A Second Look At Portal 2


Jika Ada Oscar Untuk Game…

Menurut saya, bermain game hampir sama dengan menonton film layar lebar, mereka  bisa membuat mu tertawa, terharu, terpana, takut dan banyak hal lainnya. Walaupun begitu hanya sedikit game yang bisa membuat saya tertawa terbahak-bahak karena dialog yang menggelikan, dan Portal 2 jelas adalah salah satu dari yang sedikit tersebut. Bukan hanya dialog yang menggelikan, Portal 2 juga memiliki voice over yang sangat sempurna. Tidak berlebihan jika saya katakan bahwa pengisi suara yang digunakan bisa disetarakan kualitasnya dengan film-film animasi buatan Hollywood. Tiap dialog benar-benar dihayati dan diucapkan dengan penuh perasaan. Saya terutama sangat kagum dengan pengisi suara dari Wheatley (Stephen Merchant) aksen inggrisnya yang terkesan lugu, culun, dan sedikit bodoh benar-benar membuat game ini hidup. Tidak diragukan lagi jika memang ada Oscar untuk game, Portal 2 pasti akan memenangkannya, paling tidak untuk kategori dialog terbaik (jika ada kategori seperti itu tentunya). Tapi sebelumnya harus saya peringatkan bahwa banyak lelucon yang digunakan di Portal 2 adalah lelucon khas budaya barat. Ini bukanlah lelucon slapstick dimana dua orang saling melukai satu sama lain, tapi ini adalah lelucon yang melibatkan dialog-dialog cerdas, sarkasme, dan banyak lelucon mengenai berat badan (biasa dikenal dengan istilah fat jokedi Amerika). Jadi jika kamu tidak menyukai stand up comedy atau tidak begitu paham dengan lelucon barat, naskah dan dialog Portal 2 tidak akan berarti banyak bagimu.

Karakter paling kocak di game ini, Wheatley

Walaupun begitu, dialog yang menggelikan bukanlah satu-satunya hal yang membuat Portal 2 menjadi salah satu game paling baik tahun ini. Puzzle yang menantang namun tidak membuat mu sampai pusing tujuh keliling, mode multiplayer yang sangat asyik dimainkan dengan teman, dan juga jalan cerita yang cukup keren hanyalah beberapa dari keunggulan Portal 2. Mengenai jalan ceritanya, jangan cemas jika tidak pernah memainkan Portal yang pertama. Karena walaupun beberapa karakter dari Portal 2 ini pernah muncul di seri pertamanya, tapi kamu dijamin dapat mengikuti alur cerita game ini tanpa masalah walau berlum pernah memainkan seri pertama. Inti dari Portal 2 sendiri bisa dibilang hampir sama dengan Portal 1, yaitu meloloskan diri dari laboratorium percobaan Aperture Science. Bedanya sekarang kamu tidak lagi berhadapan dengan Glados (musuh utama Portal 1), dan nantinya kamu juga bisa menemukan rahasia dibalik terciptanya Aperture Science dan asal usul Glados.

 

Glados is back

Sayang Masih terlalu Singkat

Dari segi gameplay, saya tidak terlalu bisa membandingkan Portal 2 dan portal, karena memang saya belum memainkan seri pertamanya. Tapi yang pasti dijamin kamu tidak akan kecewa dengan berbagai macam puzzle yang ditawarkan di Portal 2. Bukan saja cara pemecahannya kreatif, dan beraneka macam (bahkan kamu tidak akan menemukan puzzle yang menggunakan cara pemecahan daur ulang dari puzzle-puzzle sebelumya), tapi tingkat kesulitannya juga tidak membuatmu stress. Ini terutama karena tiap kali kamu melakukan hal yang benar, maka fitur auto save akan langsung bekerja secara otomatis. Hal ini sangat membantu, terutama bagi kamu yang tidak yakin akan solusi suatu puzzle. Game ini juga nyaris bebas bug, paling tidak saya tidak pernah mengalami kesulitan teknis apapun juga ketika memainkannya.

Sayang dibalik semua kelebihan yang saya sebutkan di atas, Portal 2 masih memiliki satu kelemahan, yaitu waktu permainan yang terlalu singkat. Memang sih mode multiplayer bisa dibilang menggandakan umur dari Portal 2, tapi mode single playernya masih terasa terlalu singkat. Setahu saya, Portal bisa ditamatkan dalam waktu 3-4 jam , sementara itu Portal 2 ini saya tamatkan dalam waktu 6-7 jam (dan itu adalah pertama kali saya memainkannya loh). Memang itu sudah berarti dua kali lebih lama dari seri pertama tapi tetap saja pada akhir Portal 2, saya merasa masih kurang puas dan menginginkan lebih banyak puzzle, lebih banyak lelucon, lebih banyak Wheatley, dan pastinya lebih banyak Portal 2. Oh iya, satu hal lain yang membuat saya kecewa dengan Portal 2 adalah mode director commentary-nya yang terasa dibuat setengah-setengah. Tadinya saya berharap akan ada komentar para kru yang mengerjakan Portal 2 di tiap puzzle dan tiap ruangan, tapi ternyata komentar untuk tiap chapternya sangat terbatas, hanya di mode multiplayer saja kamu bisa menemukan banyak komentar.

Kesimpulannya, Portal 2 adalah salah satu game puzzle paling “menyegarkan” yang pernah saya mainkan. Puzzlenya menantang namun tidak membuat pusing, jalan ceritanya ringan tapi menarik, dan dialognya mampu mengocok perut layaknya semua episode dari Friends (acara sitkom paling terkenal di Amerika), oh dan jangan lupa, avatar award dari game ini cukup keren-keren. Tidak sabar rasanya untuk memainkan seri ketiganya, atau menontonnya jika ada studio yang tertarik untuk membuat film layar lebar Portal.


SHARE
Previous articleBleach + Naruto + Super Imut, Masih Kurang?
Next articleZigma #102… Segera Dapatkan di Toko Buku/Majalah Terdekat!!
Seseorang yang awalnya ingin menjadi seorang teknokrat namun justru berkecimpung di dunia game. Penggemar Jessica Alba dan Alexis Bledel yang memiliki spesialisasi di antaranya dalam bidang Anime, Game, RPG, Game Design, Manga, Movie dan Trading Card Game. Saat ini mendapat posisi sebagai Managing Editor ZIGMA dan OMEGA serta Lead QA I Play All Day Studio.