Inovasi Tablet… Asus Eee Pad Transformer Menegaskannya

Mereka Menyebutnya dengan Tablet (Part 2)

Antara Red dan Blue Ocean
Hanya Ada Satu Kata… INOVASI!

Transformer membawa DNA Asus… Solid nan elegan. Varian awal ini memiliki aksen perunggu, baik tubuh tablet-nya, serta pada keyboard. Makin membuatnya terkesan kuat, casing di bagian keyboard-nya itu pun berbahan logam, bukan plastik keras! Motif pada casing belakangnya, menjamin anti-selip ketika kamu menggenggam dengan satu tangan. Dan konsep casing bertekstur itu menjadi yang pertama dibandingkan semua tablet lain yang sudah eksis.

Seperti yang saya janjikan setelah mengerjakan artikel Menyambut Era Tablet awal Februari 2011 lalu, bagian kedua pembahasan tersebut bakal muncul setelah “fair-play” mulai terlihat. Kenapa saya sebut demikian, karena ketika iPad muncul pertama kali 2010 lalu, otomatis saat itu hanya layak disandingkan dengan Tablet PC… atau yang belakangan beralih nama menjadi Slate PC, serta terpaksa membuang identitas bisnisnya melalui keyboard terintegrasi – padahal siapa pun pengguna Windows pasti bakal merasa nyaman dengan sebidang tombol berjajar. Merujuk pada target pasarnya, iPad pun berhasil melenggok tanpa halangan di arus Blue Ocean, diterima oleh pasar casual yang lebih mementingkan style daripada fungsi.

Belum setahun berselang, penetrasi iPad terus dirasakan tidak hanya di kalangan tertentu (baca: berduit), karena memang banderol yang tidak bisa dikatakan murah, dan dengan image tablet yang terus melekat, Samsung tidak gentar menantang dan ikut menceburkan diri ke pasar Blue Ocean – yang memang sangat luas targetnya. Galaxy Tab pertama mereka sukses dengan sebuah inovasi, yaitu ukuran yang pas untuk sebuah tablet. Memang OS yang diusung adalah Android, dengan antar muka yang segar dan mudah dioperasikan, walaupun masih ada kesan serius sebagai gadget kantoran dan media oprekan para penggemar IT. Namun mulai suntikan fitur integrasi komunikasi data dan suara – yang mana di satu sisi tidak dimiliki iPad, spesifikasinya yang juga lebih tinggi daripada sang pelopor Apple – namun dengan harga lebih murah, serta satu kata “download gratis” yang memang menjadi keunggulan sebuah sistem operasi open source semacam Android, mampu menjadi magnet dan menjaring banyak pengguna baru.

 

Transformer begitu tipis, tak sampai 1.5 cm tebalnya… di bagian bawah merupakan port khusus untuk charge dan konektor kabel data (tepat di tengahnya! Mengapit konektor khusus Asus tersebut, di kiri kanan merupakan slot yang nantinya menjadi pengait tablet ini dengan docking keyboard-nya. Jika kamu ingin menikmati fungsi tabletnya dulu, beli saja varian yang lebih murah… docking keyboard-nya juga dijual terpisah kok. Kemudian di casing sebelah kiri ada tombol power, volume serta lubang speaker…

Sukses Galaxy Tab yang memanfaatkan momen kekosongan pasar – di bawah kalangan menengah, yang menjadi target rujukan iPad, membuat produsen hardware lain ikut bergeming. Tidak sedikit mengikuti jejaknya, dan melahirkan banyak “tabby-tabby” lokal yang harganya pun sangat miring. Fokus berbagai pilihan lokal tersebut hanya satu, mereka ingin menjaring “ikan-ikan” kecil yang sudah termakan demam Android, namun mempertimbangkan batasan budget.

