Western RPG & Japanese RPG Part: ?

RPG Jepang dan RPG barat. Seperti genre game lain yang sudah banyak dikenal, setiap tipe RPG ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan secara otomatis mereka juga akan memiliki penggemar berat yang sangat menggilai mereka, juga orang-orang yang tidak mengerti kenapa salah satu tipe RPG bisa populer dan berjaya.

Beberapa hari belakangan, Duniaku.net menjadi tempat adu komentar yang sangat heboh. Semuanya karena ada dua kelompok yang masing-masing menjadi penggemar setia salah satu jenis RPG ini. Dan seperti apa yang layaknya terjadi jika fanboys dari dua kelompok ditemukan, pasti yang ada adalah kerisuhan dan percekcokan tiada akhir.

Artikel saya ini tidak bermaksud untuk melanjutkan seri “adu genre” yang sudah ada sebelumnya. Saya hanya ingin menjabarkan kedua genre RPG ini dari sudut pandang saya sendiri. Tentu saja, pendapat ini bisa saja salah dan bisa juga diacuhkan sepenuhnya. Terserah pada masing-masing pembaca.

Let’s start from the basic, shall we?

 

1. Graphics

Game RPG Jepang terkenal dengan wajah para karakternya yang begitu mulus, indah tanpa cacat layaknya karakter dalam anime. Sementara RPG barat pada umumnya lebih menekankan pada grafis yang realistis. Tidak jarang game2 RPG barat mengedepankan efek bekas tebasan atau darah setelah adegan battle. Sementara game RPG Jepang umumnya memiliki grafis yang lebih ramah.Bagi mereka yang memang mencari sebuah game membuat mereka benar-benar masuk dalam dunia game-nya itu sendiri, game RPG barat adalah pilihan yang pantas. Sedangkan yang menyukai anime/ manga seleranya akan cenderung memilih RPG Jepang.

Bagi saya, grafis RPG barat yang terlalu realistis justru menjadi salah satu faktor yang membuat saya merasa bosan ketika memainkannya. Kenapa? Karena saking realistisnya, setelah memainkannya selama beberapa jam segalanya jadi terasa monoton. Tidak ada special effect yang dahsyat yang bisa membuat saya terpukau atau menahan nafas ketika ada suatu scene penting yang terjadi dalam game, misalnya.

It's just like real life.

RPG Jepang sebaliknya. Selain grafis karakternya yang indah, adegan battle atau cutscenes penting dalam game sering kali dipenuhi dengan special effect yang sangat memanjakan mata. Berbagai gerakan sihir atau action memukau juga turut membuat saya semakin membuat saya bergumam “Wow”. Satu dari beberapa faktor yang membuat saya merasa betah dan nyaman memainkan RPG Jepang.

 

2. Battle system

Battle system adalah salah satu elemen penting dalam sebuah RPG, karena sebagian besar waktu permainan akan dihabiskan oleh pemain dengan membabat para monster. Battle system ini juga menjadi salah satu ciri pembeda antara kedua RPG, dengan perbedaan yang sangat khas diantara keduanya. Seperti apa itu? Mari kita lihat:

Dalam perkembangannya, genre RPG Jepang membuat berbagai macam gameplay battle yang berbeda-beda, walaupun masih tetap terasa mirip diantara semuanya. Salah satu kemiripan yang hampir selalu ada pada game RPG Jepang adalah gameplay-nya yang turn-based. Pemain dan musuh mengambil giliran masing-masing untuk menyerang dan bertahan. Satu unsur dasar ini lalu dibumbui dengan berbagai macam inovasi.

Sistem turn-based yang klasik
Kombinasi tombol yang berbeda menciptakan skill yang berbeda
Bukan cuma antar karakter, tapi juga battle antar negara

Mungkin perbedaan gameplay ini tidak terlalu mencolok, tapi cukup membuat saya merasakan ada sesuatu yang baru dan lain dalam tiap game. Mengurangi rasa bosan yang ada ketika memainkannya.

Sedangkan game RPG barat?

