Penyederhanaan Marvel vs Capcom 3. Good, Bad, or Ugly?

Lebih dari satu dekade sejak dirilis, Marvel vs Capcom 2 tetap menjadi salah satu game fighting dengan userbase terbesar. Game ini juga masih menjadi menu dalam Evo (Evolution Championship Series), kompetisi game fighting tahunan di Amerika. Bahkan beberapa saat lalu, Capcom merilis versi HD-nya di Xbox Live Arcade (dengan filter grafis yang lebih modern). Bagi saya pribadi, Marvel vs Capcom 2 adalah salah satu game fighting favorit. Salah satu yang paling kompetitif.

Lalu apa tanggapan saya ketika pertama kali menjajal Marvel vs Capcom 3. Awalnya saya sangat kecewa. Semuanya menjadi lebih simple, sehingga tidak variatif! Marvel vs Capcom pertama, seperti halnya game-game fighting Capcom kebanyakan, menggunakan setup enam tombol (low punch, medium punch, high punch, low kick, medium kick, high kick). Setup ini disederhanakan dalam sekuelnya, menjadi hanya empat tombol serang (low punch, high punch, low kick, high kick), ditambah dua tombol assist. Nah, di seri ketiga ini Capcom makin menyederhanakan, bahkan terkesan membodohkan, dengan hanya tiga tombol serangan (low, medium, high), satu tombol launcher, dan dua tombol assist/tag. Punch dan kick tidak dibedakan, sehingga sangat membatasi opsi pemain dalam melakukan serangan.

Setup ini sebetulnya tidak baru-baru amat. Capcom sudah menerapkannya dalam Tatsunoko vs Capcom yang sebelumnya dirilis di Wii. Saya bisa maklum kalau dibuat sangat sederhana, mengingat target market Wii adalah casual gamer. Tapi yang sedang kita mainkan saat ini adalah Marvel vs Capcom 3, tentunya dengan target market gamer pro. Game yang akan dipertarungkan di Evo dan Tougeki – Super Battle Opera.

Itu impresi awal saya. Seiring dengan menjajal beberapa karakter, menghabisi Galactus di arcade mode, dan mencoba mission mode (ketika artikel ini ditulis, saya belum mencoba bermain online), saya menyadari kalau ternyata lewat setup tombol yang simpel, pertarungan masih bisa terasa (dan terlihat) sangat intens. Jiwa Marvel vs Capcom juga masih begiu terasa.

Combo jadi sangat mudah dengan hanya tiga tombol serangan. Juggle yang sebelumnya cukup rumit, sekarang bisa dilakukan dengan hanya satu tombol. Tentu saja aerial combo jadi lebih mudah dieksekusi. Penyederhanaan ini membuat siapapun bisa melakukan aerial combo gila-gilaan.

Sebelum saya lanjutkan, silahkan simak video tutorial di bawah:

Simple sekali. Saya yakin bisa mengajari sopir saya melakukan aerial combo!

Saya mencoba memahami tujuan Capcom dalam mengembangkan Marvel vs Capcom 3. Game ini sesungguhnya tidak ditargetkan untuk penggemar game fighting yang super serius (lagipula pasarnya tidak banyak berkembang sejak sepuluh tahun lalu). Toh, mereka sudah punya Super Street Fighter IV dan akan segera mendapatkan Street Fighter vs Tekken. Marvel vs Capcom 3 sangat berbeda! Targetnya adalah untuk mereka yang ingin belajar game fighting. Targetnya adalah gamer casual. Marvel vs Capcom 3 sangat newbie friendly!

Karena ke-newbiefriendly-annya itulah saya melihat game ini menjadi sangat populer dalam waktu dekat. Status teman-teman di Facebook (yang bukan penggemar game fighting) berhubungan dengan Marvel vs Capcom 3. Kebanyakan status itu memuji-muji gameplay-nya yang sangat simpel. Sepertinya Capcom berhasil mejaring lebh banyak gamer casual untuk mencoba game fighting. Untuk hal ini, saya angkat topi.

Karena ke-newbiefriendly-annya ini juga lebih banyak teman-teman saya (tanpa bermaksud merendahkan) yang sebelumnya sama sekali tidak “bersinar” dalam sebuah game fighting, malah berbalik menjadi lawan yang sangat mengerikan. Jalannya pertarungan tidak lagi didominasi oleh dua-tiga orang saja, melainkan semua pemain punya potensi yang sama. Penyederhanaan artinya makin banyak yang bisa. Makin banyak yang bisa artinya banyak pemain berada di level yang tidak terlalu jauh. Penyederhanaan ini meminimalisasi jurang antara veteran game fighting dan mereka yang baru belajar.

Lalu apakah sekarang saya masih kecewa?

Dengan target market yang lebih luas dan harapan bisa lebih banyak bertemu lawan tanding (bukan wajah yang itu-itu saja, bosan! hehehe), bagaimana mungkin saya bisa kecewa! Well, saya harus pamit dulu untuk mengasah aerial combo Zero, Ironman, dan Sentinel.

Sampai ketemu di arena Marvel vs Capcom 3.


SHARE
Previous articleSelamat Jalan Guitar Hero!!
Next articleCrysis 2 Sudah Bisa Dimainkan?
Mengawali karier menulisnya pada tahun 1997 sebagai kontributor rubrik game majalah Mentari Putera Harapan. Namanya mulai dikenal setelah dia turut membidani lahirnya majalah game pertama di Indonesia, Game Master. Begitu banyak majalah yang lahir dari buah pemikirannya. Sebut saja Game Master, 3D Magazine, Ultima Nation, hingga Zigma dan Omega. Tidak hanya dikenal sebagai jurnalis dan konseptor, GrandC juga seorang penulis cerita. Saat ini dia banyak disibukkan dengan pengembangan Vandaria, dunia fiksi ciptaannya.