Dissidia 012: Duodecim Final Fantasy

Menilik masa lalu peperangan Chaos dan Cosmos

Dev / Pub : Square Enix/ Square Enix
Tanggal Rilis : 3 Maret 2011 (JP) / 22 Maret 2011 (US)
Platform : PSP
Genre : Action-RPG/ Fighting 3D
Rating : C (CERO) / T (ESRB)
Skor : 8.0/10

 

Fokus cerita pada Dissidia Duodecim berkutat pada peperangan ke-12 dari dua dewa yang telah bersikukuh sejak dahulu kala, Chaos dan Cosmos. Karena Dissidia pertama merupakan peperangan ke-13, maka game ini sendiri bertindak sebagai sebuah prekuel pada timeline ceritanya. Karakter-karakter baru yang hadir disini berasal dari kubu Cosmos yang meliputi Lightning/Claire Farron (FF XIII), Laguna (FF VIII), Kain (FF IV), Yuna (FF X), Vaan (FF XII) dan Tifa (FF VII).

Pertentangan antara Chaos dan Cosmos tidak terlalu kentara disini, karena inti permasalahannya ada pada Manikin, prajurit-prajurit kegelapan yang berwujud seperti tokoh-tokoh dalam Dissidia Duodecim ini. Jumlah Manikin alias doppleganger yang semakin bertambah banyak ini membuat kubu Cosmos berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Oleh karena itu, demi menyelamatkan rekan-rekannya dan tentu saja memberikan kesempatan menang bagi kubu Cosmos, Lightning dkk memutuskan untuk menutup gerbang tempat para Manikin berasal, the Rift. Tentu saja perjalanan Lightning untuk menutup portal tersebut tidaklah mudah, karena prajurit-prajurit Chaos senantiasa menghadang mereka dalam menyelesaikan misinya.

Begitulah kira-kira sinopsis singkat cerita yang melatar-belakangi game ini. Cerita memang bukan nilai jual utama dalam Dissidia Duodecim, karena letak keunggulannya berada pada gameplay-nya yang fantastis.

Seri Dissidia merupakan hibridasi antara game Action RPG dan Fighting 3D. Alur pertarungannya terkesan cepat dan lincah sekaligus indah. Sistem yang ada sebenarnya masih sama persis dengan Dissidia yang pertama dimana pemain memiliki dua jenis serangan yaitu Bravery Attack dan HP Attack. Ketika pertarungan dimulai, setiap pemain memiliki sejumlah Bravery Point dasar, dengan menyerang menggunakan Bravery Attack, Bravery Point ini akan semakin meningkat. Perlu diingat bahwa Bravery Attack tidak bisa digunakan untuk menguras HP musuh. Untuk mengurangi HP musuh, maka kalian harus menyerang dengan HP Attack. Besarnya serangan HP Attack bergantung jumlah Bravery Point yang pemain miliki. Singkatnya, kalian menyerang terlebih dahulu dengan Bravery Attack, kumpulkan Bravery Point, lalu eksekusikan serangan dengan HP Attack. Simple khan.

Setelah pemain menyerang dengan HP Attack, maka Bravery Point akan turun menjadi 0. Jangan khawatir, setelah beberapa saat, Bravery Point akan naik kembali ke jumlah dasar. Tapi perlu diperhatikan, apabila pemain diserang lawan dalam keadaan Bravery Point yang rendah ini, maka ia akan rentan terkena status Break. Untuk pulih dari kondisi Break, cukup mengulur-ulur waktu sampai Bravery Point kembali ke nilai semula.

Seperti game RPG pada umumnya, Dissidia Duodecim juga memiliki sistem yang mirip-mirip dengan Limit Break, disebut EX Mode. EX Mode baru bisa diaktifkan setelah EX Gauge yang berada disebelah HP Gauge penuh. Untuk mengisi Gauge ini, kalian cukup mengumpulkan aura yang tersebar disekitar arena, atau mengambil EX Core yang bisa mempercepat pengisian Gauge. Ketika EX mode aktif, kalian akan memiliki keuntungan lebih seperti peningkatan Attack, Regenerasi HP, dan sebagainya. Apabila kalian menyerang dengan HP Attack dalam kondisi ini, maka kalian bisa menggunakan EX Burst, serangan pemungkas dengan berbagai efek sinematik. Tentu saja serangan ini sangat mematikan, namanya juga serangan pemungkas.

