The 3rd Birthday

Dev/Pub : Square Enix/ Square Enix
Tanggal Rilis : 22 Desember 2010 (JP) / 29 Maret 2011 (US)
Platform : PSP
Genre  : Action/Third-Person Shooter
Rating : D (CERO) / M (ESRB)
Skor : 8.5/10

Setelah lebih dari 10 tahun mati suri, kini Aya Brea bangkit kembali dari tidur panjangnya dan siap
untuk memulai misinya menumpas monster-monster yang menyerang kota New York. Tapi musuh
Aya kali ini bukanlah parasit Mitochondria maupun Eve, melainkan monster jenis baru yang bernama
The Twisted. Lho? Apa yang terjadi dengan Mitochondria pada seri sebelumnya? Well, daripada
terus penasaran, ada baiknya kalian menyimak review ini lebih lanjut.

Cerita bermula pada tanggal 24 Desember 2012. Pada sore hari sebelum menjelang malam perayaan
natal atau Christmas Eve, kota New York dikejutkan oleh serbuan makhluk-makhluk misterius yang
bernama The Twisted.

Untuk mengatasi serangan dari makhluk-makhluk tersebut, dibentuklah sebuah tim penyelidik yang
bertugas untuk menumpas para Twisted, bernama CTI (Counter Twisted Investigation). Setahun
seteleh penyerangan besar-besaran dari para Twisted itu, Aya Brea, salah seorang Agen yang
tergabung dalam CTI, ditugaskan untuk kembali ke masa lalu guna menghancurkan The Babel,
markas para Twisted yang berbentuk seperti akar tanaman raksasa yang menjulang tinggi ke langit
seperti sebuah menara.

Hanya Aya yang bisa melakukan perjalanan untuk kembali ke masa lalu. Itu karena Aya–yang
kehilangan ingatannya karena suatu sebab yang tidak diketahui–memiliki sebuah kemampuan unik
yang tidak dimiliki oleh orang lain, yang disebut Overdive. Dengan kemampuan barunya ini, Aya
bisa merasuki tubuh orang lain dan mengendalikannya sesuka hati. Bahkan Aya bisa merasuki tubuh
seseorang yang berada di masa lalu berkat bantuan sebuah mesin yang bernama Overdive System.


Dengan cara inilah, Aya berusaha untuk mengalahkan Twisted dan mengubah masa depan dunia
agar lebih baik. Terlebih, dengan kembali ke masa lalu, kepingan ingatan Aya perlahan-lahan mulai
kembali, dan misteri-misteri yang menghantui Aya selama ini dalam mimpinya mulai terkuak satu-
persatu. Berhasilkah Aya menyelamatkan dunia? Dapatkah ia memperoleh kembali ingatannya yang
telah hilang?

Setelah mengintip plot yang tersedia, ada baiknya sekarang kita selami Gameplay-nya sendiri. Sistem
permainan yang digunakan mengusung tipikal third-person-shooter. Dengan sudut pandang over-
the-shoulder, kalian bisa menembak musuh dengan pilihan senjata yang beragam, seperti Handgun,
Assault Rifle, Shotgun, Sniper dan Launcher (Granade). Untuk menyerang musuh, cukup menahan
tombol bidikan karena senjata yang Aya miliki mempunyai fitur Auto Lock-On (Target otomatis),
kecuali senjata-senjata sejenis Sniper dan Launcher yang memiliki sistem target manual sehingga
kalian harus mengarahkan bidikan untuk menembak musuh.

Aya dapat membeli senjata-senjata baru dengan menukarkan sejumlah BP (Bonus Point) yang
diperoleh dari mengalahkan musuh pada Weapon Bank. Selain untuk membeli senjata, Weapon
Bank juga berfungsi sebagai tempat untuk melakukan upgrade pada senjata-senjata tersebut.

Yang membedakan 3rd Birthday dengan tipikal shooter lainnya adalah adanya Overdive System,
ability terbaru Aya yang menggantikan fungsi Mithocondria Eve-nya. Overdive memungkinkan Aya
untuk melakukan perpindahan tubuh dari seorang prajurit ke prajurit yang lain. Dengan perpindahan
tubuh ini, Aya bisa mendapatkan sudut pandang yang berbeda dalam hal menyerang musuh.
Manfaatkan ability ini untuk membuat strategi yang tepat dalam mengalahkan musuh. Keuntungan
lain dari Overdive adalah untuk membantu Aya bertahan hidup dalam pertempuran. Apabila nyawa
prajurit yang Aya rasuki habis akibat serangan musuh, dia bisa segera berpindah tubuh ke prajurit
lain untuk menyelamatkan hidupnya. Tapi bukan berarti kalian menjadi immortal selama permainan,
sebab jika semua prajurit di lapangan mati dan tidak ada tubuh cadangan yang tersedia, maka Aya
tidak bisa melakukan Overdive sehingga tentu saja ia akan mati.

Kemampuan Overdive Aya tidak hanya digunakan untuk melakukan perpindahan tubuh saja,
tetapi juga bisa digunakan untuk menyerang musuhnya. Serangannya ini disebut Overdive Kill,
dimana ketika musuhnya sedang lengah, Aya bisa melakukan Overdive pada mereka dan berusaha
menghancurkannya dari dalam. Melakukan Overdive Kill dapat memberikan damage yang besar
pada musuh dan membantu Aya menghemat persediaan amunisi-nya yang terbatas.

