Epos Lawas, Bungkus Baru

Seringkali kita lebih dimanja dan di”jajah” oleh berbagai macam figure dari Tokusatsu dari Jepang atau tokoh-tokoh komik DC atau Marvel dari Amerika Serikat. Sekarang, kita bisa berbangga hati karena masih ada anak muda jaman sekarang yang berusaha untuk mengangkat warisan budaya bangsa yang terkubur oleh berbagai macam produk-produk import. Seperti apakah hasil karya mereka?

Kita perlu menyadari bahwa selama ini kita memperlakukan budaya lokal kita seperti “tamu” di kampung halaman sendiri. Setelah membaca artikel tentang Garudayana karya Is Yuniarto. Kali ini giliran karya figure yang unjuk gigi. Figure Pandawa ini merupakan buah karya dari komunitas Ingus Terbang, yang dimotori oleh Reza (Leorezca Agung).

Melihat figure-nya aj dah ngiler. Keren banget!!!

 

Inilah super-sentai terbaru di Indonesia tahun 2015.

 

Kreativitas anak bangsa tidak berhenti sampai situ, choy. Bahkan, ada beberapa konsep yang cukup berani dan berusaha untuk menyilangkan dengan konsep armor Saint Seiya. Cekidot, guyz!!

bronze saint terbaru. Seiya lewat deh!!

Tidak menutup kemungkinan apabila dikemudian hari, akan lebih banyak lagi karya-karya yang tidak kalah apik dengan produk-produk luar negeri. Kita harus lebih optimis, terbuka dan tidak skeptis terhadap perpaduan antara unsur tradisional dan pop culture. Namun, semua ini dapat terwujud dan semakin berkembang seiiring dengan apresiasi dan dukungan dari bangsa Indonesia sendiri. Akankah kita masih menjadi “tamu” bagi industri mainan di tanah air di tahun depan? Sanggupkah kita menghargai karya lokal? Teruslah berjuang, Indonesia!! -to be continued- (GTM)


SHARE
Previous articleNintendo dan EA Bertanding Bola di Arena FIFA Soccer 12
Next articleReal Steel, Wolverine dan Robot Besi!
Mendalami profesi sebagai tenaga pengajar sejak tahun 2004. Dirinya memiliki keyakinan bahwa dalam bermain dan belajar dapat dilakukan secara hand-to-hand. Bermain adalah sebuah proses belajar tersendiri dan belajar tidak berarti harus berhadapan buku dan di meja belajar. Dengan paradigma yang baru, belajar bisa sama menyenangkannya dengan bermain dan bermain tidak selamanya selalu bersifat “childish”