Ketemu musuh? Hajaarr... pake skill kalo perlu
Ketemu musuh? Hajaarr... pake skill kalo perlu
Ketemu musuh? Hajaarr... pake skill kalo perlu

Salah satu ciri khas dari game RPG barat adalah pertarungannya berjalan dalam real-time, dan pemain hanya mengendalikan salah satu karakter. Tapi saya tidak melihat adanya inovasi gameplay yang signifikan dari sekian banyak game RPG barat yang sudah beredar. Gameplay setiap game terasa sama, dengan hanya grafis yang membedakannya.

 

Dari segi inovasi, saya rasa RPG Jepang lebih unggul.

 

3. Story

Ini adalah salah satu poin yang begitu dibanggakan gamer RPG barat dibandingkan RPG Jepang. Bahwa game2 RPG mereka bisa bebas memilih jalan cerita mereka sendiri, kebalikan dengan RPG Jepang yang ceritanya sudah diatur dan tidak bisa dirubah. Masing-masing pihak bisa memiliki pendapat mereka sendiri tentang hal ini, tapi menurut saya faktor diatas tidak penting.

Saya tidak mempedulikan apakah jalan cerita itu sudah diatur, atau gamer pilih sendiri. Yang saya lebih perhatikan adalah ceritanya. Lebih tepatnya, bagaimana cerita itu berkembang dan akhirnya berjalan menuju akhir konflik yang memuaskan.

Karena kebetulan saya juga adalah pembuat cerita, saya bisa membedah jalan cerita umum kedua game ini lebih mendalam dan menentukan mana yang lebih cocok untuk selera saya. Jalan cerita dari suatu media hiburan secara umum bisa dibagi menjadi dua tipe. Yang pertama adalah character-driven story, dan yang kedua adalah plot-driven story.

Character-driven adalah tipe cerita dimana karakter menjadi penggerak utama jalannya cerita. Hampir selalu para karakter di tipe cerita ini memiliki tujuan atau ambisi yang kuat dan akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya.

Plot-driven adalah sebuah cerita dimana para karakter digerakkan ke suatu tempat atau peristiwa demi memajukan cerita. Karakter dalam tipe cerita ini bisa jadi memiliki tujuan atau ambisi, tapi unsur dari luar dirinya lebih berperan dalam menggerakkan cerita.

Menjelaskan tipe cerita ini akan lebih mudah menggunakan contoh. Final Fantasy 13 pada awalnya adalah sebuah cerita bertipe plot-driven, tepatnya pada saat Serah diberi tanda L’cie oleh Fal’cie. Tapi jalan cerita setelah itu benar-benar ditentukan oleh karakternya. Bagaimana Serah merasa takut dan merahasiakan nasibnya pada Snow dan Lightning. Bagaimana Snow menerima Serah setelah mengetahui takdirnya. Lightning yang tetap tidak percaya dan menganggap semua itu bohongan. Hope yang sempat dendam dan ingin membunuh Snow. Sampai bagaimana Dajh, putra Sacjhe, dijadikan L’cie dan menjadi alasan utama Sacjhe bergabung dengan party pun karena ada campur tangan Fang dan Vanille.

Semua cerita setelah game bermula, ditentukan oleh pilihan yang diambil para karakter. Tepatnya, karakter yang memiliki tujuan dan ambisi. Dan ini membuat gamenya terasa lebih hidup.

tiap karakter memiliki alasan sendiri untuk berjuang

Sementara Dragon Age 2 adalah tipe cerita plot-driven. Bermula dari rumah sang tokoh utama yang hancur karena Darkspawn (awal cerita klise yang sudah banyak digunakan), kepergian sang karakter menuju Deep Roads, kedatangan para Qunari yang menimbulkan kerusuhan besar nantinya, hingga masa tiga tahun Kirkwall tanpa Viscount semuanya terjadi bukan atas keinginan atau ambisi dari karakter utama

Qunari. Datang hanya untuk menjalankan peran antagonis

Unsur penting dari tipe cerita plot-driven adalah elemen cerita di luar karakter utama memiliki peran lebih banyak dalam menentukan jalannya cerita. Walaupun para pemain “merasa” ikut menentukan jalannya cerita berkat banyaknya pilihan jawaban sepanjang perjalanan, jika sang tokoh utama tidak memiliki ambisi yang kuat dan mampu membuat pemain berempati padanya, maka itu adalah tipe cerita plot-driven.

