Derap Langkah Fiksi Fantasi Indonesia

Genre novel fiksi fantasi sebenarnya bukan sesuatu yang baru di Indonesia. Kita sudah mengenalnya lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ketika wabah Harry Potter ikut melanda Indonesia. Dan setelah kisah petualangan si harry sukses, kisah-kisah fantasi yang lain pun segera mengikuti. Selama sepuluh tahun belakangan, banyak novel fiksi fantasi dari luar negeri bermunculan. Dan mengikuti kesuksesannya, cerita-cerita dari dalam negeri pun mulai menampakkan sosoknya.

Tanpa bermaksud terdengar pesimis, perkembangan genre ini dari dalam negeri masih belum begitu menggembirakan. Paling tidak belum mampu membuat penggemar fiksi fantasi seperti saya merasa kita mampu membuat trend novel yang kuat seperti novel-novel luar.

Saya masih ingat, novel bergenrte fiksi fantasi karya lokal yang pertama adalah Ledgard, yang terbit pada tahun 2006 kemarin. Dan walau saya menganggap itu adalah sebuah karya yang bagus untuk karya pertama (dan juga untuk ukuran penulis Indonesia), tidak ada novel berikut yang sama bagusnya untuk meneruskan perjuangan Ledgard sebagai novel fantasi karya tanah air.

Saya tidak mengatakan bahwa penulis fiksi fantasi kita “mati” setelah Ledgard. Ada banyak novel serupa yang terbit setelah itu, tapi mereka semua seolah muncul hanya untuk mengikuti euforia. Banyak yang bermunculan menjagokan fantasi mereka tapi tidak ada yang mampu membawa kisah yang luar biasa. Mereka semua akhirnya bernasib sama seperti Ledgard.

Sebenarnya, apa yang membuat cerita-cerita fantasi Indonesia tidak bisa berkembang dan menjadi raja di negeri sendiri? Ada beberapa faktor, menurut saya, yang menjadi penyebabnya. Salah satunya adalah usia perkembangan fiksi fantasi di Indonesia yang bisa dibilang masih sangat muda, jika dibandingkan dengan perkembangan genre ini di luar sana.

Hype fiksi fantasi baru benar-benar menggema di negeri kita setelah kisah Harry Potter, dan juga Lord of the Rings, ditampilkan di layar lebar. Itu berarti kita mengenal genere ini baru sekitar belasan tahun saja. Bandingkan dengan genre serupa yang telah muncul sejak lebih dari enam puluh tahun yang lalu dengan novel Wizards of Earthsea. Novel yang sama baru terbit di Indonesia beberapa tahun yang lalu.

(Perlu diingat, saya lebih memakai contoh kisah-kisah modern yang terbit setelah abad 19 dan 20. Karena menurut saya, cerita ini lebih bisa disebut fiksi fantasi dan bukan sekedar kisah mitos suatu bangsa)

Melihat usia yang masih sangat muda ini, wajar rasanya jika kita juga masih “seenaknya” dalam mendefinisikan fiksi fantasi. Banyak penulis-penullis fantasi yang mendefinisikan fantasi sebagai “apapun yang tidak bisa dinalar dengan logika”. Dan sebagai akbatnya, banyak fiksi fantasi “aneh” bermunculan di Indonesia.

 

Selain yang saya sebutkan di atas, masih ada beberapa masalah lain yang kebanyakan berkisar pada teknik penulisan, tapi artikel saya ini tidak bertujuan untuk menjabarkan kejelekan mereka. Lebih tepatnya, saya ingin melihat seperti apa trend yang akan populer dan bertahan dalam genre ini di masa depan. Baik dari penulis lokal, maupun penulis luar.

Satu trend yang bisa saya lihat adalah, novel-novel klasik akan semakin banyak bertebaran di etalase buku.