Namun entah kenapa, rupanya estafet Galaxy Tab tidak diteruskan oleh tablet lokal tersebut. Hanya beberapa bulan, sejak pertengahan Februari 2011, hingga detik ini, satu per satu tablet Android lokal bergelimpangan. Entah salahnya di mana, karena keadaannya kontras dengan begitu lakunya Android yang digelontorkan oleh para produsen smartphone. Pilihan ponsel pintar Android kini pun menjadi bagian lifestyle sebagian kalangan masyarakat Indonesia. Jika sebelumnya mereka bertanya, apa BlackBerry terbaru, atau apa Symbian terkini, ranah bahasannya mulai ke arah sentilan fungsi dan kelebihan si “robot hijau.” Mulai dari smartphone Android berharga satu jutaan, hingga yang jelas menjual merk dan keunikan desain, dengan “mahar” yang mencapai 5 jutaan, menjadi pilihan yang bebas kamu pinang.

Berbanding terbalik, pasca era Galaxy Tab dan tablet Android lokal, sepertinya penerimaan terhadap tablet masih kurang semarak, sebagaimana pasar mulai tertarik mengutak-atik ponsel Android. Justru iPhone 4 yang ketambahan satu distributor resmi di Indonesia akhir April 2011 lalu, menjadi sorotan sekaligus pengakuan, bahwa ternyata Apple dan keluarga iPhone OS (iOS) mereka masih cukup kuat berdiri. Harga premium yang ditawarkan pun tidak mengurungkan niat ratusan calon pembeli rela antre untuk mendapatkan gadget jutaan rupiah tersebut. Bahkan iPad 2, yang memang sudah resmi dirilis akhir Maret dan April lalu, menyusul terakhir negara seperto China dan Thailand mendapatkannya 06 Mei 2011 kemarin, dianggap sukses membuat heboh dunia. Bahkan banyak sumber menyebutkan, lebih ramai dan lebih banyak unitnya yang terjual, dibandingkan selama peluncuran Motorola Xoom dan BlackBerry PlayBook – yang dari awal sesumbar ingin merebut tahta Apple. Sedangkan Apple sendiri, sampai saat ini boleh tertawa karena masih memegang mahkota raja tablet dunia.

Desainnya sederhana, dan tidak neko-neko… seperti kebanyakan tablet lainnya – yang notabene juga dipengaruhi konsep desain “simplicity” yang dikampanyekan oleh Apple melalui keluarga iOS mereka. Pada tubuh sebelah kanan Transformer ini, terlihat ada deretan (dari atas-ke-bawah) audio jack 3.5, port mini HDMI, slot micro SD, serta port speaker sebelah kanan, yang menjanjikan output 3D stereo, respon bass yang maksimal, bahkan SRS premium.

Di Indonesia, walaupun iPad 2 belum beredar resmi, namun banyak juga para oportunis yang mendapatkannya selama peluncuran di luar negeri dan menjualnya kembali dengan harga di luar nalar. Nyaris dua kali lipat! Kamu bisa dengan mudah mendapatkankan sandi WTS (want-to-sale) iPad 2 dengan harga antara 6 hingga 10 juta. Sementara PlayBook ditawarkan antara 5 hingga 7 jutaan. Kemudian Xoom, yang memang di atas kertas menjadi yang paling unggul secara teknis, ditawarkan lebih mahal, di rentang 8-10 jutaan. Kecuali PlayBook yang memang masih WiFi only, alias hanya mendukung komunikasi data, Xoom dan iPad 2 sudah ada versi 3G-nya, sehingga boleh difungsikan layaknya ponsel.

 

Dari pilihan tersebut bisa ditarik kesimpulan, tablet terbaru yang beredar di pasaran Indonesia semuanya merupakan barang tidak resmi, tanpa dukungan after sales yang mumpuni, dan harganya aduhai  bikin sakit gigi (bagi kalangan tertentu)… hehe! Indikator momen tepat lainnya, Samsung baru meluncurkan Galaxy Tab 10.1 dan Galaxy Tab 8.9 Juni 2011 ini di India. Sedangkan LG Optimus Pad (atau dikenal juga sebagai G-Slate), yang sudah muncul di Jepang dan Amerika melalui operator T-Mobile, dipatok dengan harga Rp. 5 jutaan dengan kontrak, atau nilainya mencapai Rp. 10 juta jika ingin ditebus tanpa ikatan. Dan seandainya saja, ada produsen hardware yang melihat kesempatan ini merilis tablet baru yang cukup realistis, dari segi harga dan fitur, saya yakin pasti langsung menjadi rebutan. Apalagi versi Android khusus tablet, yaitu Honeycomb telah disempurnakan, setelah sempat menjadi “kambing hitam” kurang kurang suksesnya penjualan awal Motorola Xoom.

