Western RPG vs Japan RPG

Bagi para gamer yang lahir di tahun 80an dan sudah main game sejak era Nintendo pasti sudah kenal sama yang namanya game bergenre RPG (Role-Playing Game), yang secara kasar bisa diartikan dengan game bertema kerajaan dan memiliki battle system yang berbeda karena menyerangnya harus ganti-gantian. Di era 90an sampai awal 2000an game RPG sangat didominasi oleh developer Jepang, sebut saja game berjudul Final Fantasy, Dragon Quest, dan Suikoden, tidak ada satupun developer barat yang ‘berani’ membuat game di genre ini. Saya pun salah satu gamer yang lahir di era 80an sempat merasakan kejayaan game RPG Jepang, saya juga menamatkan beberapa game Final Fantasy. Tapi sejak mulai menjamurnya game PC dan dimulainya era console 7th generation (Xbox 360 & PS3) perlahan namun pasti developer barat mulai berani membuat game RPG dengan gaya mereka sendiri dan mulai menyingkirkan RPG Jepang dari tahtanya. Hal ini disebabkan karena kesuksesan Final Fantasy series di belahan dunia barat sana yang dipelopori oleh Final Fantasy VII yang berhasil membuat gamer barat melirik dan memainkannya sampai tahap menjadi fanatik, tentu saja developer barat sebagai tuan rumah merasa harus melawan balik. Dimulai dengan era PC, Blizzard Entertainment mulai memperkenalkan gamer dengan serial Warcraftnya, lalu mulai bermunculanlah game-game RPG sejenis seperti Diablo. Walaupun tidak terlibat persaingan secara langsung, developer Jepang yang dipimpin oleh SquareEnix masih belum menganggap Warcraft dan Diablo sebagai ancaman. Padahal game-game itulah yang akan menjadi cikal-bakal lahirnya Dragon Age, Fallout, Elder Scroll, Mass Effect dan sejenisnya yang mengusai pasar game RPG sekarang. Di saat game RPG Jepang sudah di atas tahta, game RPG barat harus mulai dari 0. Berbagai penolakan sentimentil terutama dari komunitas RPG datang bertubi-tubi yang mengatakan bahwa RPG barat adalah game yang melenceng dari prinsip awal RPG karena tidak memiliki story yang bagus dan lebih mirip game action-adventure dibanding RPG. Para developer barat pun juga tidak mau kalah berargumen dan menyerang balik dengan mengatakan bahwa RPG seharusnya memberikan keleluasan bagi para gamer untuk menentukan story, membuat character design sendiri dan memiliki banyak quest untuk leveling (bandingkan Dragon Age Origin dengan Final Fantasy XIII). Benarkah seperti itu? oleh karena itu saya akan membandingkan RPG barat dengan RPG Jepang dari berbagai aspek di bawah ini.

Battle System


Pertama-tama saya akan membahas dari aspek yang paling membedakan antara RPG barat dengan RPG Jepang, yaitu battle system. Battle system untuk game RPG Jepang pada dasarnya memiliki prinsip yang tidak berbeda satu sama lain yaitu turn-based, dapat melakukan command seperti menyerang ketika bar penuh. Biasanya ketika akan memulai battle stage akan berubah dan seolah berganti seperti pada game Final Fantasy series (kecuali FFXII), hal ini membuat kita kesulitan untuk melarikan diri jika menemui lawan yang lebih sulit dan biasanya monster dalam game RPG Jepang tidak kelihatan (random battle). Sedangkan battle system pada game RPG barat lebih kompleks dan variatif serta tidak didominasi dengan pedang saja justru lebih menyerupai game action. Pada Fallout series misalnya battle systemnya lebih mirip dengan game FPS, sedangkan Mass Effect series battle systemnya menyerupai Gears of War, hanya pada Dragon Age series dan game sejenisnya yang battle systemnya sedikit menyerupai RPG Jepang walau ada perbedaan yang mencolok karena monsternya kelihatan, tidak perlu ganti stage dan tidak menggunakan bar serta controlnya jauh lebih sederhana.