Wizards of Earthsea bisa dibilang menjadi pemicu trend ini. Dan melihat respon pasar yang sangat baik, penerbit lain pun mengikuti jejaknya. Mulai dari seri Eye of the World (serial yang masih ongoing sampai sekarang kalau saya tidak salah ingat), sampai juga seri Discworld yang terbit sejak tahun 80-an. Seri Discworld bisa dibilang mencapai kesuksesan yang sama dengan serial Earthsea, karena penerbit Elex sudah menerbitkan dua serinya, dan segera akan menyusul seri yang ketiga.

Sebagai seorang penggila bacaan fantasi, tentu geliat trend seperti yang saya sebut di atas terdengar sangat menggembirakan. Saya tidak lagi merasa canggung dan minder jika harus mengikuti pembicaraan sesama penggila buku dari luar negeri. Dan tentu saja, ini juga adalah kabar baik bagi penulis fiksi fantasi seperti saya, karena ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari karya klasik seperti ini.

Trend kedua yang saya lihat, sebaliknya, membuat saya merasa sedikit khawatir.

Bukan karena trend ini buruk. Trend ini justru sangat baik dalam menunjang minat baca di Indonesia. Tapi jika tidak segera bersiap, dunia fiksi fantasi dalam negeri mungkin harus berjuang ekstra keras untuk bisa tetap eksis.

Trend berikut yang saya maksud adalah adaptasi serial game ke novel.

Mungkin memang sudah bukan berita baru lagi bahwa beberapa serial game besar memiliki wujud novel atau cerita pendek resmi yang berkaitan dengan game-nya. Warcraft dan Halo sudah sejak lama memiliki versi novel panjang. Seri final fantasy sendiri memiliki beberapa cerita pendek resmi yang sering kali berhubungan dengan cerita utama game-nya.

Dan trend ini mulai berkembang di Indonesia dengan diterjemahkannya novel Assassin’s Creed.

Saya tahu sebelum ini memang sudah banyak novel adaptasi game yang dijual di Indonesia. Tapi hampir semuanya masih berbahasa Inggris dan hanya didistribusikan di toko-toko buku khusus seperti Kinokuniya atau Periplus. Kehadiran Assassin’s Creed dalam versi terjemahan bisa dibilang adalah sebuah keputusan besar, yang berakhir positif bagi penikmat novel fantasi, dan juga penggemar game-nya sendiri.

Sewaktu pertama kali saya melihat novel ini di etalase bukupun, saya merasa senang setengah mati. Tidak membayangkan ancaman yang dibawa oleh novel adaptasi game seperti ini bagi para penulis fiksi fantasi di dalam negeri. Saya baru menyadarinya ketika saya dan seorang kawan bertukar pendapat mengenai buku ini.

Kawan saya itu berkata pada saya. “Dan, novel Assassin’s Creed ini cuman pembuka. Kalau novel ini sukses, novel-novel game lain bakal giliran masuk Indonesia. Siap nggak kamu melawan mereka semua?”

Kalimat teman saya itu benar-benar menyentak. Saya pun menyadari bahwa perkataannya memang benar. Jika harus menilai secara objektif, novel-novel fantasi karangan penulis Indonesia masih belum cukup mampu jika harus diadu dengan berbagai novel adaptasi game ini. Tidak, saya tidak bicara soal kualitas. Karena saya tahu dan kenal sendiri beberapa penulis yang kualitasnya tidak kalah dengan penulis lain dari luar negeri. Saya juga tidak mempertanyakan kreatifitas mereka, atau kemampuan mereka untuk memasarkan buku-buku karangan mereka. Saya tahu mereka memang cukup mampu untuk melakukan itu semua.

Yang menjadi dasar kekhawatiran saya adalah sesuatu yang dimiliki oleh para novel adaptasi itu dan masih jarang dimiliki oleh penulis fantasi Indonesia: Fanbase.

