Native Ad dalam Game: Mood Gamer Meningkat, Monetisasi Terangkat

Sumber: division1.ca
Sumber: division1.ca

Bagi kamu yang membuat game hanya sekadar untuk hobi semata, mungkin menyelesaikan sebuah game adalah hal yang sudah cukup untuk memuaskan hatimu. Namun, jika kamu ingin hidup dan survive dengan membuat game, tak hanya membuat game berkualitas saja yang perlu kamu pikirkan, namun juga bagaimana mendapatkan uang (monetisasi) dari game tersebut.

Berbagai cara bisa kamu lakukan untuk menguangkan sebuah game, mulai dari bayar di muka, menjual konten berbayar di dalam game (IAP), dan iklan (ad). Nah, penggunaan iklan sendiri merupakan salah satu cara yang banyak digunakan dalam industri game mobile yang saat ini sedang meroket, termasuk di Indonesia. Tak hanya dari segi konsumen, tetapi dari segi developer sendiri Indonesia memiliki peningkatkan yang sangat signifikan.

Banyak cara sebuah developer meraup keuntungan dari iklan biasanya disediakan oleh penyedia jasa jaringan iklan (ad network). Pada dasarnya, semakin banyak orang melihat atau mengeklik iklan yang ada pada game milikmu, maka semakin banyak pula uang yang kamu dapatkan.

“Kemunculan” iklan pun memiliki berbagai cara. Mulai dari interstitial ad yang muncul satu layar penuh, iklan video, iklan banner yang muncul di bagian tertentu layar, dan lain sebagainya. Cara kemunculannya pun beragam, ada game yang memunculkan iklan secara paksa dengan cara memunculkan iklan dengan tiba-tiba, ada pula yang mengiming-imingi kamu dengan bonus untuk memunculkan sebuah iklan.

Sumber: purecontent.com
Sumber: purecontent.com

Membaur dengan Native Ad

Dengan beragam tipe dan cara kemunculan (expression) tersebut, maka tak jarang iklan menjadi momok bagi gamer yang sedang bermain. Tak dapat dipungkiri memang, tak jarang iklan menjadi tembok tipis antara gamer menikmati sebuah game dan menghapus game tersebut. Walaupun begitu, tak dapat dipungkiri pula bahwa developer pun membutuhkan iklan sebagai sumber pemasukan mereka.

Lalu bagaimana caranya agar tercipta keseimbangan antara kebutuhan gamer dan developer? Mungkin native ad mampu menjawabnya.

Native advertising atau lebih sering disebut dengan native ad sendiri merupakan sebuah metode iklan yang mampu membaur dengan platform yang ditumpanginya, termasuk game. Di sela-sela acara Game Prime Surabaya 2016 yang diadakan 29 Oktober 2016 lalu, Duniaku berkesempatan untuk ngobrol dengan Erdian Tomy Malewa dan Boby Mahendra dari Freakout, sebuah penyedia layanan native ad network pertama di Asia Tenggara, yang memberikan penjelasan mengenai metode ad ini.

rolling-glory-petualangan-boci
Contoh native ad di game Boci Theme Park: Carnival yang disediakan oleh Freakout

Menurut mereka, sebuah native ad yang baik harus bisa memiliki kustomisasi yang sesuai dengan penggunanya, sehingga pengguna pun tidak merasa terusik atau terinterupsi layaknya metode iklan lain.

Kustomisasi yang mereka maksud adalah mulai dari bentuk font, warna latar, dan tampilan yang dapat disesuaikan dengan lingkungan dalam game. Tak hanya itu, iklan yang muncul pun menyesuaikan dengan target pasar sang gamer, sehingga gamer pun memiliki kemungkinan lebih besar untuk tertarik dan mengeklik iklan tersebut.

Dengan user experience yang lebih baik ketika bermain, diharapkan gamer memiliki suasana hati yang lebih baik pula. Menurut Freakout, peningkatan suasana hati atau mood akan membuat gamer cenderung lebih mudah untuk melakukan monetisasi, atau dalam hal ini mengeklik iklan yang tersedia.

Maju Tumbuh Bersama Developer

boby-freakout
Boby dari Freakout menjadi pembicara di Game Prime Surabaya 2016

Walaupun memiliki core business sebagai ad network, namun Freakout memposisikan dirinya lebih kepada “one stop shopping advisor” bagi para partnernya. Di sini para partner tidak hanya akan mendapatkan layanan ad network saja, tetapi juga bimbingan dan saran dari sisi marketing dan monetisasi juga.

Secara garis besar, Freakout ingin menjadi bagian dari pengembangan ekosistem industri game di Indonesia dengan membimbing bibit-bibit developer potensial di Indonesia, terutama dari segi monetisasi dan marketing. Untuk melakukan hal tersebut, maka Freakout akan melakukan roadshow di beberapa kota besar di Indonesia bersama dengan Duniaku.

Di sini Freakout akan membagi berbagai ilmu seputar bagaimana memasarkan sebuah game yang sesuai dengan best practice. Diharapkan, di masa depan semakin banyak developer game Indonesia yang mampu menjadikan game sebagai sumber pendapatan yang menjanjikan.

“Tak hanya ingin menuai, tapi kami juga ingin memupuk bibit yang ada,” ungkap Tomy dan Boby.

Freakout sendiri adalah sebuah penyedia layanan native ad network pertama di Asia Tenggara. Berdiri di Jepang pada tahun 2010, empat tahun kemudian perusahaan ini berhasil mendapatkan IPO pada pertengahan 2014 di Tokyo Stock Exchange. Saat ini, Freakout telah memiliki 7 kantor yang tersebar di Tokyo, Osaka, Jakarta, Singapura, Bangkok, Istanbul, dan Taipei, dengan total jumlah karyawan sebanyak lebih dari 150 orang.

Situs Resmi: Freakout


SHARE
Previous articleTernyata 5 Artis Indonesia Ini Dikenal Sebagai Otaku Sejati Loh!
Next articleGame Road to Boruto Makin Lengkap, Siap Temani Chapter Baru Manga Boruto