Ikuti Alice, Meng-upgrade ”Mainan” dengan Gigi

Alice: Madness Returns memang mengejutkan. Bagaimana tidak, konsep dongeng yang bersahabat dan layak konsumsi oleh semua umur, diubah 180 derajat menjadi sebuah mimpi buruk. Bahkan senjata yang kamu gunakan selama permainan, atau musuh yang dihadapi si Alice, menyiratkan suatu gambaran yang sukar dinalar dengan mudah.

Kamu dapat menggunakan beberapa senjata dalam game ini, tapi kamu tidak mendapatkan semuanya sekaligus di awal perjalananmu. Kamu harus mengalahkan musuh-musuhmu atau memecahkan puzzle tertentu untuk mendapatkan senjata baru. Senjata-senjata ini hampir semuanya terbentuk dari mainan anak-anak diantaranya adalah Vorpal Blade, Pepper Grinder, Hobby Horse dan Teapot, yang mana semua senjata ini dapat kamu upgrade (maksimal hingga empat kali) menjadi kebih kuat dengan teeth/gigi (yup, bentuknya memang seperti gigi, yang sudah dicabut dari gusi) yang kamu dapatkan dari musuh, atau juga di sekitar area, dari dalam peti dan lainnya. Jadi bisa dibilang gigi di sini berlaku semacam mata uang.

Mengenai upgrade senjata, mereka bisa di-upgrade melalui parameter seperti strength, rate of fire, reload time dan lainnya. Sistem upgrade-nya bisa dikatakan mirip dengan God of War, cukup masuk ke opsi upgrade dalam menu pause dan memilih senjata mana yang bakal ditingkatkan. Sayangnya, upgrade hanya menyasar pada kekuatan senjata, bukan membuka opsi kombinasi baru atau serangan yang lebih spesial. Health si Alice juga bisa ditambah, namun kontras dengan senjata, kamu perlu usaha lebih, perlu masuk ke Challenge Room dulu, dan menyelesaikan tugas di ruangan tersebut.

Selain itu, kamu harus menemukan titik lemah musuh untuk mengalahkannya, dan itulah yang menjadikan adegan pertarungan melawan musuh sekaligus sebagai elemen puzzle tersendiri. Kamu tidak bisa begitu saja menekan satu tombol dengan senjata yang sama untuk bisa mengalahkan musuh tipe tertentu. Selama bertarung melawan musuh, kamu bisa memanfaatkan fitur auto-lock (disebut Focus Mode) yang memungkinkan serangan bisa otomatis mengenai musuh, walaupun ada juga mode free aim jika kamu lebih nyaman bermanuver secara manual, dan memilih musuh mana yang ingin dihabisi terlebih dahulu. Melalui Focus Mode, Alice bisa bebas bergerak mengelilingi musuh, menghindari serangannya, lalu balas menyerang dengan mudah.

Selain berbekal beberapa peralatan “dapur” yang mematikan, Alice juga mahir bergerak cepat untuk menghindari serangan musuh, atau melompat beberapa kali (hingga tiga kali), dan bakal terlihat efek seperti kupu-kupu berwarna biru ketika Alice melakukan manuver cepat tersebut. Dan walaupun esensinya menjadi gerakan menghindar, kamu bisa juga menggunakannya untuk bergerak lebih cepat saat menyusuri setiap area.

Ada enam chapter dalam game ini, dan mereka terangkai dalam sebuah rute yang sangat linear. Kamu banyak melakukan aktifitas platformer – lompat, jalan, lari, dan lompat lagi – serta sesekali aksi brutal melawan monster yang menghalangi jalanmu. Banyaknya platform melayang (dan terkadang tak terlihat) menjadi makanan tetapmu, dan mereka menjadi agak repetitip ketika kamu temui di setiap area. Areanya tidak terlalu luas, namun sudut pandang kameranya selalu aktif memberi view terbaik bagimu agar tidak kehilangan poin penting. Seperti opsi lock-on ke musuh ke musuh sangat membantu ketika kamu melancarkan serangan bertubi.


SHARE
Previous articleAlice: Madness Returns… Kini Wonderland Tak Lagi Indah
Next articleFilm Indonesia vs. Film Luar
Telah dikenal sejak satu dekade yang lalu melalui media game Ultima Nation. Saat itu artikel andalannya adalah panduan walktrough game-game RPG. Ura kemudian juga semakin dikenal lewat tulisannya yang idealis dan selalu konsisten pada satu aspek game, yaitu STORY - yang olehnya dianggap sebagai backbone sebuah game. Selain menggeluti dunia game, Ura juga penggemar gadget, dan dia memiliki hobi "ngoprek" smartphone.