Komunitas Papercraft, Peri !

Karya pertama salah satu anggota Peri, Ridho

JapanOverdrive merupakan salah satu event yang menurut saya cukup berhasil menarik minat para penggemar kultur Jepang. Berbagai komunitas berkumpul di acara yang di organizeoleh salah satu komunitas Jepang terbesar di Surabaya, Kojitsu. Salah satunya komunitas tersebut adalah Peri.

Peri adalah komunitas yang dibentuk karena kesamaan hobi. Hobi ini adalah papercraft. Papercraft sendiri menurut Peri, adalah pengembangan dari origami. Kalau kit a tahu origami adalah seni melopat dengan menggunakan satu lembar kertas. Nah, kalau papercraft adalah seni merakit kertas dari beberapa lembar kertas. Tidak hanya melipat, papercraft juga membutuhkan teknik memotong,membuat kurva dengan kertas, mengelem dan membentuk kertas.

Ridho, personil Peri Surabaya

Peri Surabaya merupakan cabang dari induknya yang berada di Jakarta. Menurut Ridho, salah satu punggawa di Peri Surabaya, dulu pada awal mula Peri berkumpul di Kaskus. Sedangkan yang sering mengadakan gath adalah yang berasal dari Jakarta. Nah, setelah beberapa lama akhirnya berdiri cabangnya juga di Surabaya. Dengan personil sekitar 50 orang yang aktif, mereka berkreatifitas bersama-sama membangun sebuah berbagai model papercraft dari berbagai macam tokoh-tokoh terkenal.

Papercraft Atom versi Movie

Papercraft sendiri memiliki proses dalam membuatnya. Proses ini saya sadur langsung dari brosur Peri. Langkah-langkahnya antara lain :

  1. Menyiapkan pola yang didapat dari majalah, internet, atau dari hasil membuat di software 3D.
  2. Mencetak pola pada kertas dengan ketebalan tertentu.
  3. Melakukan scoring (penandaan garis lipatan) menggunakan bolpoin kosong.
  4. Memotong pola dengan gunting atau cutter.
  5. Menggabungkan setiap potongan dengan lem sesuai dengan instruksi perakitan

Untuk langkah pertama, Citizen bisa langsung mengunduh berbagai macam pola papercraft dari situs yang direkomendasikan oleh Peri, seperti: Salazad, Paper-Replika, atau Kertasigo. Namun memungkinkan pula apabila ingin mendesain sendiri papercraft tersebut. Beberapa model sendiri yang dikerjakan Peri merupakan desain dari anggotanya yang berada di Jakarta,

Mencetak pola pada kertas dengan ketebalan tertentu berhubungan dengan berat,jenis, dan tebal dari kertas-kertas yang kita pakai. Semakin tebal dan berat kertas, maka papercraft akan semakin kokoh. Untuk membuat sebuah replika gundam setinggi kira-kira setengah badan saja, dengan menggunakan kertas seberat 200 gram. Sebagai gambaran kertas A4 biasa adalah sekitar 40-70 gram. Penggunaan jenis kertas juga menjadi salah satu pelengkap dalam papercraft. Dengan memakai kertas foto, papercraft akan terlihat lebih kinclong ketimbang hanya kertas biasa pada bagian pelapisnya.

Gundam berukuran setengah badan manusia

Ridho, mengakui dirinya lebih suka mendesain mecha. Sedangkan anggota lain dari Peri adapula mendesain karakter-karakter anime dan kartun. Meskipun terlihat lebih rumit, bisa menghabiskan waktu 4 bulan dalam membuat satu mecha, dengan catatan ukuran mecha adalah setengah badan manusia. Namun hal tersebut tidak menghalangi minat para anggotanya dalam membuat papercraft.

Selain komunitas papercraft, saya juga sempat menyaksikan aksi dari Vocapost Surabaya, sebuah forum berkumpulnya penggemar Vocaloid. Hal yang mengejutkan adalah mereka ternyata telah menerbitkan album dengan dibawahi label asli dari Jepang! Nantikan artikel wawancara saya dengan salah satu produser Vocaloid di Surabaya minggu depan.