Kontroversial, Ini 6 Bukti Anak Jalanan Harus Segera Dihentikan!

anak jalanan dihentikan

Anak Jalanan harus dihentikan! Inilah bukti nyata mengapa sinetron unggulan RCTI tersebut wajib dihilangkan dari muka bumi.

Dunia pertelevisian Indonesia saat ini sepertinya sedang mengalami penurunan kualitas. Pasalnya, stasiun televisi banyak didominasi oleh tayangan-tayangan yang ‘merusak’ moral. Salah satu tayangan yang kerap mendapat kecaman adalah sinetron Anak Jalanan yang tayang setiap hari di stasiun RCTI.

Bukan hanya sekali, Anak Jalanan sepertinya sudah kenyang dengan teguran KPI (Komisi Penyiaran Indonesia). Kendati demikian, sinetron ini nyatanya masih mengudara hingga hampir menyentuh 700 episode dengan rating 3 teratas. Bukannya berbenah diri, tim produksi nyatanya masih santai mempertontonkan adegan kontroversial dalam tayangannya sehingga patut untuk dihentikan. Berikut penulis kumpulkan bukti mengapa sinetron Anak Jalanan harus dihentikan.

1

anak jalanan dihentikan
Tiga orang perempuan berseragam sekolah terlihat sedang adu mulut dengan Jordy, salah seorang anggota geng Serigala. Salah satunya marah karena motor Jordy menghalangi mobilnya. Beberapa saat kemudian, datang Adam dengan gaya tengilnya berusaha untuk memberi pelajaran kepada Jordy. Perkelahian pun tak bisa terelakkan lagi.
Mengapa harus ada perkelahian gara-gara masalah sekecil itu? Apakah sebuah masalah harus selalu diselesaikan dengan otot? Tidakkah para tim produksi berpikir lebih jauh soal dampak yang akan memengaruhi para penonton yang didominasi anak usia tanggung? Bukankah sudah selayaknya Anak Jalanan dihentikan?
2

anak jalanan dihentikan
Dalam sinetron Anak Jalanan yang tayang pada 8 Januari 2016, terdapat adegan ‘perang’ yang melibatkan geng motor pimpinan Boy vs geng Black Cobra. Pertarungan tersebut terjadi lantaran Abah Rama hilang. Dalam adegan berdurasi 4 menit itu, Boy digambarkan sebagai pahlawan yang berani melawan ketua geng Black Cobra.
Isu geng motor memang menjadi benang merah dalam sinetron produksi SinemArt tersebut. Hal ini tentu saja tidak sejalan dengan program pemerintah yang berusaha menumpas geng motor yang kerap meresahkan masyarakat. Ditambah lagi, unsur kekerasan selalu ditonjolkan dalam setiap episodenya. Haruskah anak-anak menonton perilaku barbar semacam itu secara kontinu?
3

anak jalanan dihentikan
Bukan hanya laki-laki yang berkelahi, dalam sinetron Anak Jalanan para perempuan pun ikut-ikutan berkelahi. Hal tersebut tergambar jelas dalam episode yang tayang tanggal 26 September yang lalu. Adegan dibuka dengan karakter Raya yang tengah asyik sendirian di toilet kampus, tak lama Bella datang sambil menyunggingkan senyum sinis. Rupanya ia bermaksud untuk membicarakan perihal Mondy yang ‘direbut’ oleh Raya. Merasa tak terima, Raya pun membalas tudingan Bella hingga terjadi percekcokan. Mereka bahkan sempat terlibat adu fisik sebelum akhirnya dilerai oleh para seniornya.
Sebagai pemegang rekor sinetron dengan rating tertinggi, Anak Jalanan tentu memiliki jumlah penonton yang tidak sedikit. Penontonnya sendiri mayoritas berasal dari kalangan anak remaja tanggung berjenis kelamin perempuan. Sejatinya, pada usia remaja, anak-anak membentuk perilaku dan sikap lewat sesuatu yang biasa mereka lihat. Bisa dibayangkan apa jadinya bila mereka terlalu banyak terpapar oleh tayangan bermutu rendah seperti ini. Tanpa bimbingan orang tua, bukan tak mungkin angka perkelahian antar perempuan akan meningkat di masa depan.
4

anak jalanan dihentikan
Ironis, judul tersebut dikeluarkan RCTI untuk penayangan bulan Ramadhan. Pada saat itu, Reva yang diperankan oleh Natasha Wilona terlihat memarkirkan motor gedenya di pinggir jalan bersandingan dengan Boy yang diperankan oleh Stefan William. Sambil duduk di atas motor masing-masing, mereka mengobrol sambil sesekali menggoda satu sama lain dengan manja. Adegan tersebut tentu terkesan lucu karena jelas-jelas dilakukan di pinggir jalan yang banyak dilewati oleh masyarakat.
Lewat adegan ‘manja-manja’ tersebut, secara tidak langsung Reva dan Boy mencontohkan gaya berpacaran yang menurut mereka wajar. Tak ayal, pemerintah melalui KPI dibuat geram dengan deretan adegan yang muatannya tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Efek adegan ini pun sudah dapat dilihat di media sosial. Beberapa anak baru gede dengan santainya mengunggah kemesraan bersama ‘pacar’nya. Salah satunya bahkan terang-terangan memamerkan foto ciuman dengan tagar #UdahKayaBoydanReva. Jika Anak Jalanan terus ditayangkan, harus berapa remaja lagi yang bakal menjadi korban kerusakan moral?
5

