Tanda Kehidupan J-RPG

RPG Jepang mendapat banyak sorotan beberapa akhir ini. Tidak sedikit yang memandangnya mengalami kemunduran. Saya adalah yang tidak setuju dengan pandangan ini. Saya melihat bahwa JRPG tidak mundur, namun berevolusi sesuai kondisi zaman menjadi sebuah industri niche . Tapi bahkan setelah mengalami evolusi, lingkungan RPG Jepang tetap merupakan sesuatu yang kejam, dengan franchise yang jatuh bangun atau menghilang dan digantikan seri baru. Maka kali ini marilah kita melihat kembali saja beberapa franchise terbesar dalam RPG Jepang tiga dekade terakhir ini dan tanda kehidupan mereka.

Perlu dicatat, ini bukan daftar lengkap J-RPG, saya dengan sengaja mengekslusikan seri yang terlalu sedikit untuk bisa disebut franchise seperti Valkyrie Profile dan seri yang saya tidak begitu kenal seperti Phantasy Star.

FINAL FANTASY

Lahir: 1986
Pemegang: Square Enix
Total game: 14 (seri utama), 30+ (spinoff)

Dimulai dari sang behemoth RPG Jepang sendiri, Final Fantasy. Satu dari sedikit RPG Jepang yang mampu meraih penjualan tinggi di barat, dan apa yang langsung terpikir oleh semua orang ketika berbicara RPG Jepang sebagai sebuah ‘genre’. Setelah kegagalan Final Fantasy: The Spirits Within dan keluarnya Hironobu Sakaguchi dari Square, sang behemoth lebih memilih untuk berburu dengan hati-hati.

Tanda kehidupan: Sang behemoth belum berhenti berburu. Square Enix menyiapkan tiga game dalam dunia Fabula Novas Chrystalis: Final Fantasy Versus XIII, Final Fantasy Type-0, dan Final Fantasy XIII-2. Sementara itu spinoff terus bermunculan dengan banyak yang memanfaatkan elemen nostalgia seperti Final Fantasy IV: The After Years, Dissidia: Final Fantasy, Final Fantasy VII: Crisis Core, dan Final Fantasy: The 4 Heroes of Light. Ironisnya, seri-seri spinoff ini justru bisa dibilang lebih sukses dari seri utamanya, dengan Final Fantasy XIII yang menuai kekecewaan dari banyak fans dan Final Fantasy XIV bahkan dianggap seolah tidak ada.

DRAGON QUEST

Lahir: 1986
Pemegang: Square Enix, Nintendo
Total game: 9 (seri utama), 15 (spinoff)

Seri Dragon Quest mengilutrasikan kondisi RPG Jepang secara umum. Sesuatu yang populer di Jepang namun menjadi sesuatu yang niche di luar Jepang. Untuk Dragon Quest, franchise ini begitu populer di Jepang sampai ada cerita tentang bagaimana Enix mendapat komplain dari sekolah dan perusahaan akibat para pelajar dan pekerjanya meninggalkan kewajiban, atau mengambil cuti, demi Dragon Quest. Kecenderungannya untuk tetap sederhana dan minim inovasi justru menjadi poin jual utamanya. Seri Dragon Quest baru mulai terdengar di luar Jepang setelah Dragon Quest VII, dan baru mulai dikenal setelah Dragon Quest VIII. Untungnya, fans luar Jepang dapat kembali menikmati Dragon Quest lawas dengan remake di NDS.

Tanda kehidupan: Masih sedikit informasi mengenai Dragon Quest berikutnya (Dragon Quest X), sementara itu beberapa spinoff muncul seperti Dragon Quest Monsters Joker. Dragon Quest selama ini belum mengecewakan fansnya, dan kepopulerannya di Jepang memastikan kelangsungan hidup franchise satu ini selama industri game Jepang masih ada.

