Luapan Semangat Deimos dalam Metamor

Reigner menjadi satu-satunya sisi yang kembali dikembangkan dari Creatio ke Metamor. Meski Starter Reigner yang dihadirkan dalam Metamor memiliki rasa berbeda, yaitu untuk bertahan dan membangun, namun bukan berarti Reigner dalam Metamor tidak bisa dikombinasikan dengan Reigner di Creatio.

Kombinasi rasa dua sisi Reigner ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Beberapa yang sempat saya pikirkan adalah: pertama tetap fokus dengan Naraka dan keganasannya dalam mengunci permainan, lalu kemudian diupgrade dengan meminimalisasi Follower tanpa Cavalry, dan menambahkan kartu-kartu Action removal dari Creatio semacam Martyrdom, Hands of Labolas, dan Hell Freezes Over. Kedua tetap fokus dengan Creep dan menambahkan Creep-Creep baru dari Metamor, kemudian menambahkan sejumlah Follower bergoldcost rendah dengan status tinggi dari Metamor seperti Phytius, Mephisto, Cuchulain, Kerberos, dan Andrealphus untuk kemudian fokus pada penyerangan. Kedua sisi Reigner tersebut tetap memiliki satu kesamaan, yaitu keduanya tetap menggunakan Follower baik untuk bertahan ataupun menyerang.

Dalam dimensi Reigner yang begitu ganas, The Magician bersama dengan The Emperor mencari sebutir telur yang telah ditinggalkan oleh Ahriman. Telur tersebut bukanlah Deimos rendahan seperti Creep yang telah mereka babat selama menyelami alam Reigner, tetapi Deimos Primera yang ditakdirkan untuk menjadi penerus Ahriman.

Telur tersebut dibawa oleh Magician dan Emperor dalam alam Vandaria untuk kemudian ditetaskan di dilepaskan agar sang telur mendalami dan ikut mencintai planet Vandaria. Zaindra, sang Deimos akhirnya menetas dan hidup diantara keluarga manusia dengan menyembunyikan identitasnya sebagai Deimos. Meski mencoba untuk menjadi manusia seutuhnya, namun takdir berkata berbeda. Zaindra tetaplah Deimos, makhluk buas dengan kekuatan mengerikan. Dengan berberat hati, Zaindra mengikuti The Emperor dan The Magician untuk menjadi pelindung mereka.

Raja Deimos di Dunia Vandaria

Zaindra tentu menjadi Hero yang diperlukan oleh Reigner Creep maupun Naraka. Sebagai kartu satuan, status Zaindra tidak boleh dipandang remeh. Zaindra boleh dianggap sebagai Andralphus versi kecil, yaitu goldcost 4, Zaindra memiliki 6 ATK dan 6 DEF. Meski tidak memiliki skill dapat memblok 3 Follower sekaligus, Zaindra memiliki skill pengganti yang jauh lebih berguna.
Skill passifnya yang memberi aura +2 ATK dan +2 DEF menjadi skill yang diperlukan oleh Reigner Naraka maupun Creep. Dalam Naraka, Zaindra mampu meningkatkan status para Deimor berkuda sehingga dapat menyerang dan memblok dengan lebih ganas. Dalam Creep, Zaindra membuat semua Creep seperti memperoleh Weeping Edens dalam versi lebih kecil secara terus menerus.

Tidak hanya itu saja, Zaindra juga memiliki mekanisme pertahanan sendiri yang membuatnya sulit untuk di”remove” dari permainan. Hanya dengan membayar 1 Null, Zaindra terlindung dari sasaran skill. Skill tentu memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari sekedar Action, sebab skill dalam Action terhitung pula sebagai Skill. Dengan adanya kemampuan ini, Zaindra dapat bertahan dari berbagai macam skill removal, seperti semburan Cresselga ataupun yang lainnya.

Skill membayar 1 Null tidak hanya sebatas melindungi Zaindra dari skill saja, tetapi juga membuatnya mampu menyerang Naval ataupu Aerial Territory. Skill menunjukkan bahwa Zaindra tidak hanya berfungsi sebagai supporter saja, tetapi juga penyerang secara langsung. Zaindra dapat menjadi kartu kunci untuk menyerang Territory-Territory yang sulit untuk digapai seperti: The Home in the Hereafter, Everlasting Bliss, dan Territory milik Meridith maupun Zatoist.

Secara menyeluruh Zaindra benar-benar menjadi sebuah kewajiban dalam Naraka maupun Creep. Hero ini tidak sekedar berfungsi sebagai penambah status Follower dan membuatnya mampu memberi gebrakan lebih, tetapi Zaindra juga dapat maju ke medan tempur secara langsung ketika keadaan memaksa.


SHARE
Previous articleReal Steel, Wolverine dan Robot Besi!
Next articleDirt 3 Party Mode, Lebih Dari Sekedar Reli!
Memulai kariernya sebagai freelance majalah Ultima Nation, Dipta berkembang hingga menjadi penulis guide di majalah Optima. Ia sempat menghilang pada tahun 2003 untuk mempelajari film di Australia. Pada tahun 2008 Dipta kembali ke Indonesia dan memimpin GAMEZiNE selama kurang lebih 2 tahun. Ia juga sempat memperoleh penghargaan MURI sebagai Pencipta TCG Indonesia Pertama melalui karyanya Vandaria Wars.