Story

Story adalah satu diantara faktor krusial yang menentukan apakah sebuah game bagus apa tidak, termasuk game RPG. Cerita dalam game RPG Jepang dulu hanya berkutat pada negara kerajaan dan usaha sang hero untuk menyelamatkan sang putri yang disekap di sebuah dungeon kemudian menyelamatkan dunia dari kejahatan atau sekte keagamaan tertentu. Tapi itu dulu, sekarang cerita dalam game RPG Jepang jauh lebih variatif walaupun temanya hampir sedikit mirip yaitu menyelamatkan dunia dari kejahatan yang anehnya hanya sang jagoan bersama teman-temannya satu-satunya yang berusaha menyelamatkan dunia mereka. Biasanya juga tokoh utama dari game RPG Jepang memiliki latar belakang seorang yatim piatu yang ternyata di akhir cerita mengetahui kakak atau ayahnya adalah penjahat yang ia lawan selama ini atau sang jagoan adalah the chosen one yang dianggap satu-satunya yang bisa menyelamatkan dunia, sepertinya cerita seperti itu yang lebih disukai oleh gamer kebanyakan. Game RPG Jepang juga jarang sekali yang memberikan gamer untuk menentukan keputusan yang akan merubah story dan cenderung linear. Lain dengan RPG Jepang, RPG barat juga memiliki ciri khas tersendiri dalam cerita yaitu gamer diberi keleluasaan penuh untuk menentukan pilihan keputusan yang akan menentukan story apakah mau menjadi baik terus atau malah menjadi jahat. Kita juga kadang diminta untuk menentukan sendiri latar belakang karakter utama. Hal-hal ini lah yang mungkin membuat gamer beranggapan bahwa story dalam RPG barat kurang menarik. Story dalam game barat juga kebanyakan berating M karena kerap menampilkan kekerasan dan adegan bercinta bahkan dengan sesame jenis, seperti pada trilogi Mass Effect.

Character Design

Character design dalam game RPG Jepang cenderung monoton dan begitu-begitu saja. Sang hero yang rambutnya panjang lurus atau jabrik serta berwajah tampan bak pangeran, begitu juga dengan karakter wanita yang terlihat sangat cantik dan perfect (bening gan!). sedangkan di game RPG barat character design bisa kita tentukan sendiri di awal game mau jenggotan, pendek, gendut atau sebagainya, berbeda dengan game RPG Jepang yang tidak memungkinkan kita untuk berkreasi membuat character sendiri kecuali pada game MMORPG. Di luar dari pada perbedaan itu, baik RPG barat maupun Jepang keduanya sama-sama suka menampilkan character design wanita yang seksi dengan pakaian minim bahkan sekarang developer barat berani menampilkan wanita bugil dalam gamenya.

Side-Quest

Game RPG sepertinya akan terasa hambar dan singkat tanpa adanya side-quest yang banyak dan bercabang. Game RPG Jepang lebih suka menampilkan side-quest hanya sekedar sebagai sarana untuk menaikan level dibanding untuk mengkaitkan dengan main story itu sendiri seperti pada Final Fantasy series, dulunya pun game Final Fantasy malah tidak ada side-questnya. Sedangkan pada game RPG barat tidak perlu ditanya lagi, side-quest sangat banyak bahkan porsinya lebih banyak dibanding main quest. Dan biasanya side-quest pada game RPG barat selalu berkaitan dengan main story atau latar belakang anggota party kita. Tanpa kita memainkan side-quest mungkin kita tidak akan bisa menamatkan sebuah game RPG karena lawan yang akan kita hadapi semakin sulit dan tidak bisa kita hanya mengandalkan quest yang linear untuk menaikan level kita.

Leveling System

RPG selalu identik dengan leveling system, bukan game RPG namanya kalau tidak ada leveling systemnya. Leveling system memiliki perkembangan yang sangat pesat dari pada hanya sekedar menaikan strength, agility atau intelligence atau menambah limit break, kini kita dapat menentukan skill, ability bahkan naiknya level dapat berpengaruh pada equipment yang kita gunakan. Ada beberapa game yang menyaratkan untuk menggunakan equipment tertentu harus dengan level tertentu. Pada game RPG Jepang system leveling biasanya otomatis mengisi attribute-attribute pada setiap karakter, sedangkan pada gamer RPG barat system leveling lebih personal karena kita sendiri yang bisa memilih mau menaikan attribute yang mana. Hal ini juga berkaitan dengan aspek yang akan saya bahas di bawah ini.