SHIN MEGAMI TENSEI

Lahir: 1987
Pemegang: Atlus
Total game: 3 (seri utama), 24 (spinoff)

Seri Shin Megami Tensei merupakan kuda hitam di antara RPG Jepang. Di antara cerita abad pertengahan dan futuristis mencegah kehancuran dunia, seri Shin Megami Tensei mengambil setting dunia modern dengan remaja terjebak dalam kehancuran dunia. Seri utamanya bahkan mengambil setting setelah kehancuran dunia, dengan bumbu mitologi dari seluruh penjuru dunia dan Tuhan Yehuda sebagai sang boss utama. Bisa ditebak, franchise ini kebanyakan tidak dirilis di luar Jepang dan menjadi cult hit bagi sebagian penggemar RPG.

Seri Shin Megami Tensei mengalami lonjakan dalam popularitas setelah salah satu spinoff-nya Shin Megami Tensei : Persona 3 menggabungkan elemen dasar Shin Megami Tensei dengan cerita dan desain karakter yang lebih konvensional. Di luar seri Persona, spinoff yang lebih ‘gelap’ Shin Megami Tensei : Devil Survivor dan bagian dari seri utamanya sendiri Shin Megami Tensei : Strange Journey cukup mendapat cipratan kepopuleran Persona, meski tak mampu menyamainya.

Tanda kehidupan: Atlus masih diam mengenai Persona 5. Akhir-akhir ini, mereka mempromosikan Catherine besar-besaran di E3, sebuah game puzzle surealis mengenai Vincent, seorang pekerja kantoran yang terjebak dalam mimpi buruk dan dua wanita yang dihubungkan dengan seri Shin Megami Tensei hanya lewat cameonya di Persona 3 Portable. Atlus juga menyiapkan Shin Megami Tensei: Devil Survivor 2 untuk NDS dan upgrade seri pertamanya Shin Megami Tensei: Devil Survivor Overclocked untuk 3DS.

TALES


Lahir: 1995
Pemegang: Bandai Namco
Total game: 12 (seri utama), 17 (spinoff)

Seri Tales baru dimulai di Super Nintendo dengan Tales of Phantasia, namun perlahan kemudian menjadi franchise RPG Jepang terbesar setelah Dragon Quest dan Final Fantasy. Seri Tales cenderung standar secara cerita dengan tokoh utama cowok tegas, desain karakter ‘ala anime’ dan dunia gabungan abad pertengahan, sihir, dan teknologi. Kepopulerannya dipertahankan oleh desain karakter yang menarik, interaksi antar karakter dan sistem pertarungannya yang aktif dan responsif.

Seri Tales cukup konsisten popularitasnya di luar Jepang. Keputusan Bandai Namco untuk tidak merilis seluruh katalog Tales (hanya 8 dari seri utamanya yang rilis luar Jepang) mungkin tidak memuaskan sebagian fans hardcore, namun itu memastikan hanya game Tales terbaik yang mendapat sorotan.

Tanda kehidupan: Kuat, seri utama terbaru Tales of Xillia direncanakan rilis akhir 2011 di PlayStation 3. Sistem pertarungan kembali menghadirkan gameplay penuh aksi dengan janji penggunaan dua karakter secara maksimal.

KINGDOM HEARTS

Lahir: 2002
Pemegang: Square Enix, Disney
Total game: 2 (seri utama), 4 (spinoff)

Kingdom Hearts lahir dari ide gila crossover antara karakter-karakter Disney dengan karakter-karakter Square. Ketika dirilis, banyak penggemar RPG yang jatuh hati dengan cameo berbagai karakter Final Fantasy dan Disney dalam dunianya masing-masing, yang dibalut dengan gameplay aksi yang solid. Seri-seri berikutnya kemudian semakin memfokuskan ke karakter-karakter orisinilnya, dengan kekecewaan sebagian fans karena dianggap terlalu kompleks. Meski begitu, fans tetap membelinya dengan hampir setiap judul meraih bestseller di konsolnya masing-masing. Kingdom Hearts juga memiliki keunikan sebagai J-RPG yang justru lebih populer di luar Jepang daripada di Jepang itu sendiri, kemungkinan besar karena faktor Disney.

Tanda kehidupan: Square Enix terus merilis berbagai spin-off seperti Kingdom Hearts: 358/2 Days dan Kingdom Hearts: Birth by Sleep. Spin-off berikutnya, Kingdom Hearts: Dream Drop Distance untuk 3DS dan seri utama berikutnya Kingdom Hearts III masih berada dalam tahap pengerjaan.