Jika sebuah novel dengan judul dan brand yang sudah terkenal, ditambah lagi menggunakan cover dari seorang tokoh yang tidak asing di mata dan hati para gamer, kemungkinan mereka untuk mengambil dan membeli novel tersebut sangat besar. Bahkan jika mereka belum pernah membaca novel fantasi sebelumnya.

Jika karya-karya terkenal seperti Warcraft, Diablo, atau F3ar mulai meluncurkan novelnya di Indonesia, mereka tidak akan memerlukan budget marketing terlalu banyak (paling tidak, tidak sebanyak jika dibandingkan menerbitkan novel tanpa fanbase). Para fans sendiri yang akan mempopulerkan buku ini dari mulut ke mulut, dan hampir bisa dipastikan mereka akan membeli, atau setidaknya berusaha untuk membeli, setinggi apapun harganya. Dan hal ini yang masih belum banyak dimiliki penulis fantasi dari Indonesia.

Kebanyakan para penulis fantasi Indonesia lebih terfokus untuk mempopulerkan dirinya, dan bukan karya mereka. Sering, malah, nama mereka lebih terkenal di kalangan para penulis dibandingkan nama cerita mereka atau nama karakter buatan mereka. Walaupun memang tindakan mereka ini tidak salah, tapi saya menganggap itu tidak cukup kuat untuk menghadapi serbuan novel adaptasi game seperti di atas.

Menghadapi serbuan novel yang sudah memiliki fanbase-nya sendiri ini, saya pesimis rangkaian novel individu akan mampu bertahan. Jika seandainya memang ada satu atau dua penulis yang mampu membuat sebuah karya yang mampu mengungguli fanbase para novel adaptasi, segolongan kecil seperti mereka saja tidak cukup prospektif untuk meregenerasi para penulis, sehingga di masa depan masih akan dijumpai novel-novel lokal yang berkualitas.

Saya tidak ingin nasib genre fiksi fantasi di masa depan hanya didominasi oelh novel-novel dari luar, terlepas apakah novel itu merupakan novel adaptasi atau tidak. Yang saya khawatirkan adalah gempuran novel-novel seperti ini akan menghambat perkembangan para penulis fiksi fantasi dari Indonesia, dan kondisi terburuk yang terjadi, bisa saja mereka kehilangan semangat dan kemampuan untuk terus bertahan di dunia perbukuan Indonesia.

Jadi bagaimana cara mengatasinya? Bagaimana cara memastikan bahwa genre fiksi fantasi Indonesia tidak akan terputus pada generasi kita saja, dan memastikan dunia fiksi fantasi Indonesia terus maju dan mampu berkembang menghadapi gempuran novel luar seperti apapun yang akan datang?

Cara paling sederhana adalah dengan membesarkan dan mengembangkan brand kita sendiri. Sehingga mereka nantinya tidak hanya akan mengenal novelisnya, tapi karya-karya sang novelis juga akan mampu hidup dan berkembang lebih besar dari bayangan penulisnya sendiri.

Jadi, seperti apa wajah genre fiksi fantasi di masa depan? Dan berapa besar karya Indonesia sendiri mengambil peran di dalamnya? Paling tidak, saya melihat, kita juga memiliki karya yang mampu menggerakkan massa fanbase-nya untuk menandingi gempuran novel adaptasi. Sehingga apapun yang terjadi di masa depan, kita akan siap.


SHARE
Previous articleFreddy Krueger Menteror Mortal Kombat
Next articleMau Jadi Dokter Gigi + Cewe Cantik? Ke Jepang Aja!!
Gamer sejak lahir. Ardani telah mengenal dunia game sejak ia belum bisa membaca. Dimulai dari Mario Bros dan Duck Hunt di console Nintendo Entertainment System, kecintaannya akan dunia ini tidak pernah hilang. Selain video game, ia juga sangat senang membaca dan membuat cerita. Ia telah menulis di banyak genre dan beberapa kali mempublikasikannya di internet. Saat ini ia sedang membantu membesarkan dunia Vandaria lewat novel-novel ciptaannya.