Contoh lebih jelas tentang game RPG barat dengan tokoh tanpa ambisi ini adalah Fallout: New Vegas. New Vegas saya anggap sebagai salah satu game paling membosankan yang pernah saya mainkan karena tokoh utamanya yang benar-benar tidak punya ambisi. Sepanjang perjalannya menjelajahi Mohave, dia hanya ingin mengambil kembali barang kirimannya yang hilang, sementara apa pentingnya barang itu bagi dia tidak pernah diberitahukan kepada pemain.

Akhirnya saya berhenti memainkan game itu setelah membunuh Mr. House dan chip yang seharusnya saya antarkan itu selesai peranannya. Dan saya yakin saya masih belum mencapai setengah jalan cerita.

Berbeda dengan tipe cerita character-driven yang, walaupun jalan ceritanya terasa lebih linear, tapi para pemain tidak merasa terpaksa mengikuti ceritanya. Melainkan dengan suka rela mengikuti perkembangan para tokoh utama karena mereka mampu berempati dengan tujuan dan perasaan para tokoh utama. Kemampuan untuk membuat para pemain berempati dengan karakter ini juga salah satu syarat cerita character-driven. Dan karenanya, tipe cerita ini cenderung lebih emosional dan melekat di hati para pemain.

Siapa yang bisa melupakan adegan ini?

 

4. Comic relief

Atau biasa disebut juga dengan sisi humor. Bagian-bagian kecil dalam cerita yang membuat kita tertawa terbahak atau sekedar tersenyum simpul. Bukan bagian yang harus ada dalam sebuah RPG bagi saya, tapi tetap memberi nilai tambah yang berarti. Terutama untuk membuat saya nyaman melewati puluhan jam permainan yang pasti ada di setiap RPG.

Dalam RPG Jepang, unsur ini sangat terasa. Walau sebanyak apa porsinya tergantung dari game-nya itu sendiri. Salah satu sebab kenapa unsur humor ini bisa banyak terdapat pada RPG Jepang adalah karena ceritanya yang umumnya bersifat character-driven, sehingga sifat dan personality para karakter pun sangat jelas dan kuat. Personality karakter yang kuat otomatis menciptakan hubungan antar karakter yang jelas pula. Dan dalam hubungan yang kuat inilah humor bisa datang tanpa dipaksa.

RPG barat sebaliknya, hampir tidak ada yang menyertakan unsur humor ini di dalamnya. Satu-satunya game RPG barat yang bisa membuat saya tertawa terbahak ketika saya memainkannya adalah Dragon Age: Origins, dan itupun karena ada Alistair. Tanpa Alistair, jalan cerita game itu akan terasa sangat serius dan gelap. Dragon Age 2 juga tertolong berkat kehadiran Alistair sebagai raja Ferelden, tapi kehadirannya terasa terlalu singkat. Setelah itu, Dragon Age 2 tidak memberikan humor yang berarti lagi.

 

 

5. Music

Let me say it it one word. Final Fantasy 13’s music ROCKS. Dan bukan hanya seri itu saja yang memiliki musik memukau. Seri Final Fantasy lainnya, dan juga banyak game-game RPG Jepang lainnya, memiliki beragam musik yang semuanya sangat enak didengarkan. Baik musik in-game, maupun yang dijual dalam keping CD OST terpisah, musik-musik dari RPG Jepang sangat luar biasa. Sesuatu hal yang tidak bisa saya katakan untuk saudara baratnya.

Game RPG barat sangat miskin akan OST yang bermutu. Mungkin karena mereka terlalu mengedepankan realitas dalam bermain game, sehingga mereka tidak memberikan musik-musik yang keren pada waktu in-game, ataupun cutscene.

New Vegas sekali lagi menjadi contoh yang baik. Sepanjang jalan raya hancur yang sepi, yang bisa kita dengarkan hanya suara angin, debu, pasir, dan (kalau beruntung) kaokan gagak di kejauhan. Kalaupun kita ingin ada musik yang menemani, kita hanya bisa mendengarkannya melalui siaran radio yang tidak bisa ditangkap di sembarang tempat. Siaran radionya pun sangat membosankan. Hanya mendengarkan sang penyiar berkoar entah apa dan musik yang bisa kita dengarkan lewat channel musiknya pun tidak membuat perjalanan sepi jadi nyaman.