ATELIER

Lahir: 1997
Pemegang: Gust
Total game: 19

Merupakan cult hit di Jepang itu sendiri dan tidak sepopuler Dragon Quest, awalnya seri Atelier terlihat sebagai sesuatu yang tidak akan dirilis di luar Jepang, namun kesempatan hadir lewat NIS America yang menghadirkan J-RPG kurang dikenal ke luar Jepang yang dipimpin Disgaea. Seri Atelier cenderung sederhana secara cerita karakter, dan gameplay, namun fitur utamanya terletak pada sistem alchemy berupa item craft, dengan banyak waktu dihabiskan untuk mengumpulkan bahan untuk menciptakan berbagai macam barang.

Tanda kehidupan: Seri Atelier masih populer di Jepang dan sepertinya mendapat penerimaan cukup bagus di luar Jepang terutama di kalangan penggemar anime modern, sehingga NIS America terus merilis seri Atelier dan juga seri Gust yang lain Ar Tonelico. Tahun ini NIS America akan merilis Atelier Totori: The Alchemist of Arland 2 untuk PlayStation 3 yang sudah mencapai seri ketiga di Jepang.

YS

Lahir: 1987
Pemegang: Falcom
Total game: 10

Franchise Ys dimulai dari komputer khusus Jepang, kemudian berbagai remake dan port terhadap konsol lain termasuk konsol rumah seperti PlayStation 2 dan konsol portabel seperti PSP dan NDS membuatnya menjadi sebuah franchise yang besar. Setiap serinya mengikuti formula yang sama, di mana sang pahlawan berambut merah Adol melawan semacam ancaman dari masa lalu, dengan gameplay di mana pertarungan dilakukan dengan membuat Adol menubruk lawannya. Satu yang menjadi nilai jualnya juga adalah musiknya, yang dikenang sebagai revolusioner dalam industri musik video game, dan memiliki puluhan seri CD yang dirilis berdasar franchise satu ini.

Tanda kehidupan: Ys tetap hidup dengan berbagai remake dan seri baru, meski merupakan Action RPG yang tetap sama dari awal sampai sekarang. Yang berubah mungkin hanyalah sekarang lebih tersedia bagi penggemar luar Jepang. XSeed berpartner dengan Falcom dan merilis seri terbaru Ys Seven untuk PSP dan remake Ys I & II Chronicles di Amerika. Remake dari seri lain bisa dibilang tinggal menunggu waktu saja.

SAGA


Lahir: 1989
Pemegang: Square Enix
Total game: 9

Serial SaGa bisa dibilang merupakan anak tiri dari Square. Tidak pernah sepopuler seri mereka yang lain namun terus dilanjutkan. Serial SaGa mengunikkan dirinya dengan fitur utama kebebasan dalam menggunakan karakter dan menjelajah dunia, sebagai ganti dari cerita yang koheren. Serial SaGa mencapai puncak kepopulerannya saat Romancing SaGa di Super Nintendo. Seri berikutnya, SaGa Frontier tenggelam ketika berhadapan dengan kakaknya Final Fantasy VII, dan fans pun tidak menyukainya karena kesan bahwa itu merupakan game yang separuh jadi. Seri terakhirnya Unlimited SaGa di PS2 semakin tidak disukai oleh para fans.

Tanda kehidupan: Unlimited SaGa merupakan seri terakhir, meski ada teori yang mungkin bahwa The Last Remnant merupakan penerus spiritual dari SaGa dengan fokusnya pada kebebasan dan pengembangannya di bawah Akitoshi Kawazu, namun The Last Remnant gagal di pasaran. SaGa masih terus hidup dari remake seri lamanya di NDS (terakhir SaGa 3 pada 2009), namun Square menganaktirikannya dengan tidak merilisnya di luar Jepang.

