Jelajah Tokyo: Shibuya

    Melanjutkan rubrik khusus Jelajah Tokyo, kali ini saya akan mengajak ke Shibuya. Distrik ini sangat popular di kalangan Tokyoites muda sebagai pusat makan dan belanja. Shibuya juga dipopulerkan oleh game The World Ends With You-nya Square Enix.

    Kata banyak orang, mengunjungi Tokyo belum afdol kalau belum menyeberangi Shibuya Crossing. Saya pun menyempatkan diri ke Shibuya, hanya untuk menyeberangi persimpangan lima arah untuk pejalanan kaki dan mobil. Ini adalah persimpangan jalan terpadat di dunia. Sewaktu saya sampai di Shibuya, cuacanya mendung dan sedikit gerimis. Meski demikian Shibuya Crossing tetap saja penuh sesak. Sayang saya dilarang untuk berhenti dan berfoto di tengah penyeberangan.

    Shibuya Crossing yang fenomenal

    Shibuya Crossing ini juga dikenal karena Hachiko. Hachiko adalah nama anjing yang menjadi simbol loyalitas. Dikisahkan anjing ini selalu menemani tuannya menyeberang Shibuya Crossing. Hachiko juga menjemput tuannya ketika pulang dari bekerja di penyeberangan ini. Namun suatu ketika, tuannya meninggal dunia ketika bekerja. Hachiko yang setia, selalu menunggu sang tuan yang tak kunjung datang. Ia menunggu tiap hari selama 11 tahun. Kisah luar biasa ini kemudian diangkat oleh surat kabar setempat. Hachiko menjadi sangat terkenal.

    Patung Hachiko menjadi meeting point

    Untuk menghormati loyalitas Hachiko, pemerintah membuatkan patungnya di tahun 1934. Hachiko masih hidup ketika itu, dan turut hadir ketika patung itu diresmikan. Hachiko meninggal setahun kemudian. Namun kisahnya terus diceritakan sebagai simbol loyalitas. Patung Hachiko sendiri menjadi landmark terkenal di Shibuya, dan disebut-sebut sebagai meeting point.

    Saya berada di mural Hachiko

    Tempat lain yang perlu dikunjungi ketika berada di Shibuya adalah Center Gai. Ini adalah jalan sempit di sisi kiri dari layar video raksasa Shibuya Crossing. Dikatakan kalau di sini adalah tempat lahirnya fashion anak muda Jepang. Center Gai dipenuhi oleh toko fashion, toko musik, dan arcade center, yang sekarang banyak beralih fungsi menjadi pachinko.
    Kalau kamu suka anime dan manga, jangan lupa untuk mampir ke Mandrake. Toko masif ini didedikasikan sepenuhnya untuk manga, anime, dojinshi, hentai, figurine, dan laian sebagainya. Kalau ada waktu, sempatkan juga menengok NHK Studio Park. Ini adalah gift shop dengan koleksi yang sangat menarik.

    Seperti di Shinjuku, Musik juga mendomiasi Shibuya. Tower Records terbesar ada di distrik ini. Bahkan katanya ini adalah toko rekaman terbesar di dunia. Tower Records di Shibuya ini tidak hanya menjual musik, namun juga ada majalah dan buku di lantai atas.

    Hal lain yang sangat menarik di Shibuya adalah love hotel. Di sini ada belasan love hotel dengan harga rata-rata ¥10,000 untuk menginap semalam. Sayangnya saya belum sempat menginap di love hotel, jadi tidak bisa memberikan ulasan lebih dalam.

    Setelah Shibuya, saya akan mengajak jalan-jalan ke Harajuku. Stay tuned!

    SHARE
    Previous articleHalo 4 Mode Multiplayer Baru
    Next articleWreck-It Ralph, “When the Arcade Closes, the Fun Begins”
    Mengawali karier menulisnya pada tahun 1997 sebagai kontributor rubrik game majalah Mentari Putera Harapan. Namanya mulai dikenal setelah dia turut membidani lahirnya majalah game pertama di Indonesia, Game Master. Begitu banyak majalah yang lahir dari buah pemikirannya. Sebut saja Game Master, 3D Magazine, Ultima Nation, hingga Zigma dan Omega. Tidak hanya dikenal sebagai jurnalis dan konseptor, GrandC juga seorang penulis cerita. Saat ini dia banyak disibukkan dengan pengembangan Vandaria, dunia fiksi ciptaannya.