Class

Apakah anda lebih suka menggunakan magic dalam pertempuran, atau lebih suka mengandalkan kecepatan atau malah lebih suka memiliki karakter yang kuat dan tahan banting? Semua itu tergantung pada class untuk karakter yang anda pilih. Pada game RPG Jepang biasanya kita tidak bisa memilih sesuka kita class apa yang kita suka untuk dipakai jagoan kita, semuanya diatur oleh developer, bahkan banyak game RPG Jepang yang tidak menggunakan sistem class. Tapi mungkin terdapat pengecualian pada genre MMORPG atau beberapa game tertentu yang tidak secara gamlang mengklasifikasikan class mage, warrior atau rogue. Di game RPG barat, sejak awal kita memulai game kita sudah diminta untuk menentukan class apa yang kita sukai yang nantinya akan mempengaruhi pada battle system atau bahkan story pada game tersebut.

Armory

Dari semua aspek, aspek armory adalah bagian yang paling saya suka karena perbedaannya cukup mencolok. Pada game RPG Jepang kita tidak bisa menentukan senjata apa yang mau kita pakai, mayoritas tokoh utamanya menggunakan pedang, begitu juga dengan armor yang tidak bisa merubah penampilan kita. Pada game RPG Jepang biasanya kita hanya bisa mengequip cincin, kalung, gelang yang tidak kelihatan pada karakter yang menggenakannya. Lain halnya dengan game RPG barat yang senjata bisa sesuka kita yang menentukan, armor jg bukan sekedar armor tapi juga dapat terlihat dan berpengaruh pada pertahanan karakter kita yang dimana kalau telanjang maka defensenya akan menurun drastis.

Party

Baik pada RPG Jepang atau RPG barat kesemuanya memiliki party walaupun dalam beberapa game RPG barat seperti Fallout dan Fable kita hanya bermain sendiri, yang membedakan disini adalah sistem perekrutan tiap anggota party. Pada game RPG Jepang party member akan bertambah otomatis seiring berjalannya cerita, tapi pada RPG barat kita harus lebih hati-hati karena semua anggota party belum tentu bisa kita peroleh hanya dalam main story saja, oleh karena itu kita harus sering-sering memainkan side-quest karena member yang gabung dengan kita juga pasti akan memiliki side-quest sendiri yang mana menambah keuntungan bagi perkembangan karakter kita.

Jadi dapat disimpulkan bahwa game RPG Jepang cenderung linear, konvensional dan kurang memberi kita kebebasan untuk menentukan cerita karena kita hanya memainkan cerita yang ditentukan oleh developer, hal ini jelas bertolak belakang dengan game RPG barat yang memberi kita kebebasan sebebas-bebasnya untuk menentukan seperti apa karakter kita baik penampilan, armor, senjata bahkan cerita, mau menjadi hero atau villain semua anda yang memutuskan.

Well, itulah analisa normatif kecil saya mengenai perbedaan RPG barat dengan RPG Jepang, disini saya hanya menyampaikan secara apa adanya dan tidak melebih-lebihkan apalagi mengurang-ngurangi. Semua penilaian dan selera kembali ke diri kalian masing-masing, baik RPG barat maupun RPG Jepang memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Tidak ada pemenang disini, semuanya bagus. (Steve Rogers)

 

 

 

 

 


SHARE
Previous articleEmpat Jagoan Baru Siap Unjuk Gigi Di Mortal Kombat
Next articleWII U Akan Menjadi Konsol Termahal Di Dunia !!!!
Steve Rogers adalah pendiri grup Xbox 360 Fanboys Indonesia di Facebook yang sudah malang-melintang di dunia game kira-kira selama lebih dari 15 tahun, bahkan sejak belum bisa berdiri. Spesialisasinya adalah pemberitaan mengenai game-game barat terutama yang berkaitan dengan console Xbox. Cirinya dalam menulis adalah original, sensasional, bebas dan apa adanya, kontroversial hanyalah efek dari karyanya. Sesuai dengan motonya “doing the right thing isn’t doing the right thing”, ia tidak peduli dengan reaksi yang akan muncul terhadap karyanya karena ia menyadari maksud yang ia sampaikan belum tentu bisa diterima oleh orang lain.