Adalah Asus dan Acer yang pertama melihat kesempatan ini. Saat Apple masih belum memberi kejelasan kapan iPad 2 resmi muncul di Indonesia, dan Samsung yang juga lebih getol mengkampanyekan keluarga Galaxy “mini” mereka, merupakan langkah tepat memulai Start resmi merilis tablet generasi baru di Indonesia. Tipe yang dibawa kedua produsen tersebut juga bisa ditebak, karena memang sudah dikonfirmasikan selama event Consumer Electronics Show (CES) 2011 yang digelar 6 hingga 9 Januari 2011 lalu. Acer membawa tipe Iconia Tab A500, sedangkan Asus yang rupanya lebih cerdas mengisi kekosongan segmen, memilih Eee Pad Transformer. Sementara Iconia Tab A500 sudah muncul akhir April 2011 lalu, Eee Pad Transformer diprediksi hadir Juni 2011 ini di Indonesia.

 

Sedangkan yang satu ini adalah Eee Pad Slider… Salah satu dari trio tablet Android yang bakal diluncurkan Asus tahun ini. Namun kita harus menunggu lebih lama untuk menjamah inovasi desainnya. Sepertinya lebih praktis dibandingkan Transformer, dan semoga mekanisme sliding-nya, entah dengan engsel biasa atau bantuan pegas, bisa tahan lama.

Seperti yang sudah saya prediksikan sebelumnya, “perang” tablet ini sebenarnya baru dimulai pertengahan tahun 2011, atau di bulan Juni. Karena saat itulah Google menjanjikan rilis resmi Honeycomb mereka – bukanya Februari lalu, bersamaan dengan Motorola Xoom, yang masih banyak dianggap sebagai versi Beta dari Honeycomb, dan juga janji kebanyakan produsen tablet lain yang mulai menggelontorkan pasukan Android mereka, demi menggempur supremasi Apple melalui iPad di ranah tablet (sampai geleng kepala, Apple itu berbekal iPhone dan iPad saja, tapi coba hitung berapa banyak “A New Challenger”-nya!!?). Selain itu juga masih ada “kuda hitam,” seperti keluarga webOS dari HP Palm dengan Topaz dan Opal, hingga Microsoft yang saat ini sedang mengkampanyekan kebangkitan kembali Tablet PC dengan identitas baru Slate PC – yang salah satu diantaranya juga bakal dihadirkan oleh Asus.

Apple sendiri sudah mencuri start, diam-diam mengembangkan iPad 2, dan merilisnya mulai awal Maret 2011 lalu. Dan kenyataannya, pasar masih mempertimbangkan gengsi… style masih mengalahkan fungsi. Penjualan iPad 2 jauh mengalahkan Xoom. Sekarang tinggal menunggu waktu, bagaimana hasil pertarungan tablet ini. Jika memang style masih mengalahkan fungsi, maka sebenarnya para penantang iPad tidak membutuhkan spesifikasi yang canggih, namun harus lebih siap dengan satu kata saja: INOVASI. (Ura)

Note: Terus pantau Duniaku … saya akan segera update dengan preview dan bocoran resmi mengenai salah satu tablet Android dengan inovasi desain terbaik, dan menjadi yang pertama masuk pasar Indonesia dengan konsep uniknya.


SHARE
Previous articleSensasi Strider Dalam Game Download
Next articleBermain “Crysis” di Facebook Lewat N.O.V.A Elite!
Telah dikenal sejak satu dekade yang lalu melalui media game Ultima Nation. Saat itu artikel andalannya adalah panduan walktrough game-game RPG. Ura kemudian juga semakin dikenal lewat tulisannya yang idealis dan selalu konsisten pada satu aspek game, yaitu STORY - yang olehnya dianggap sebagai backbone sebuah game. Selain menggeluti dunia game, Ura juga penggemar gadget, dan dia memiliki hobi "ngoprek" smartphone.