Alice: Madness Returns… Kini Wonderland Tak Lagi Indah

Developer: Spicy Horse
Publisher: Electronic Arts
Platform: X360 PS3 PC
Release Date: 14 Juni 2011
Genre: Action Adventure

Electronic Arts (EA) rupanya tidak main-main dengan rumor yang sempat heboh di kalangan penggemar American McGee’s Alice. Rupanya benar, EA bekerja sama dengan Spicy Horse untuk menggarap sekuel dari seri action thriller adaptasi cerita dongeng klasik dari tahun 1865, Alice in Wonderland karya penulis Inggris Charles Lutwidge Dodgson (atau lebih dikenal sebagai Lewis Carrol). Dan Alice: Madness Returns ini telah rilis untuk PC, Mac, PS3 dan X360 pada 11 serta 16 Juni (wilayah Eropa) lalu.

Alice: Madness Returns mengambil setting sebelas tahun setelah seri pertamanya, dimana Alice tidak lagi menetap selama 10 tahun belakangan di Rutledge Asylum, dan dipindahkan ke Victorian London untuk dirawat secara instensif oleh psikiater ternama, sembari bekerja di panti asuhan Houndsditch Home. Alih-alih menjadi sembuh, justru karena pemindahan tersebut Alice kembali mengingat kejadian yang menimpa orang tuanya saat ia kecil yang menyebabkannya berhalusinasi dan trauma. Dalam halusinasinya, ia kembali ke Wonderland dimana ia sekali lagi mencari rasa aman dan kenyamanan. Awalnya semua berjalan baik namun entah bagaimana Alice selalu dihantui oleh hal-hal buruk. Wonderland yang indah kembali hancur dan Alice harus mengalahkan kejahatan di Wonderland untuk menguak misteri sebenarnya, terutama misteri dibalik kematian orang tuanya yang masih misterius hingga saat ini.

Karena itulah sepanjang permainan kamu tidak hanya berkutat di Wonderland saja, namun juga kembali ke Victorian London untuk menggali ingatan masa lalunya – walaupun porsi gameplay London hanya sekitar 15% saja. Selama menjelajahi Wonderland, kamu bisa memungut dua tipe memory (yang bakal dikumpulkan selama berada di London): potongan audio yang kecil menggambarkan suara-suara dari masa lalunya, dan ketika kamu mendapati memory yang lebih besar, Alice bakal makin mendapat pencerahan akan kejadian di malam dimana orang tuanya terbunuh, dan membuat luka trauma berkepanjangan.

Alice: Madness Returns tidak hanya menghadirkan rasa ngeri saat kamu memainkannya, namun juga rasa penasaran dan takjub akan ide yang sangat orisinal dari game ini. Konsep utama dari game ini sebenarnya hampir sama dengan prekuelnya, American McGee’s Alice yang sempat heboh (terutama di Eropa) pada tahun 2000 lalu. Namun perbaikan grafis di sana-sini, cerita yang baru, dan fitur-fitur yang bertambah menjadikan game ini layak untuk ditunggu kehadirannya. Satu hal lagi, walaupun Alice in Wonderland masuk kategori semua umur, saya tekankan sekali lagi, jangan biarkan adik, atau mungkin anakmu yang masih di bawah umur memainkan game ini, karena cukup banyak adegan kekerasan dan sadis terpapar dengan gamblang selama permainan.


SHARE
Previous articleFitur Menarik Konami… Lanjutkan Game Kapan Saja, Di Mana Saja!!
Next articleIkuti Alice, Meng-upgrade ”Mainan” dengan Gigi
Telah dikenal sejak satu dekade yang lalu melalui media game Ultima Nation. Saat itu artikel andalannya adalah panduan walktrough game-game RPG. Ura kemudian juga semakin dikenal lewat tulisannya yang idealis dan selalu konsisten pada satu aspek game, yaitu STORY - yang olehnya dianggap sebagai backbone sebuah game. Selain menggeluti dunia game, Ura juga penggemar gadget, dan dia memiliki hobi "ngoprek" smartphone.