Seminar BEKRAF Game Prime: Cara Menulis Review Game dengan Lebih Objektif

BEKRAF Game Prime cara menulis review game

Tanggal 29 November hari Selasa kemarin acara BEKRAF Game Prime 2016 yang digelar di Balai Kartini, Jakarta Selatan akhirnya dibuka. Berlangsung selama dua hari hingga 30 November 2016, Game Prime merupakan ajang kumpul-kumpul game developer Indonesia. Seminar yang diadakan pun tidak semuanya berfokus pada pengembangan game saja, tetapi diskusi berikut melihat dunia game dari sudut pandang media.

Muhammad Fahmi, Editor-in-Chief dari Tech in Asia Games membawakan seminar cara menulis review game bertajuk “The Death of The Developer: How to Utilize Real-Life Drama To Be Your Marketing Tools.” Judulnya sendiri merupakan pelesetan dari sebuah esai yang berjudul The Death of The Author, yang mengatakan kalau dalam mengkritik karya literatur sang kritikus harus menganggap penulisnya “sudah mati” — alias, begitu terbit apapun perkataan pengarang mengenai karyanya tersebut sebaiknya tidak usah digubris.

Tentunya kalau kita berbicara soal game, maka “kritik literatur” yang muncul di dunia game adalah sebuah review atau ulasan. Sebagai salah satu bentuk cara mempromosikan atau memperkenalkan game yang diulas, dengan memakai teori tersebut maka seharusnya kita bisa membuat ulasan mengenai sebuah game secara lebih objektif dan mengundang diskusi tanpa mengetahui tujuan utama dari sang pembuat game.

BEKRAF Game Prime cara menulis review game

“Kamu bisa menjadi orang paling brengsek di dunia, […] selama game-nya bagus maka review-nya harus bilang bagus. Dan kalau kamu orang terbaik di dunia, […] kalau game-nya jelek kamu harus menerima [review]nya bilang jelek dengan pikiran terbuka,” jelas Fahmi. “Untuk review, semua harus objektif tidak perlu peduli siapa yang bikin,” tambahnya.

Tapi hal ini juga tidak hanya bisa dimanfaatkan oleh media, tetapi juga dari sisi developer sendiri. Seperti kutipan barusan, review bisa jadi sarana bagimu untuk belajar dan mengetahui pendapat konsumen mengenai game buatanmu. Fahmi juga mengingatkan akan “bahayanya” mendukung produk buatan Tanah Air terlalu besar-besaran.

Jika semua review mengenai game buatan lokal diberi nilai bagus hanya karena memiliki “cap” buatan Indonesia, maka developer pastinya tidak bisa belajar dari karya yang telah mereka buat dan industri tidak akan berkembang. Di sisi lain, developer game pun tidak boleh menyerah begitu saja jika mendapat review yang jelek.

“Media ada banyak, paling yang ngasih cuma satu lah, nggak usah dipikirin banget– tapi dipikirin juga sih,” bilang Fahmi, yang diikuti ketawa geli oleh para pengunjung.

BEKRAF Game Prime cara menulis review game

Fahmi pun melanjutkan mengenai cara menulis review game yang objektif, dengan menilai dari tiga komponen: experience, presentation, value. Experience atau pengalaman bisa diukur dari seberapa nikmat kamu memainkan game-nya, dari sisi cerita, dan banyak bug atau tidak. Presentation adalah apa yang kamu lihat dan dengar, visual (tidak harus high-definition, tapi gaya gambar yang sesuai dengan permainan juga mendukung), suara, UI dan UX. Dan terakhir value, masalah waktu dan uang. Gratis bukan berarti bagus, karena kamu harus pertimbangkan juga apakah dengan memainkan game tersebut waktumu terbuang percuma atau tidak.

BEKRAF Game Prime 2016 sendiri merupakan bentuk evolusi dari Game Developers Gathering (GDG) yang setiap tahun menjadi ajang berkumpulnya para pelaku industri game di Indonesia, menjadi salah satu event business-to-business (B2B) industri game yang terbesar di Asia Tenggara.

Game Prime 2016 sendiri merupakan proyek kolaborasi terbesar antara Badan Ekonomi Kreatif (BEKraf), Duniaku Network, Asosiasi Game Indonesia (AGI), Dicoding, GemuGemu, KotakGame, Toge Productions, GCM dan IndieGames.com. Event ini juga didukung secara penuh oleh Futurist Foundation, Yayasan Futurist Indonesia dan GCM Sdn Bhd sebagai partner strategis, serta Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Komunikasi dan Informatika sebagai partner dari pemerintah.

Diedit oleh Febrianto Nur Anwari

SHARE
Previous articleDari Wiro Sableng sampai Partai Komunis, Inilah Makna Tersembunyi Angka 212
Next articleDari Aksi Sampai Komedi, Inilah Rekomendasi 5 Film Indonesia Bulan Desember
Jadi penulis karena nggak bisa koding.