Selain EX Mode, ada pula fitur lainnya yang disebut EX Revenge. EX Revenge berguna untuk menghentikan serangan musuh dan memperlambat aliran waktu, sehingga memudahkan kalian untuk menyerang musuh sepuas-puasnya sampai aliran waktu berjalan normal. Untuk menggunakan EX Revenge tidaklah susah, cukup aktifkan EX Mode ketika kalian sedang diserang oleh musuh. Tentu saja EX Gauge kalian juga harus penuh untuk menggunakannya.

Cuma itu? Tentu saja tidak. Fitur paling baru yang ada dalam Dissidia Duodecim adalah Assist. Dengan fitur Assist, kalian bisa memanggil kawan untuk membantu menyerang atau bertahan dari serangan lawan. Untuk menggunakan Assist juga tidak bisa seenaknya, kalian harus terlebih dahulu mengisi Assist Gauge yang berada dibawah HP Gauge dengan menggunakan Bravery Attack. Oiya, kalau karakter Assist kalian diserang oleh lawan, maka karakter tersebut akan terkunci dan kalian tidak bisa memanggilnya selama beberapa saat. Kondisi ini dinamakan Assist Break. Hal yang sama juga bisa kalian lakukan pada karakter Assist lawan tentunya.

Merasa khawatir ketika lawan menggunakan EX Mode? Disinilah kegunaan lain dari fitur Assist. Jika lawan kalian menggunakan EX Mode, yang tentu saja membuatnya semakin kuat, maka kalian cukup menyerang lawan tersebut dengan karakter Assist untuk melakukan EX Break, yaitu pembatalan kondisi EX Mode milik lawan. Terlalu banyak istilah ya.

Fitur-fitur lain seperti Summonstone kembali hadir disini. Kalian bisa mendapatkan berbagai macam Summonstone dengan menjalankan misi yang ada dalam Story Mode maupun dengan membelinya. Summonstone dapat digunakan untuk memudahkan jalannya pertarungan dengan memberikan efek positif pada diri sendiri atau efek negatif pada lawan.

Seperti game RPG pada umumnya, setiap kali menyelesaikan pertarungan, kalian akan mendapatkan Experience Point yang berguna untuk menaikkan level, AP yang digunakan untuk menguasai Ability, PP untuk ditukarkan dengan Catalog, dan sejumlah Gil untuk berbelanja di toko. Terkadang kalian bisa memperoleh accessory setiap memenangkan pertarungan. Accessory terbagi menjadi beberapa kategori, yaitu Basic, Booster (untuk meningkatkan efek Basic), Breakable, dan Tradeable (Material untuk ditukar pada Shop). Accessory berguna untuk menambah efek-efek positif pada karakter yang kalian mainkan.

Setelah menjelajahi segi pertarungannya, saatnya kita menilik Story Mode yang ada. Masih ingat dengan Dissidia pertama? Disana kalian disuguhkan permainan ala papan catur untuk bergerak. Nah, kalau Dissidia Duodecim berbeda, karena game ini menggunakan sistem World Map, yang telah lama hilang dari seri Final Fantasy. Kalian bebas melakukan eksplorasi pada World Map yang ada, memberikan ciri khas seperti Final Fantasy klasik. Ketika menjelajahi World Map, kalian bisa menemukan beberapa peti harta yang tersebar di berbagai tempat dan juga bertemu dengan Manikin untuk memasuki pertarungan. Menyerang Manikin terlebih dahulu akan memberikan keuntungan diawal pertempuran dimana Bravery Point milik lawan akan turun menjadi nol, memudahkannya masuk kondisi Break.

World Map juga merupakan tempat dimana kalian bisa bertransaksi dengan Moogle. Makhluk-makhluk mungil berantena dan berhidung bulat ini menjual berbagai barang langka seperti Summonstone dan Equipment yang kuat. Mereka tidak menerima Gil sebagai alat transaksi pembayaran, tetapi meminta alat pembayaran lain berupa KP alias Kupo Point. Bagaimana cara mendapatkan KP ini? Selesaikan saja Gateway yang ada di World Map, nantinya kalian akan dihadiahkan sejumlah Kupo Point.

