Kini Ada Robot Android Bermain Buku!!

 

Detik-detik mulai dikomersilkannya Android Honeycomb April 2011 nanti, layaknya bom waktu yang membuat jantung para pesaingnya berdetak makin kencang. Sementara itu Motorola Xoom yang menjadi gadget pertama ber-OS Android versi 3.0 tersebut, sudah dirilis 24 Februari 2011 lalu. Walaupun secara hardweare dan software cukup menjanjikan (bisa kamu baca melalui artikel ini, detail spesifikasinya), namun rupanya tablet yang banyak dipercaya bakal menjadi “iPad Killer” tersebut oleh para analis disebutkan penjualannya tidak terlalu mengagumkan. Banyak yang menuduh justru karena Honeycomb yang terlalu rumit. Ada juga yang menyalahkan batereinya yang loyo. Kontras dengan Apple iPad 2 yang masih mengusung kemudahan penggunaan ala iPhone OS (iOS) serta ketahanan baterei yang telah teruji.

Sepertinya Motorola melupakan satu hal ketika mendisain Xoom, dan ingin menggeser hegemoni Apple di ranah tablet (atau oleh sebagian praktisi teknologi lebih suka menyebut tablet sebagai slate) dengan iPad-nya, bahwa sabak elektronik tersebut sangat laku karena menyasar pasar yang paling luas. Mass market ini tak lain adalah pengguna casual, bukanya mereka para “techno geek” yang tahu betul semua istilah computing dan mengikuti perkembangan smartphone.

Dengan klaim Apple yang dengan angka penjualan iPad 2 yang melebihi kakaknya pada minggu pertama penjualan, pasca dirilis 11 Maret 2011 lalu, juga terbukti di pasaran. Banyak toko mengaku kehabisan persediaan iPad 2. Di Indonesia saja, seperti tahun lalu kala iPad pertama pertama kali booming, sudah ada yang menawarkan dengan harga pembukaan di atas 10 juta – bandingkan dengan harga aslinya di US yang tidak lebih dari 6 jutaan, seperti yang kami ulas detailnya di sini. Sementara itu iPad pertama juga sempat mengalami fluktuasi harga. Dari sini bisa disimpulkan, seperti strategi Nintendo dengan Wii dan DS mereka, tidak perlu harus “kuat” dan terlihat “canggih” untuk bisa laku terjual. Namun bagaimana bisa membuat pengguna awam merasa nyaman dengan teknologi.

Namun walaupun sudah terbukti bahwa spesifikasi teknis bukan patokan, RIM yang juga masih tarik ulur dengan tablet pertama mereka BlackBerry PlayBook, rupanya juga bingung menentukan posisi tablet mereka tersebut. Seperti yang pernah kami bahas sebelumnya, BlackBerry Tablet OS yang digunakan untuk PlayBook tersebut memiliki kelebihan menampilkan software yang berjalan secara real time. Dan banyak jurnalis yang memuji antar mukanya yang halus serta kecepatan browsing yang mendukung Flash serta HTML5. plus tentu saja, interkoneksi dengan seri BlackBerry  terbaru, untuk aktivitas BBM. Dan saya pribadi merasa antar mukanya (plus layanan BlackBerry yang ditawarkan) sudah cukup familiar dan user-friendly, terutama bagi mereka yang mungkin bukan pengoperek smartphone.

Namun rupanya RIM masih ingin meluaskan pasar PlayBook. Selain pengguna BlackBerry pada khususnya, mereka juga ingin merangkul pasar Android yang memang berkembang pesat. Dan bisa jadi, ini salah satu strategi RIM menghadapi pasukan Android yang jumlahnya sudah pasti lebih besar. Kenapa tidak “berteman” saja dengan musuh?

Melalui konferensi pers-nya, RIM ingin meluaskan ekosistem PlayBook sehingga mendukung Java dan juga Android. Untuk Java, memang bukan hal baru, karena semua seri BlackBerry yang kamu kenal saat ini memang OS-nya berbasis Java. Sedangkan Android, walaupun hanya aplikasi tertentu saja yang di-download melalui AppWorld saja yang bisa dijalankan melalui semacam emulator.

Langkah ini jelas bisa menjadi solusi untuk menutupi satu kekurangan PlayBook, ragam aplikasi yang tersedia. Karena saat ini, “perangnya” bukan sekadar hardware dan OS-nya saja, melainkan juga berapa banyak aplikasi pendukungnya. Dengan Android dan iOS yang telah dewasa dengan ratusan ribu aplikasi terdaftar, bakal susah untuk PlayBook yang mengusung OS baru untuk mengejarnya. Dan satu alasan lain RIM memilih berteman dengan Android adalah karena open source (bica kalian baca juga melalui Zigma edisi 101 mengenai Linux, Android dan sifatnya yang Open Source).  Demikian slate RIM tersebut langsung mendapat boost ratusan ribu jumlah aplikasi kompatibel dari awal kemunculannya.

Demikian, bukan berarti kamu bisa begitu saja mentransfer koleksi APK Android-mu ke dalam PlayBook dan meng-execute aplikasi yang tercakup di dalamnya. Pengembang aplikasi masih perlu mengemas kembali supaya code yang diperuntukkan untuk Android OS bisa didaftarkan dan sesuai dengan BlackBerry Tablet OS. Jadi intinya, sebenarnya RIM hanya membuka jalur bagi pengembang supaya mereka dengan mudah mem-port aplikasi yang telah dikembangkan untuk Android, terutama Honeycomb, sehingga kompatibel dengan PlayBook. Kemudahan tersebut juga beralasan, karena pada dasarnya API atau application programming interface antara Android dan QNX Neutrino (sama-sama bertipe open source), yang menjadi dasar pengembangan Tablet OS. Yah, semoga saja langkah RIM ini bisa menjadi solusi minimnya aplikasi untuk PlayBook nantinya, dan bersama-sama gadget open source lainnya, bisa menang melawan hegemoni iPad… hehe!


SHARE
Previous articleJust “Need” More Realism “For” Achieve Authentic “Speed”
Next articleJika Jack Sparrow “Bermain” Lego…

Telah dikenal sejak satu dekade yang lalu melalui media game Ultima Nation. Saat itu artikel andalannya adalah panduan walktrough game-game RPG. Ura kemudian juga semakin dikenal lewat tulisannya yang idealis dan selalu konsisten pada satu aspek game, yaitu STORY – yang olehnya dianggap sebagai backbone sebuah game. Selain menggeluti dunia game, Ura juga penggemar gadget, dan dia memiliki hobi “ngoprek” smartphone.