Masa Depan Industri Game Ada di Tangan Mobile Gaming?

Jawaban atas pertanyaan judul artikel ini sebenarnya sudah ada, walaupun belum 100%. Apa benar industri game konsol makin dipengaruhi perkembangan game mobile? Satu yang pasti, Nintendo mengakui jika penjualan mereka menurun karena iPhone. Bagaimana dengan yang lain?

Efek Perubahan Minat Gamer, Kini Industri Game Konsol Terancam?

Perubahan besar memang sedang terjadi pada industri game. Meskipun melihat kenyataan tiga contoh di atas, pasar game konsol masih menguntungkan, akan tetapi penurunan penjualan retail video game konsol yang akhir-akhir ini terlacak jelas menjadi satu gosip panas di mata para analis dan khususnya kalangan internal developer yang bertanya-tanya bagaimana masa depan mereka di dunia game konsol. Apalagi setelah melihat sebuah “raksasa” industri game di Amerika seperti THQ yang didukung dengan dana sangat besar saja juga bisa roboh karena perubahan, tren angka penjualan game konsol yang cenderung menurun.

Pada tahun 2008, penjualan retail video game di Amerika Serikat saja mencapai US $21 milyar. Namun sepanjang 2012 lalu, angka tersebut turun menjadi hanya US $13 milyar. Sepertinya di Amerika Serikat penjualan video game, baik hardware dan software-nya akan tetap lambat sampai akhir tahun ini, sampai konsol terbaru dari Sony dan Microsoft, yaitu PlayStation 4 dan Xbox 720 (nama sementara) dirilis nantinya. Tren menurunnya game konsol tersebut juga sudah diprediksi sejak tahun lalu, karena lambatnya perkembangan hardware, pasar jadi cepat merasa bosan disuguhi model permainan yang sama, dan sekarang sedang menunggu hardware yang baru melalui PlayStation 4 dan Xbox 720.

Dan meskipun ada hardware baru, tantangan akan tetap eksis. Bisa dilihat bagaimana angka penjualan Wii U yang ternyata juga tidak sesuai dengan prediksi Nintendo. Melalui laporan keuangannya yang diungkapkan akhir April 2013 lalu, Wii U ternyata baru terjual 3.45 juta unit di seluruh dunia hingga 31 Maret kemarin (sejak dirilis 18 November 2012), di bawah proyeksi awal 4 juta unit, atau juga jauh dari rencana awal 5.5 juta. Kenyataan tersebut membuat Nintendo merevisi proyeksi keuntungan mereka setahun kedepan menjadi hanya separuhnya saja. Kinerja konsol baru Nintendo yang mengecewakan berujung pada banyak kritik investor yang mempertanyakan masa depan Nintendo, bahkan ada yang menuduh Wii U justru mempersulit Nintendo.

Melalui Wii U, Nintendo yakin bisa melanjutkan magic mereka yang berhasil dengan Wii-mote, kontroler nirkabel bersensor gerak yang sukses melahirkan tren gameolay baru. Namun ternyata mereka salah, atau setidaknya kini dengan kontroler baru mirip tablet yang disebut GamePad, masih belum maksimal diterima (atau diketahui dan dirasakan) oleh pasar game. Masalahnya di sini, pasar yang dituju oleh Nintendo adalah pasar game casual. Satu pasar yang kini justru banyak ditemui di banyak tempat, mulai dari ruang tunggu doker sampai di dalam toilet, entah oleh anak-anak sampai orang dewasa, menggunakan smartphone atau tablet mereka bermain game-game mobile. Masalah bertambah pelik ketika juga banyak tipikal gamer yang sebelumnya cukup hardcore juga beralih ke ranah casual gamer. Dan akhir April lalu Nintendo juga mengakui jika statistik handheld mereka beberapa tahun belakangan memang tidak sebaik sebelum revolusi mobile gaming terjadi. Mereka yakin jika iPhone sudah “memakan” cukup banyak jatah kuenya.

Itu tadi cerita di bagian lain Bumi. Bagaimana dengan di Asia, Jepang khususnya, yang menjadi “markas” dua pemain utama industri video game. Berdasarkan data media Jepang Enterbrain, sepanjang tahun 2012 memang pasar video game Jepang tumbuh menjadi US $4.6 milyar. Pertumbuhan ini pun juga menjadi catatan positif, karena selama 5 tahun belakangan pasar video game di Jepang selalu mengalami penurunan. Akan tetapi tren peningkatan ini juga diikuti fakta lain yang tidak kalah mengkuatirkan di mata para perusahaan game konsol di Jepang.

Berdasarkan laporan Yano Research pada bulan Januari 2013 lalu, pasar game sosial di Jepang pada tahun 2012 sudah tumbuh dengan nilai mencapai US $4.3 milyar. Memang masih di bawah angka pasar video game konsol dan handheld di Jepang, namun angka tersebut dicapai game sosial dengan sangat cepatnya antara tahun 2011 dan 2012 lalu. Sosial game sendiri mencakup permainan game melalui smartphone dan tablet, yang mempermudah interaksi dengan gamer lainnya melalui aspek sosial. Salah satu platform social game yang lagi heboh saat ini adalah social messaging seperti LINE, KakaoTalk dan WeChat yang sudah kami ulas di artikel sebelumnya.

Berhubungan dengan perkembangan game sosial di Jepang yang membutuhkan akses selalu online, faktor lain yang menyumbang penurunan penjualan game retail adalah makin diterimanya transisi pemasaran game dari fisik ke digital, dan berbagai layanan online (dengan banyak sisipan unsur jejaring sosial) yang ditawarkan produsen game untuk makin menjaring banyak gamer membeli dan mendapatkan game mereka secara download. Penjualan digital download memang menguntungkan industri game (untuk konsol dan handheld pertumbuhannya digital download tahun lalu mencapai 16%), karena developer tidak terbebani biaya pemasaran yang mahal. Namun harga game digital yang lebih murah juga masih belum bisa mengimbangi cepatnya penurunan angka penjualan retail akhir-akhir ini.

Ditambah lagi juga makin banyak publisher yang memilih strategi memasarkan gamenya secara free-to-play (dengan dukungan fitur atau item yang harus dibeli untuk melengkapi permainan), penulis memprediksi bakal makin cepat mengkanibal penjualan software retail di masa depan. Satu yang mungkin membantu adalah mekin mengecilnya fragmentasi platform game, dengan PlayStation 4, Xbox 720 dan Personal Computer yang kini dibangun dengan arsitektur hardware yang serupa. Namun entah sampai kapan keseragaman hardware tersebut membantu atau meningkatkan kembali penjualan game konsol.

Lanjut ke halaman 3…

TENTANG PENULIS
Ura

Telah dikenal sejak satu dekade yang lalu melalui media game Ultima Nation. Saat itu artikel andalannya adalah panduan walktrough game-game RPG. Ura kemudian juga semakin dikenal lewat tulisannya yang idealis dan selalu konsisten pada satu aspek game, yaitu STORY - yang olehnya dianggap sebagai backbone sebuah game. Selain menggeluti dunia game, Ura juga penggemar gadget, dan dia memiliki hobi "ngoprek" smartphone.