Amarah Raksasa Mengguncang Metamor

Di ekspansi Metamor, Cursed Bloodline menampakkan dirinya sebagai satu sisi sebagai lawan dari Sacred Bloodline. Setelah Imogen, kini kita akan berkenalan dengan Tuvai.

Tidak memiliki kemampuan menggunakan elemen baik secara langsung maupun untuk FrameSpell, seekstensif Sacred Bloodline, Cursed Bloodline di Metamor lebih sederhana untuk dimainkan. Karena kesederhanaannya itulah, tak banyak yang bisa dikatakan mengenai ujung tombaknya, yaitu Tuvai Cursed Bloodline.

Hajaaar!!

Konsep dari Tuvai sendiri sudah dapat anda lihat di Annam dan Sarrukh yang telah dipreviewkan sebelumnya, yaitu sebuah follower yang mampu mengakses perubahan dengan fokus ke status yang tinggi. Follower Tuvai yang dimunculkan di Metamor memiliki status yang besar dengan gold cost yang sebanding. Hanya dengan 4-5G (sudah termasuk cost perubahan jika dari bentuk manusia), sudah bisa didapatkan sebuah follower dengan status 6/1/3. Mengingat jumlah kartu bentuk manusianya juga banyak, pemain yang melawan deck Cursed Bloodline harus mempersiapkan diserang makhluk ini pada giliran ketiga.

Bentuk manusianya sendiri juga bisa diremehkan. Murderous Brute memiliki status 5/3/2 sementara Accursed Tormenter memiliki gold cost 2 dan kematiannya dapat digunakan untuk memperlambat jalannya deck Sacred Bloodline dengan menghancurkan Elemental Rune-nya. Jika dilihat juga secara lebih luas, restriksinya yang hanya berupa honor minus dan ketidaktergantungannya pada kartu pendukung lain membuatnya mudah dipakai di dek lain yang juga memiliki honor minus seperti Deimos dan Dragon.

Sangat Disturbing!

Seperti tipikal deck beatdown seperti Empire, dek Cursed Bloodline pun dilengkapi dengan Action penambah status. Bahkan kali ini penambahannya pun tidak tanggung-tanggung, dengan cost 2 bisa mendapatkan penambahan +3 ATK dan +3 VIT tanpa restriksi dalam battle.


SHARE
Previous articleModern Warfare 3 Preview: It’s Finally Here!!
Next articleMaho Merambah Mass Effect 3!
Sebagai seorang yang tertarik dengan analisis, pria yang dipanggil Ryo ini menyayangkan kurangnya hal demikian di jurnalisme pop culture Indonesia, terutama game, anime, dan komik. Harapannya adalah pengembangan budaya membaca dan menulis kritis secara khusus di Indonesia. Dia sendiri tertarik dengan berbagai macam media, namun obsesi utamanya adalah komik. Misi pribadinya adalah mengangkat karya-karya luar biasa non-mainstream yang sering dilewatkan orang.