logis. Banyak hal-hal yang tidak lazim dan kejadian yang di luar nalar bermunculan. Contohnya adalah adanya tokoh dari benda-benda mati, seperti siluman Sepatu, Wayang, Buah Kelapa, dan lain-lain, yang semuanya bisa berbicara dan melakukan sesuatu layaknya manusia. Berbagai macam binatang seperti Marmut, Anjing, Kucing, Burung, Ikan dan lain-lain juga berbicara. Lebih menjijikkan lagi ketika tongkat Mak Lampir dan siluman Asap berpacaran, bahkan kemudian bisa hamil.

Ini sangat menyedihkan. Bagaimana mungkin Genta Buana Paramita diijinkan mengobrak-abrik suatu mahakarya hebat yang dulunya menjadi favorit generasi orang tua kita? Karena hal ini Tutur Tinular akan dikenang sebagai sinetron gado-gado yang tidak mendidik. Eh, padahal saya belum ngomong soal moral value di dalamnya.

Saya yakin Tutur Tinular versi 2012 ini juga sudah banyak dihujat di tempat lain, jauh-jauh hari sebelum saya menulis artikel ini. Saya juga yakin para eksekutif di Genta Buana Paramita juga menyadari hal ini. Yang bikin emosi, mereka tampaknya adem ayem aja. Yang penting sinetron ini ratingnya masih tinggi, dipenuhi banyak iklan, dan terus dibahas di mana-mana (termasuk social media dan Duniaku.net). Ini memprihatinkan sekali. Apalagi kalau mengingat makna dari judul Tutur Tinular yang berarti “Nasihat atau petuah yang disebarluaskan untuk kebaikan.”