SAKURA WARS

Lahir: 1996
Pemegang: Red, Sega
Total game: 5 (seri utama), 11 (spinoff)

Menggabungkan dating sim dengan RPG strategi dan setting sejarah alternative tahun 1920-an, Sakura Wars bukan RPG pertama yang menggabungkan dating sim dengan RPG, namun berada di waktu yang tepat sebagai RPG di Sega Saturn yang saat itu miskin RPG dan promosi yang gencar melejitkan namanya sebagai satu franchise paling besar di Jepang pada tahun 1990-an. Kepopulerannya tidak pernah keluar Jepang, dengan satu-satunya seri yang diterjemahkan hanyalah Sakura Wars V, bertahun-tahun setelah rilis aslinya.

Tanda kehidupan: Hari-hari Sakura Wars telah berakhir, kafe Sakura Wars di Ikebukuro tutup pada akhir dekade lalu, dan hasil penjualan Sakura Wars V di Amerika jauh di bawah harapan NIS America. Tapi Sakura Wars masih hidup, dengan sebuah game browser yang sedang dalam tahap pengerjaan , sesuatu yang menyimbolkan jatuhnya sebuah franchise.

SUIKODEN

Lahir: 1996
Pemegang: Konami
Total game: 5 (seri utama), 5 (spinoff)

Dua game Suikoden pertama tidak pernah mencapai level kepopuleran Final Fantasy, namun dengan gabungan seratus lebih karakter per game, peperangan skala besar, unsur RPG tradisional, penceritaan yang solid, dan dunia yang dibangun dengan apik, menjadikan Suikoden salah satu game favorit para penggemar J-RPG. Kemudian Suikoden III datang, yang disukai sebagian fans dan tidak disukai sebagian lainnya. Kemungkinan besar karena Yoshitaka Murayama sang penciptanya meninggalkannya separuh jalan. Suikoden IV lebih buruk lagi dan didaulat sebagai seri terburuk. Suikoden V mencoba kembali ke keberhasilan dua seri pertama, dan cukup sukses namun tidak sepenuhnya menangkap apa yang menjadikan kedua seri pertama menarik.

Tanda kehidupan: Suikoden Tierkreis tidak gagal, namun bahkan para fans merasa asing dengan pendekatannya yang jauh berbeda (bahkan Viki dan Jeane tidak ada). Belum ada proyek baru lagi yang berhubungan dengan Suikoden yang terdengar dari Konami, namun pada awal 2010, Murayama yang sekarang memiliki perusahaan sendiri Blue Moon Studio dalam blognya menceritakan tawaran dari sebuah perusahaan. Seorang fan bisa berharap bahwa perusahaan itu adalah Konami

WILD ARMS


Lahir: 1996
Pemegang: Media.Vision
Total game: 5 (seri utama), 2 (spinoff)

Dengan keunikannya mengambil tema wild west, berhasilnya Wild Arms bisa dibilang karena ketepatan waktunya sebagai makanan pembuka bagi penggemar RPG sebelum Final Fantasy VII. Franchise ini kemudian cukup populer untuk mendapatkan sebuah anime, dan sekuel-sekuel selama satu decade berikutnya. Setiap serinya tidak saling berhubungan secara langsung, namun semuanya tetap mempertahankan atmosfer wild west dan gameplaynya yang sarat puzzle. Seri kedua cukup sukses, namun seri ketiga tenggelam ketika berhadapan dengan Kingdom Hearts, dan seri keempat dan kelima pun tenggelam dalam oversaturasi J-RPG tahun 2007-2008. Remake seri pertama kurang berhasil meningkatkan minat ke franchise, dan Media.Vision pun mencoba arah lain dengan RPG strategi Wild Arms XF di PSP yang juga kurang berhasil.

Tanda kehidupan: Wild Arms tidak pernah gagal total di pasaran, namun kehilangan dukungan dari dalam sendiri. Sony memindahkan hak penerbitan Wild Arms di Amerika setelah seri ketiga ke perusahaan lain seperti XSeed. Sony sendiri belum memberikan kabar apapun mengenai franchise satu ini, sementara Media.Vision sendiri sibuk dengan membuat game untuk iOS seperti Chaos Rings dan franchise lain seperti Valkyria Chronicles III.

