PlayStation 4 vs Xbox One, Mana Yang Lebih Baik Untuk Gamer?

Ajang Electronic Entertainment Expo 2013 menjadi awal dibukanya perang terbuka dua konsol baru yang rencananya akan dirilis akhir tahun nanti, PlayStation 4 dan Xbox One. Memang masih jauh, namun kami mencoba membandingkan keduanya, dan menyimpulkan mana yang terbaik untuk menjadi incaran gamer sejati.

Arsitektur Memory dan Sistem Operasi – X1

Menurut Microsoft, mereka melihat kebutuhan memory untuk game dewasa ini, dan juga game yang akan datang, sudah cukup dengan 5GB RAM saja, maka game sudah bisa dijalankan dengan baik. Namun ternyata Microsoft memilih 8GB. Bukan agar X1 bisa setara dengan PS4 (meskipun mereka memilih DDR3 dengan latency rendah, bukan GDDR5 seperti pada PS4, yang jelas memiliki bandwitdh besar), namun justru disesuaikan dengan kebutuhan adanya dua sistem operasi yang diterapkan Microsoft ke dalam X1.

PS4 di atas kertas lebih unggul. Sony memilih core GPU yang lebih tinggi (1152 vs 768), berapa banyak shader yang bisa diproses (1.84 TFLOPS vs 1.23 TFLOPS), dan penerapan memory GDDR5 pun menghasilkan bandwidth yang cukup tinggi (176.0 GB/s vs 68.3 GB/s). Dengan memilih 8GB GDDR5, yang dibagi untuk keseluruhan sistem, Sony menerapkan konfigurasi termudah yang bisa langsung dimanfaatkan developer, dan fokusnya adalah untuk kalkulasi grafis (GDDR5 dengan bandwidth tinggi memang lebih baik untuk kebutuhan grafis). Sedangkan Microsoft memilih GDDR3 bukan tanpa alasan, karena memang jenis memory tersebut memiliki latency rendah, cocok untuk pengoperasian sistem yang lebih kompleks.

Mana yang lebih baik? Antara bandwidth dan latency bisa dianalogikan dengan sebuah jalan. Ada jalan yang 1 jalur, ada yang 2 jalur dan seterusnya. Makin banyak jalurnya, maka makin banyak kendaraan yang bisa lewat. Sedangkan latency kita analogikan dengan kecepatan kendaraan yang lewat. Jadi GDDR5 masuk pada jalanan dengan banyak jalur. Namun memory ini bermasalah dengan tingginya latency, sehingga proses (ketika CPU dan GPU untuk meminta data mendapatkannya kembali) tidak bisa cepat di teruskan melalui memory tersebut (dibandingkan GDDR3), dan itu kurang cocok untuk kinerja umum CPU. Namun arsitektur PS4 menempatkan CPU dan GPU pada satu die, dan seharusnya masalah latency bisa diminimalkan. Masalah Sony lainnya, GDDR5 lebih mahal dari GDDR3.

Singkatnya, bandwitdh yang 2.5x lebih cepat dari X1 tersebut berarti ada banyak data bisa diambil dari RAM, diproses oleh CPU (atau khusus untuk arsitektur baru ini, digunakan oleh Compute Units pada GPU), dan kemudian dikirimkan kembali ke RAM untuk diproses kembali atau dirender. Dan jika untuk keseluruhan proses tersebut bisa sekaligus banyak data dijalankan, seharusnya itu lebih baik untuk developer.

Sedangkan GDDR3 memiliki latency rendah, dan meskipun jalurnya kecil, namun dia lebih sigap meneruskan perintah yang melalui memory tersebut. Kemudian Microsoft sendiri membagi 8 GB tersebut untuk dua kebutuhan. Ada 5 GB dioptimalkan untuk game (non-share) dan 3 GB untuk aplikasi dan OS. Dengan pembagian yang adil dan sudah distandarkan tersebut, Microsoft berusaha menjamin sistem mereka tetap berjalan dengan baik, tanpa lag. Efeknya developer game tidak mendapat akses memory sebesar PS4.

Dengan X1 yang memiliki dua virtual machine (VM) yang berjalan bersamaan (satu untuk game, satu unuk aplikasi lainnya), dan antara kedua jendela yang mengoperasikan keduanya bisa di-switch begitu cepatnya (disebut Snap Mode), Microsoft merasa 3 GB untuk sistem dan OS sudah cukup untuk menjaga konsol game mereka minim lag selama melakukan aktifitas multi-tasking.

Jadi apakah untuk urusan memory, X1 juga tidak sebaik PS4? Tidak juga, karena Microsoft memberikan sRAM khusus untuk mendukung GPU-nya. Dengan sRAM 32 MB dan bandwitdh hingga 102 GB/s, diharapkan bisa mendukung proses game yang membutuhkan kinerja grafis lebih, secara alokasi memory sistemnya hanya 5 GB saja.  Jika sRAM tersebut akan sering digunakan selama kebutuhan gaming, maka sebenarnya X1 memiliki total bandwidth memory mencapai 168GB/s.

Hanya saja solusi Microsoft tersebut lebih rumit untuk diterapkan developer (dan 32MB itu saja bisa dikatakan terbatas), walaupun menurut kami, adanya dua OS khusus akan menunjang banyak pengembang aplikasi bisa mendesain aplikasi khusus untuk X1 ke depannya nanti. Dan standar 5 GB untuk game juga bisa menjadi patokan bagi developer ketika mengembangkan game untuk X1, tidak perlu mereka berpikir apakah mau mengoptimalkan keseluruhan jatah RAM seperti pada PS4 dengan total 8 GB (atau 7 GB, karena 1 GB disebut-sebut di-reserved untuk sistem).

Overall, arsitektur X1 didesain untuk beragam variasi, tidak sebatas game saja, terutama akan maksimal untuk implementasi dengan platform Microsoft lainnya (khususnya Windows 8 dan Windows Phone 8). Sejauh ini selain layanan streaming seperti Netflix, Hulu Plus, YouTube, hingga Vimeo yang bisa dijalankan di X1, kamu juga bisa menjalankan aplikasi semacam Facebook dan juga Internet Explorer (PS4 pun juga bisa melakukannya).

Baca: “Serangan Gabungan” Xbox One dan Windows 10 Ini Bisa Bikin PlayStation 4 Kerepotan!

Lanjut ke halaman 9…

TENTANG PENULIS
Ura

Telah dikenal sejak satu dekade yang lalu melalui media game Ultima Nation. Saat itu artikel andalannya adalah panduan walktrough game-game RPG. Ura kemudian juga semakin dikenal lewat tulisannya yang idealis dan selalu konsisten pada satu aspek game, yaitu STORY - yang olehnya dianggap sebagai backbone sebuah game. Selain menggeluti dunia game, Ura juga penggemar gadget, dan dia memiliki hobi "ngoprek" smartphone.