Western RPG vs Japan RPG Part II

Final Fantasy XIII (FFXIII) dan Dragon Age 2 (DA2) adalah dua game RPG yang sama-sama memimpin diantara dua kubu dan memiliki banyak kesamaan, makanya saya pilih sebagai objek perbandingan pada analisa ini. Kedua game tersebut akan saya bandingkan dalam sepuluh kriteria yang saya dapatkan dari beberapa narasumber secara empiris, dari kesepuluh kriteria ini kita akan tahu apakah kedua game itu bisa dibilang RPG atau hanya setengah-RPG atau malah bukan RPG. Huruf O mewakili bahwa game tersebut memenuhi salah satu kriteria sedangkan huruf X tidak memenuhi kriteria. Kesepuluh kriteria ini hanya merupakan pendapat dan tidak bersifat mengikat, jadi jika ada yang tidak sesuai dengan pendapat pembaca, harap dimaklumi.

 

1. Time: Berubahnya waktu dari siang ke malam dalam satu dungeon, kota atau stage

 

Kita dapat menentukan sendiri waktu pada DA2

Time dalam game FFXIII sangat monoton (tidak ada perubahan dari siang ke malam), mungkin ini dikarenakan alur gamenya yang linear sehingga kita tidak bisa kembali ke stage sebelumnya jadi tidak bisa melihat kota Oerba atau Bodheum di waktu yang berbeda. Sedangkan pada DA2 sejak awal kita sampai di Kirkwall kita sudah bisa memilih waktu siang atau malam, bahkan keadaan antara siang dengan malam sangat berbeda begitu juga dengan questnya yang hanya tersedia pada salah satu waktu saja. Tapi tidak semua stage pada DA2 bisa berubah waktunya, hanya di Kirkwall.

(FFXIII: X DA2: O)

 

2. Multiple Ending: Ending yang tidak hanya satu, tapi memiliki banyak ending

Hanya ada satu ending pada FFXIII

Franchise Final Fantasy memang memiliki ciri khas sejak dahulu yaitu hanya memiliki satu ending begitu juga dengan FFXIII, tapi hal itu digantikan dengan gameplay yang lama. Berbeda dengan FFXIII, DA2 memiliki beberapa pilihan ending tergantung pada class dan pilihan event yang kita tentukan, hal ini jelas membuat para fansnya semakin penasaran untuk melihat seluruh ending dan juga bisa menambah waktu bermain tersendiri.

(FFXIII: X DA2: O)

 

3. Item Building: Fitur untuk upgrade, kombinasi, kostumisasi, dan reparasi item, armor atau senjata

FFXIII memiliki semua fitur diatas kecuali reparasi, malah FFXIII melengkapi fitur tersebut dengan sistem levelling pada item dan senjatanya, tapi sangat disayangkan tidak semua fitur langsung terbuka dari awal tapi dicicil sepanjang permainan. Pada DA2 juga sama, hanya minus fitur reparasi tapi DA2 juga memiliki fitur tambahan yaitu enchantment yaitu fitur untuk menambah efek pada senjata dan armor dari elemen tertentu. Pada DA2 kita juga bisa membuat item sendiri.

(FFXIII: O DA2: O)

 

4. Trade: Fitur dasar untuk jual-beli

FFXIII memiliki fitur trade yang sangat mobile

Pada FFXIII fitur trade dibuat sangat sederhana, mudah dan efisien karena semua dapat dilakukan pada save point bukan pada penjual item seperti pada kebanyakan game RPG, tapi ada satu kekurangan yang menurut saya cukup krusial yaitu sulitnya mencari uang pada game ini ditambah mahalnya harga item untuk menaikan level senjata. Sedangkan pada DA2, konsep trading masih menganut konsep tradisional yaitu pemain harus menemui penjual untuk membeli, menjual atau menempa equipment tertentu. Di satu sisi, FFXIII lebih mudah sistem tradingnya tapi di sisi lain DA2 jauh lebih realistis.

(FFXIII: O DA2: O)

 

5. Potion: Item penunjang dalam battle

Item bisa digunakan kapan saja di DA2

Salah satu fitur yang wajib dalam sebuah game RPG. FFXIII memiliki barisan item yang lengkap dan berjenjang contohnya potion dan mega potion yang dapat mengheal seluruh party member. Sedangkan pada DA2 juga sma namun lumayan lebih sulit untuk mendapatkannya. Pada DA2 setelah battle status efek dan damage tidak kembali normal seperti pada FFXIII maka kita harus tetap menggunakan item untuk menyembuhkannya.

(FFXIII: O DA2: O)

 

6. Specific Party Member: Anggota party yang memiliki skill dan kemampuan yang berbeda

Tidak hanya peran tapi latar belakang tiap member juga berbeda

Pada FFXIII setiap member memiliki skill yang berbeda dan mewakili gaya bertarungnya dalam battle dan juga latar belakang cerita yang berbeda. Skillnya mereka dapat diupgrade sepanjang permainan dan pada saat menjelang akhir permainan semua member yang tadinya hanya memiliki skill-skill tertentu dapat diunlock skill lainnya. Sedangkan pada DA2 tiap member memiliki class yang berbeda mulai dari warrior, mage dan rogue yang juga mempengaruhi gaya bertarung dalam battle, sistem upgrade pada tiap class juga lebih sederhana dan pendek. Sebenarnya ada lebih banyak class di DA2 yang akan terbuka dan dapat ditambahkan pada saat permainan.

