Tidak Ada Frostbite Engine 2.0 di Battlefield 3 Versi Console?

Cuplikan Battlefield 3 versi console yang baru saja ditayangkan di acara Jimmy Fallon telah mengungkapkan fakta yang sangat mengecewakan dan mengejutkan. Terlihat dalam cuplikan tersebut, bahwa telah dikonfirmasikan bahwa versi console game ini tidak menggunakan Frostbite engine 2.0 seperti yang telah banyak diiklankan dan dipamerkan pada versi PC.

Tidak akan sedinamis ini di console.

Konsekuensi dari tidak digunakannya engine tersebut di console bagi gamer yang jeli adalah efek kehancuran hanya terdapat di daerah di mana yang akan game lalui saja, bukan perusakan dinamis yang menyeluruh seperti yang dipertontonkan oleh DICE pada saat pengembangannya. Jika anda menembak bangunan tertentu pun bahkan tidak runtuh atau meledak. Perbedaan pada versi console dalam kualitas akan terlihat mirip dengan Battlefield: Bad Company 2 dengan peta, misi dan senjata yang tetap dari Battlefield 3, sedangkan PC akan menggunakan Frostbite engine 2.0 secara full sesuai dengan yang ditampilkan oleh media, pemasaran, dan iklan.

Efek ledakan dan bangunan runtuh hanya sebatas area yang kita jelajahi saja.

Battlefield 3 akan hadir untuk Xbox 360, PC, dan PlayStation 3 November ini dan akan menggunakan dedicated server seperti Battlefield: Bad Company 2, sebuah langkah yang tepat untuk multiplayer online. EA dan DICE adalah publisher dan developer yang berada di balik game yang memfokuskan Frostbite engine 2.0 milik PC ini.

Sumber:
Gamekicker.com


SHARE
Previous articleDua Kabar Terbaru Di Dunia Deus Ex: Human Revolution
Next articleMari Berkemah Dan Bertualang Bersama “Mama”
Steve Rogers adalah pendiri grup Xbox 360 Fanboys Indonesia di Facebook yang sudah malang-melintang di dunia game kira-kira selama lebih dari 15 tahun, bahkan sejak belum bisa berdiri. Spesialisasinya adalah pemberitaan mengenai game-game barat terutama yang berkaitan dengan console Xbox. Cirinya dalam menulis adalah original, sensasional, bebas dan apa adanya, kontroversial hanyalah efek dari karyanya. Sesuai dengan motonya “doing the right thing isn’t doing the right thing”, ia tidak peduli dengan reaksi yang akan muncul terhadap karyanya karena ia menyadari maksud yang ia sampaikan belum tentu bisa diterima oleh orang lain.