STAR OCEAN


Lahir: 1996
Pemegang: tri-Ace
Total game: 4

Star Ocean dikenal untuk dua hal: Sistem pertarungannya yang cepat dan aktif seperti serial Tales, dan setting luar angkasa yang kemudian mejadi abad pertengahan. Setiap seri memiliki metode yang sama: Dimulai dari setting teknologi tinggi yang menjanjikan hal yang berbeda dengan RPG pada umumnya, kemudian dengan suatu alasan menjebak para karakternya di dunia teknologi rendah penuh klise RPG pada umumnya sampai akhir permainan. Meskipun begitu, sistem pertarungannya berhasil membuat Star Ocean 2 sebagai poin tertinggi di franchise. Kekecewaan fans mulai terdengar ketika Star Ocean 3 membuat sebuah plot twist raksasa yang sangat menurunkan nilai cerita kedua seri sebelumnya . Setelah itu ada usaha meremake Star Ocean 1 dan 2 untuk PSP dan seri besar berikutnya Star Ocean 4.

Tanda kehidupan: Star Ocean 4 tidak gagal di pasaran, namun menuai banyak kekecewaan dengan desain karakter yang hambar dan usaha humornya yang rendahan. Gosip mengatakan Star Ocean 4 merupakan game terakhir franchise ini, dan melihat tri-Ace mengerjakan RPG lain seperti Resonance of Fate dan dua judul untuk 3DS dan PSP, mengonfirmasikan indikasi tersebut.

LUNAR


Lahir: 1992
Pemegang: Game Arts
Total game: 2 (seri utama), 2 (spinoff)

Lunar merupakan apa yang bisa disebut sebagai pola dasar untuk sebuah J-RPG. Seorang cowok pahlawan yang menolong seorang putri di dunia abad pertengahan dengan sihir. Keberhasilan Lunar bisa dipertanggungjawabkan kepada Working Designs, yang dengan penerjemahannya yang lebih bagus daripada standar mempopulerkan Lunar kepada penggemar RPG di Amerika, juga pada waktunya di mana penggemar J-RPG luar Jepang masih haus akan J-RPG yang cukup berkualitas. Meski begitu, tidak ada kabar mengenai Lunar ketiga, dan Game Arts seolah menganaktirikan franchise satu ini dengan Grandia, kemungkinan diakibatkan masalah hak cipta dengan Studio Alex. Barulah pada 2005 muncul seri baru yaitu Lunar: Dragon Song untuk DS. Bahkan pemilik fansite Lunar membencinya.

Tanda kehidupan: Lunar bisa dibilang masih hidup hanya karena remakenya. Namun remake terakhir, Lunar: Silver Star Harmony untuk PSP gagal di Jepang dan belum ada kabar mengenai remake untuk Lunar 2: Eternal Blue.

GRANDIA


Lahir: 1996
Pemegang: Game Arts
Total game: 3 (seri utama), 2 (spinoff)

Daripada membuat Lunar 3, Game Arts lebih memilih membuat RPG baru, yaitu Grandia. Grandia memiliki nuansa ceria seperti Lunar, dengan setting dunia yang lebih modern dan sustem pertarungan yang lebih aktif. Grandia II menggunakan pendekatan yang bertolak belakang dengan nuansa yang kelam di mana tokoh utama yang ‘bandel’ melawan gereja jahat, plot RPG ke-999. Meski sistem pertarungannya dipuji, aspek lain yang terlalu standar tidak cukup untuk menunjang keberadaannya. Grandia Xtreme tidak memberikan gaung apa pun, dan Grandia III meski tetap dengan sistem pertarungan yang solid, terlalu linear dan minimal dalam aspek lain sehingga tidak berkesan.

Tanda kehidupan: Satu-satunya tanda kehidupan hanyalah Grandia Online, yang disetting sebagai prekuel dan masih berada dalam tahap open beta semenjak 2009. Jangan berharap untuk Grandia IV.