Satu-satunya game RPG barat dengan musik dan sound effect yang saya sukai hanyalah Star Wars: Knight of the Old Republics 2. Dan itupun karena saya adalah seorang fanboy Star Wars.

 

 

6. Quest

Salah satu hal yang menjadi trend dalam game RPG belakangan ini. Walaupun sama-sama memiliki quest, tapi quest antara RPG Jepang dan RPG barat sangat jauh berbeda. Dalam RPG Jepang, kebanyakan quest yang ada hanya bersifat for fun dan tidak membutuhkan waktu banyak untuk memainkannya. Menjalani quest ini juga tidak akan mendistraksi perhatian pemain dari jalan cerita utama yang sedang terjadi.

Dalam RPG barat, quest-nya sangat panjang untuk dijalankan. Dan karena itu sering kali mendistraksi pemain dari story utama yang sedang berjalan. Banyaknya quest ini mungkin bisa jadi salah satu cara untuk mengobati kebosanan pemain ketika menjalani quest utama dari game-nya. Sehingga ada selingan sesaat sebelum harus menjalani quest utama yang membosankan itu lagi. Setidaknya, itulah yang saya lakukan sewaktu saya masih kuat memainkan New Vegas.

 

 

7. Glitch

Need I say more? Saya tidak tahu orang-orang seperti apa yang menjadi QC untuk game-game RPG barat, tapi sepertinya mereka senang sekali meluncurkan game yang setengah jadi. Banyak sekali glitch yang ada pada game-game RPG barat yang sangat mengurangi kenyamanan saya memainkannya. Mulai dari New Vegas (saya tidak perlu menyebutkan lagi ada berapa banyak glitch-nya) hingga Dragon Age 2. (saya sempat tidak bisa memasuki area dock. Kostum karakter juga tidak berubah ketika saya mengganti equipment). Dan walaupun saya belum pernah memainkannya, saya dengar serial Mass Effect juga memiliki banyak glitch di dalamnya.

Sementara game RPG Jepang? Boleh saya bilang semuanya diluncurkan dengan kualitas siap main. Hampir tidak ada glitch yang sangat mengganggu permainan dalam setiap RPG Jepang yang pernah saya mainkan. Sekali lagi ini menunjukkan keunggulan RPG Jepang atas saudara baratnya.

Jadi apa kesimpulannya? Walaupun RPG barat memang memiliki keunggulan dan, bisa dibilang, sedang menanjaki tangga popularitas saat ini, mereka tetap tidak bisa menandingi RPG Jepang. Terutama dalam hal cerita dan kemampuan untuk melekat di hati pemain. Beberapa ciri khas RPG Jepang juga tidak bisa diungguli oleh RPG barat.

Tapi selain kedua tipe RPG di atas, masih ada satu lagi tipe game yang menurut saya merupakan “RPG sesungguhnya”. Sebuah game dimana kita bisa dengan bebas membuat karakter, menentukan jalan ceritanya seperti apa, memilih job yang puluhan jumlahnya, menaiki spesialisasi dalam job-job tersebut, sampai menjalin hubungan romance yang sangat bebas dan tidak harus dengan aggota party sendiri.

Sebuah game yang benar-benar memberikan kebebasan bagi kita untuk memainkannya seperti apapun juga. Sebuah game yang memiliki fleksibilitas permainan yang bahkan jauh mengungguli Dragon Age 2.

 

Inilah dia, the best RPG ever!!!!

 


SHARE
Previous articleMainkan 5 Seri Game God Of War Dalam 1 Paket HD??
Next articleResident Evil 6 Muncul Ke Permukaan
Gamer sejak lahir. Ardani telah mengenal dunia game sejak ia belum bisa membaca. Dimulai dari Mario Bros dan Duck Hunt di console Nintendo Entertainment System, kecintaannya akan dunia ini tidak pernah hilang. Selain video game, ia juga sangat senang membaca dan membuat cerita. Ia telah menulis di banyak genre dan beberapa kali mempublikasikannya di internet. Saat ini ia sedang membantu membesarkan dunia Vandaria lewat novel-novel ciptaannya.