(FFXIII: O DA2: O)

 

7. Non-linear Story: Cerita yang bercabang dan tidak terpaku pada satu alur

Salah satu ciri khas seri Final Fantasy yang lain adalah ceritanya yang linear, tidak terkecuali pada FFXIII. Hal ini mungkin dikarenakan sang developer lebih menginginkan penempatan karakter dan cerita yang lebih kuat. Sedangkan pada DA2, sebenarnya kita sudah menentukan ending jauh semenjak dari awal game. Hanya dalam satu class saja sudah ada beberapa ending, apalagi berbeda class pasti lebih banyak lagi. Bahkan ending yang kita pilih akan berlanjut pada kelanjutan sequel pada game ini seperti pada Mass Effect series.

(FFXIII: X DA2: O)

 

8. Good/Bad Karma: Pemilihan jalan yang ditempuh oleh pemain apakah tetap menjadi baik atau malah menjadi jahat

Franchise Final Fantasy selalu setia dengan good karma

FFXIII selalu menempatkan sang hero pada satu sisi yaitu kebaikan, tidak ada pilihan lain karena konsep dari Final Fantasy adalah menyelamatkan dunia. Sedangkan pada DA2 seiring dengan berjalannya game, kita akan diberikan banyak pilihan yang menentukan kemana langkah kita. Walaupun tidak secara gamblang disebut good atau bad karma tapi kita bisa menilai sendiri langkah mana yang sebetulnya ditempuh oleh sang hero.

(FFXIII: X DA2: O)

 

9. Multiple Dialogue: Pilihan jawaban dalam dialog

Jawaban yang kita pilih juga berpengaruh pada karma kita

Dialog pada game FFXIII tidak memberikan kebebasan pada gamer untuk memilih, paling hanya antara yes atau no saja yang sebenarnya tidak ada pengaruhnya pada cerita. Sedangkan pada DA2 pilihan dialognya melingkar dan berkesinambungan juga bisa menentukan karma kita, jadi banyak yang bisa kita pertimbangkan dan kita pilih yang akan berpangaruh pada keseluruhan cerita.

(FFXIII: X DA2: O)

 

10. Levelling: Peningkatan atribute dan skill party untuk menunjang permainan

Sistem levelling pada FFXIII agak sedikit berbeda dengan game-game Final Fantasy terdahulu, sistem levelling digantikan dengan sistem crystarium yang dapat dinaikkan dengan crystarium point, sistem levelling yang sebenarnya malah ada pada senjata dan equipment. Kalau pada DA2, sistem levelling masih standar dan serba manual yaitu kita yang menentukan atribute mana yang mau kita tingkatkan. Kalau menurut saya pribadi justru jauh lebih personal.

(FFXIII: O DA2: O)

 

Kesimpulan dari perbandingan diatas adalah FFXIII memiliki 5 X dan 5 O dari 10 kriteria, sedangkan DA2 memiliki 10 O dan tidak ada X dari 10 kriteria. Jadi disini bisa disimpulkan bahwa FFXIII merupakan game setengah RPG karena banyak melewati kriteria yang cukup krusial bagi saya, berbeda dengan DA2 yang memiliki presentasi sempurna sesuai dengan apa yang disebut game RPG karena menurut saya RPG adalah kitalah yang menentukan akan menjadi apa dan jalan mana yang akan ditempuh dalam game, hal itulah yang membedakan RPG dengan game action-adventure. Saya memang tidak memainkan semua game RPG tapi bukan berarti saya tidak bisa memberikan pendapat saya ke dalam sebuah tulisan, ingat artikel ini hanyalah merupakan pendapat dan perbedaan pendapat itu wajar. Bagi pembaca yang merasakan ada kekurangan pada artikel saya ini silahkan menyampaikan kritik dan saran yang positif, mohon maaf jika masih banyak kekurangan. (Steve Rogers)

 

 

 

 


SHARE
Previous articleThe Amazing Spiderman New Details And Photos!!
Next articleLighter untuk Assassin’s Creed 2, Brotherhood dan Revelations
Steve Rogers adalah pendiri grup Xbox 360 Fanboys Indonesia di Facebook yang sudah malang-melintang di dunia game kira-kira selama lebih dari 15 tahun, bahkan sejak belum bisa berdiri. Spesialisasinya adalah pemberitaan mengenai game-game barat terutama yang berkaitan dengan console Xbox. Cirinya dalam menulis adalah original, sensasional, bebas dan apa adanya, kontroversial hanyalah efek dari karyanya. Sesuai dengan motonya “doing the right thing isn’t doing the right thing”, ia tidak peduli dengan reaksi yang akan muncul terhadap karyanya karena ia menyadari maksud yang ia sampaikan belum tentu bisa diterima oleh orang lain.