BREATH OF FIRE


Lahir: 1993
Pemegang: Capcom
Total game: 5

Apa yang diingat orang mengenai Breath of Fire adalah karakter-karakternya yang unik dan separuh hewan. Manusia katak, penyihir pohon, separuh anjing, dan tokoh utama yang mampu berubah menjadi naga. Terhalang oleh gameplay yang standar, Breath of Fire tetap cukup populer untuk berjalan sampai seri keempat. Seri kelima mencoba berinovasi dengan sistem pertarungan yang bebas dan mekanisme-mekanisme yang unik. Hasilnya bisa ditebak, gagal.

Tanda kehidupan: Meski Breath of Fire merupakan sesuatu yang bisa disebut sebagai franchise RPG terbesar Capcom, Capcom sudah melupakannya. Tidak ada seri berikutnya atau bahkan remake sekalipun yang terdengar. Capcom pun tidak memberikan kesempatan cameo sekalipun di game-game crossovernya seperti NamcoXCapcom, Tatsunoko VS Capcom, dan Marvel VS Capcom 3.

XENOSAGA

Lahir: 2002
Pemegang: Monolith Soft
Total game: 3 (seri utama), 2 (spinoff)

Xenosaga awalnya mendapat banyak sorotan karena hubungannya dengan Xenogears, RPG cult hit yang dibuat sang pencipta Tetsuya Takahashi di Squaresoft. Ide Takahashi sepertinya terlalu besar untuk sebuah game. Direncanakan sebagai enam seri game, Xenosaga berkembang menjadi terlalu sinematis dan referensi Kristianitas,Gnostik, dan Nietzsche yang berlebihan. Xenosaga Episode I dan II mengalami masalah dengan custcene yang terlalu panjang, dan Episode III menyederhanakan semuanya untuk dapat mengakhiri cerita setelah kesabaran Namco habis. Dan Xenosaga pun berakhir tanpa hubungan dengan Xenogears yang ditunggu dari awal.

Tanda kehidupan: Xenosaga sudah selesai, namun karakter utamanya KOS-MOS terus hidup lewat cameo, seperti di Super Robot Taisen OG: Endless Frontier yang dibuat Monolith Soft. Game terbaru Monolith Soft, Xenoblade dikatakan tidak memiliki hubungan dengan Xenogears dan Xenosaga.

SHADOW HEARTS

Lahir: 1999
Pemegang: Sacnoth/Nautilus
Total game: 4

Shadow Hearts dimulai dengan Koudelka, semacam gabungan antara RPG dengan survival horror. Sacnoth kemudian mencoba membuat semi-sekuel Shadow Hearts dengan nuansa yang kelam dan sistem pertarungan unik yang berdasarkan timing. Baru sekuelnyalah Shadow Hearts: Covenant yang berhasil mendapat banyak perhatian berkat gabungan antara kekelaman dengan humor yang absurd, seperti salah satu karakternya yang merupakan seorang vampire pegulat yang juga super hero ‘bertopeng’. Konsep humor ini ditingkatkan di sekuelnya, Shadow Hearts: from the New World, yang membawa vampire obesitas, kucing raksasa, dan ninja Brazil ke Amerika.

Tanda kehidupan: Sacnoth telah bubar, dan mayoritas mantan stafnya bergabung dengan feelplus yang hasil karyanya terlihat di The Lost Odyssey. Sutradara Shadow Hearts: Covenant sendiri Matsuzo Machida membuat game suksesor spiritual Shadow Hearts untuk PSP, Arms’ Heart. Tidak ada yang menyukainya.


SHARE
Previous articleVideo Baru Playstation Vita Menunjukkan Fitur Tercanggihnya!!!
Next articleSolatorobo – Red the Hunter, Mainkan “Tail Concerto” di DS!
Sebagai seorang yang tertarik dengan analisis, pria yang dipanggil Ryo ini menyayangkan kurangnya hal demikian di jurnalisme pop culture Indonesia, terutama game, anime, dan komik. Harapannya adalah pengembangan budaya membaca dan menulis kritis secara khusus di Indonesia. Dia sendiri tertarik dengan berbagai macam media, namun obsesi utamanya adalah komik. Misi pribadinya adalah mengangkat karya-karya luar biasa non-mainstream yang sering dilewatkan orang.