anak jalanan dihentikan
Dalam video cuplikan berdurasi 5 menit tersebut, terlihat teman-teman Boy dan Reva yang tengah membicarakan perihal rencana ‘iseng’ mereka pada Adriana.  Akhirnya mereka menelepon ibu Boy untuk meminta foto Boy dan Reva saat menggunakan baju pengantin. Foto tersebut rencananya akan dikirim bersama undangan pernikahan palsu kepada Adriana. Mereka berharap Adriana terjebak sehingga bisa mereka kerjai.
Cuplikan sinetron Anak Jalanan yang tayang pada 30 September 2016 ini memperlihatkan tipikal scene dalam sinetron Indonesia. Jika diperhatikan, banyak sekali sinetron Indonesia yang mempertontonkan tokoh antagonis dengan sejuta rencana jahatnya. Parahnya lagi, dalam sinetron ini sutradara sepertinya mengambil langkah “anti-mainstream” yang membuat tokoh protagonisnya juga ikut-ikutan jahat.
Sungguh menyedihkan jika mengingat tokoh ibu dalam adegan tersebut juga membenarkan rencana jahat yang dibuat oleh teman-teman Boy dan Reva. Pertanyaan sama juga untuk para ibu yang hobi menonton sinetron, mengapa masih membiarkan tayangan seperti ini mencapai rating tertinggi? Tidakkah mereka takut anak-anaknya akan meniru perlakuan Boy cs?
6

anak jalanan dihentikan
Alangkah lucunya negeri ini. Dalam sinetron yang ditayangkan pada jam prime-time, anak-anak dipaksa untuk menonton adegan semacam ini.
Berlatar taman sekolah, Boy berkeluh kesah kepada seorang temannya tentang masalah keuangan yang tengah dihadapi ibunya. Untuk menutupi utang ibunya kepada Adriana, Boy terpaksa mencari info balapan agar mendapatkan uang.
Sebagai tambahan, utang ibu Boy kepada Adriana adalah sebesar Rp5 milyar. Kira-kira harus berapa balapan yang Boy menangkan? Tapi, masalahnya bukan di situ. Masalahnya, mengapa penulis skenario bisa-bisanya membuat adegan seperti itu? Seakan-akan balapan liar yang biasa Boy lakukan adalah suatu hal yang benar dan merupakan jalan satu-satunya untuk melunasi utang. Padahal, balapan, apalagi yang liar memiliki risiko yang tinggi. Parahnya lagi, Boy masih berstatus sebagai siswa SMA. Jika sinetron ini masih eksis hingga tahun-tahun ke depan, jangan heran bila nanti anak-anak SMA bebas balapan dimana-mana dengan dalih mencari ‘uang’.
7

anak jalanan dihentikan
Mondy yang tampan terjebak cinta segitiga. Secara pribadi, ia mencintai Raya, namun papanya malah menjodohkan Mondy dengan Bella. Hal itu akhirnya membuat Mondy terpaksa berpura-pura mabuk di depan papanya. Kepura-puraan itu semata-mata ia lakukan agar papa Bella membatalkan rencana perjodohannya.
Dalam butir ke-4 Pancasila, masyarakat Indonesia mengenal musyawarah untuk mencapai mufakat. Alih-alih menyelesaikan masalah secara kekeluargaan, sinetron ini malah mengajarkan cara ‘pura-pura mabuk’ untuk menyelesaikan masalah. Mabuknya boleh saja pura-pura, namun secara implisit mengajarkan bahwa mengelabui orang tua dapat dibenarkan untuk menyelesaikan masalah.
Sinetron semacam Anak Jalanan tetap ditayangkan dengan alasan mengikuti pasar. Lalu, bila Anak Jalanan dihentikan, tayangan apa yang seharusnya memenuhi layar televisi? Di sinilah peran KPI dan masyarakat sebagai konsumen berperan. Bila akhirnya Anak Jalanan dihentikan, seharusnya televisi lebih banyak lagi mengusung tema-tema mendidik dalam sentuhan modern untuk mengikuti pasar.
Bagaimana menurutmu? Setujukah bila Anak Jalanan dihentikan? Berikan pendapatmu di kolom komentar ya!
SHARE
Previous articleXiaomi Pertama dengan 23MP, Ini Keunggulan Exmor IMX318 pada Kamera Mi Note 2
Next articleTujuh Film Zombie Terseram yang Lebih Ngeri dari Resident Evil
Pecinta literasi dan penikmat musik.