Selain senjata dan Overdive Kill, Crossfire juga merupakan salah satu pilihan dalam menyerang.
Crossfire adalah komando yang bisa Aya berikan kepada rekan-rekannya yang berada dalam satu
area untuk melakukan serangan secara serempak kepada musuh. Crossfire dapat membuat musuh
cepat lemah dan memudahkan Aya untuk melakukan Overdive Kill pada mereka.

Jenis serangan terakhir yang Aya miliki adalah Liberation Mode. Untuk mengaktifkannya, kalian
harus terlebih dahulu mengisi parameter berwarna merah yang terletak di bawah garis nyawa Aya.
Ketika memasuki kondisi ini, Aya akan memegang dua senjata (Dual Gun) dan menembakkan bola

energi yang bisa menghabisi musuhnya dalam sekejap, plus Aya dapat menghindari serangan musuh
secara otomatis. Liberation berguna bagi Aya ketika ia terdesak oleh musuh yang kuat dan ganas,
seperti Boss Battle.

 

Aya tidak hanya dibekali dengan kemampuan ofensif, tetapi juga defensif. Salah satu bentuk
pertahanan Aya adalah dengan melakukan Cover System. Dengan Cover System, Aya bisa berlindung
di balik barikade yang tersebar di beberapa area permainan untuk menghidari serangan musuh yang
ada. Tapi bukan berarti kalian bisa selalu merasa aman dengan berlindung terus, karena barikade
ini akan hancur setelah menerima beberapa kali serangan musuh. So, seimbangkan waktu antara
menyerang dan bertahan.

Skill yang terdapat dalam game ini tidak berasal dari parasit Mitochondria milik Aya seperti pada
game terdahulu, melainkan dari mutasi DNA yang bernama OverEnergy. OverEnergy terdiri dari
DNA Chip/OE Chip yang bisa Aya peroleh dengan melakukan Overdive baik pada rekannya ataupun
pada musuhnya. Untuk mengaktifkan skill, cukup letakkan DNA/OE Chip pada DNA Board yang
berbentuk kotak berukuran 3×3. OverEnergy dapat memberikan efek yang menguntungkan Aya
selama menghadapi pertempuran. Seperti misalnya Ability Healing yang bisa menyembuhkan nyawa
Aya apabila ia melakukan Overdive.

Grafisnya tergolong ‘mewah’ untuk ukuran portable game seperti PSP. Bahkan Square Enix sendiri
mengkonfirmasikan bahwa grafisnya setara dengan PS2. Kalian tentunya tidak akan kecewa dengan
penampilannya yang begitu memanjakan mata. Bahkan menurut pengamatan saya, kekuatan
grafisnya sendiri sudah melampaui Crisis Core dan Kingdom Heart: Birth by Sleep.

Musik pada game ini diaransemen langsung oleh komposer ternama SE, yaitu Yoko Shimomura,
yang sudah berpengalaman dalam membuat soundtrack untuk game-game terdahulu Square Enix,
seperti Kingdom Hearts series dan Legend of Mana. Beberapa soundtrack lama dari game Parasite
Eve terdahulu juga kembali hadir disini, tentunya setelah diaransemen ulang oleh Yoko Shimomura.
Memberikan kenangan dan perasaan nostalgia bagi para penggemar seri Parasite Eve yang sudah
setia menanti selama lebih dari sepuluh tahun.

The 3rd Birthday tergolong singkat untuk dimainkan, sekitar 6-7 jam cukup untuk menamatkannya.
Tapi kelebihan dari game ini adalah Replay Value-nya yang sangat tinggi. Kalian tentunya tidak akan
merasa puas apabila belum menamatkan game ini lebih dari 3 kali. Apalagi secret yang terdapat
dalam game ini bejibun, mulai dari kostum rahasia, senjata rahasia, tingkat kesulitan rahasia (Deadly
dan Insane), sampai ending rahasia. Tidak ketinggalan, adegan rahasia yang sempat membuat heboh
game ini sendiri, yaitu Shower Scene. Kalian tidak akan merasa tamat apabila belum melihat klip
video yang penuh dengan Fanservice ini.

Kalau kalian penggemar seri Parasite Eve, atau penggemar berat Aya Brea dan sudah terlalu lama
menantikan sepak terjang salah satu protagonis tercantik dalam dunia game, maka The 3rd Birthday
wajib kalian miliki dan mainkan. Akhir kata, selamat menyelam.


SHARE
Previous articleStarter Deck Metamor
Next articleSaatnya Game Facebook Lebih Dewasa…
Rafa hanyalah seorang penulis amatir dalam bidang jurnalistik, tetapi kemauannya untuk belajar keras menekuni bidangnya tidak bisa dipandang sebelah mata. Pemuda yang baru saja lulus dari fakultas farmasi universitas airlangga tersebut pernah memiliki keinginan untuk bergabung dengan majalah Zigma, tetapi segera mengurungkan niatnya setelah mengetahui dirinya tidak memenuhi beberapa kualifikasi yang ditetapkan oleh majalah game terlaris di Indonesia itu, salah satunya harus berdomisili di kota Surabaya. Melihat adanya wadah untuk menyalurkan hasrat tulis-menulisnya, yaitu Duniaku, Rafa tanpa pikir panjang memutuskan untuk ikut bergabung sebagai kontributor, terlebih Duniaku tidak menetapkan batasan khusus seperti tempat domisili dan sebagainya. Sebagai seorang penulis yang baru belajar, Rafa tidak segan-segan untuk meminta saran dan kritikan dari pembaca. Oleh karena itu, ia memohon kerjasama dari pembaca sekalian untuk ikut mengkritisi skill penulisannya tersebut.