Apa itu Gateway? Gateway adalah sebutan untuk Dungeon yang tersebar di seantero World Map. Bagi yang menyukai sistem papan catur untuk bergerak, fitur tersebut masih tetap dipertahankan dalam gateway-gateway ini, sehingga kalian masih bisa mendapatkan feel seperti Dissidia pertama. Gateway yang berwarna merah berarti harus dilewati untuk melanjutkan cerita, sementara Gateway berwarna putih bebas kalian masuki berkali-kali, fungsinya hanya sekedar tempat latihan untuk menaikkan level tentunya. Ketika berada dalam Gateway, kalian bisa menggunakan skill-skill yang tersedia. Skill-skill tersebut memiliki berbagai macam efek seperti menghubungkan beberapa pertarungan sekaligus (mengingkatkan jumlah KP yang akan diperoleh), membuat musuh terkena status Break di awal pertarungan, dan sebagainya.

Apabila kalian telah menyelesaikan Story Mode dalam Dissidia Duodecim ini, kalian bisa membuka cerita mengenai peperangan ke-13, yaitu cerita pada Dissidia yang pertama. Dissidia pertama dihadirkan dengan menggunakan fitur-fitur baru yang terdapat dalam Duodecim. Kalian bisa meng-import data dari Dissidia pertama, sehingga tidak perlu memainkan lagi dari awal kalau hendak mengulang cerita yang ke-13 ini (Level, Ability, dan sebagainya akan tetap dipertahankan).

Sudah pernah mencoba Demo Dissidia Duodecim yang berjudul Prologus? Kalian juga bisa men-transfer save filenya ke game ini untuk mendapatkan beberapa item tambahan plus satu karakter rahasia, Aerith Gainsborough. Aerith hanya bisa digunakan sebagai karakter Assist saja, tetapi skill-skill yang dimilikinya cukup bermanfaat.

Begitu banyak hal-hal yang bisa kalian lakukan dalam Dissidia Duodecim, seperti Labyrinth Mode dan Quest Maker. Labyrinth Mode bisa dibilang merupakan versi revisi dari Colosseum pada Dissidia pertama dimana kalian harus menggunakan kartu-kartu yang tersedia untuk melalui berbagai macam Dungeon dan memperoleh item-item yang tersedia. Untuk Quest Maker, disini kalian bisa mencoba membuat event/cerita sendiri (semacam FanFiction) dengan menggunakan karakter-karekter yang tersedia dalam Dissidia Duodecim, dan kalian bisa saling tukar cerita tersebut dengan orang lain.

Segudang fitur yang ada pastinya akan membuat kalian sibuk bermain game ini, bahkan mungkin bisa sampai ratusan jam gameplay yang harus kalian tempuh untuk membuka seluruh content yang ada, itupun kalau kalian betah memainkannya. Kadang saya sampai merasa bosan dengan suguhan pertarungan yang ada, karena terkesan repetitif.

Jika kalian belum pernah menyentuh Dissidia yang pertama, maka kalian masih tetap bisa memainkannya dalam game ini seperti yang telah saya jelaskan di atas. Itulah sebabnya mengapa Dissidia Duodecim ini lebih berasa seperti sebuah Expansion Pack ketimbang game baru berlabel “Prekuel”. Meskipun begitu, game ini masih layak untuk dimainkan, bahkan bagi penggemar seri FF, seri ini termasuk daftar wajib main. Saya rasa skor 8.0 cukup bagi game yang satu ini.

 



SHARE
Previous articleSambutlah Dinobots!
Next articleEPIC Bagi-bagi Kode Gears 3 Beta
Rafa hanyalah seorang penulis amatir dalam bidang jurnalistik, tetapi kemauannya untuk belajar keras menekuni bidangnya tidak bisa dipandang sebelah mata. Pemuda yang baru saja lulus dari fakultas farmasi universitas airlangga tersebut pernah memiliki keinginan untuk bergabung dengan majalah Zigma, tetapi segera mengurungkan niatnya setelah mengetahui dirinya tidak memenuhi beberapa kualifikasi yang ditetapkan oleh majalah game terlaris di Indonesia itu, salah satunya harus berdomisili di kota Surabaya. Melihat adanya wadah untuk menyalurkan hasrat tulis-menulisnya, yaitu Duniaku, Rafa tanpa pikir panjang memutuskan untuk ikut bergabung sebagai kontributor, terlebih Duniaku tidak menetapkan batasan khusus seperti tempat domisili dan sebagainya. Sebagai seorang penulis yang baru belajar, Rafa tidak segan-segan untuk meminta saran dan kritikan dari pembaca. Oleh karena itu, ia memohon kerjasama dari pembaca sekalian untuk ikut mengkritisi skill penulisannya tersebut.