Google Plus… Antara Twitter dan Facebook, Atau Menggantikan Keduanya?

Sudah mencoba Google Plus (G+)? Masih menunggu invitation di approve oleh Google, atau masih mencari teman yang sudah icip-icip jejaring sosial minimalis tersebut dan meminta undangannya? Minimalis, bahkan menurut saya G+ memposisikan diri di antara Twitter dan Facebook.

Masih ingat ketika Friendster, Facebook hingga Twitter pertama kali muncul dan mendapatkan momennya. Namun jujur saja, saya tidak merasakan kehebohan seperti ketika pertama kali Google memberikan undangan untuk masuk menjadi generasi pertama pengguna G+.

Memang secara sederhana, G+ adalah jejaring sosial baru, halaman website yang seperti biasa setiap hari mengisi hari-hari kita, terutama mereka yang memang lebih banyak di depan layar PC—atau jika di-block oleh IT kantor, BlackBerry, Android, Symbian, iPhone hingga ponsel Java mampu menjadi penyambung koneksi dengan para “teman-teman online” kita. Namun G+ bukan sekadar jejaring sosial. Bisa dikatakan menjadi evolusi paling maju sebuah social networking, yang bisa merubah cara pandang kita akan arti sebuah kebebasan pribadi.

Satu yang paling saya sukai adalah karena terintegrasi langsung dengan semua layanan Google yang sudah kita kenal. Ketika sibuk membaca email di Gmail, saya tidak perlu meninggalkan layar Inbox hanya untuk mengintip apa yang terjadi di account Google Plus. Cukup tekan ikon Notification, dan langsung muncul dengan luwesnya panel notification yang juga sekaligus menunjukkan aktifitas para anggota Lingkaranku. Demikian juga ketika saya sibuk dengan berita RSS terbaru di pagi hari, atau memantau jadwal dan melihat Calendar, sambil berharap ada yang ulang tahun di minggu ini, semua aktifitas Google Plus bisa dipantau dengan mudah. Kesan minimalis dalam antar mukanya juga sangat membantu. Tak perlu berpikir dua kali ketika melihat tampilannya, karena Google dengan lihainya menyembunyikan semua opsi tidak penting yang bakal mengganggu aktivitas sosial kita di sana.

Dan saat ini pun, pasti banyak yang menunggu Google mulai membuka satu-per-satu kanal integrasi G+ dengan produknya yang lain. Kamu tidak bisa meninggalkan Facebook dan (mungkin…. mungkin lho ya!) Friendster, karena game-gamenya yang adiktif? Jangan salah, sebelum G+ aktif, Google sudah menyiapkan Chrome Web Store, yang isinya selain aplikasi Extension bagi Google Chrome, namun juga menyimpan game-game seru seperti Angry Birds. Saya juga yakin, suatu saat nanti kamu bisa mengklik ikon +1 (istilah “LIKE” dakam G+) dan memainkan mereka secara langsung di tengah account G+. Tidak ketinggalan, layanan seperti Google Maps yang eksis di hampir semua ponsel dan smartphone, Google Images dan Search yang makin canggih, atau mau yang advance seperti Picassa, seharusnya ke depan, tinggal menunggu waktu semuanya dimaksimalkan.

G+ juga memberi solusi privasi terbaik yang tidak saya dapatkan dari jejaring sosial sejenis. Dan secara “diet,” inilah G+: Jika saya ingin menulis blog, atau e-mail, atau istilah cuma sekadar men-tweet berita singkat, kamu tinggal katakan apa yang ingin diutarakan, dan putuskan pada siapa pesan tersebut boleh dibagi.

  • Jika ditujukan untuk “Publik,” maka itu sebuah posting blog.
  • Jika ditujukan untuk “Semua yang ada di Circle saya” maka itu sebuah tweet.
  • Jika ditujukan untuk Circle “Relasi / Klien” maka itu sebuah laporan bisnis.
  • Jika ditujukan untuk satu orang saja, bisa jadi sebuah surat cinta kepada pacar atau luapan rasa kangen kepada ibu.

Bagaimana pun, jejaring sosial adalah sebuah layanan. Produk yang hanya bisa dirasakan benefitnya, dan tidak mungkin di “LemBiRu” begitu saja. Dan untuk memaksimalkan manfaatnya, atau kepuasan klien, tinggal bagaimana layanannya terus diperbarui. Karena itulah, tidak heran jika Mark Zuckerberg pun terang-terangan mempelajari seperti apa sih, G+ itu. Popularitas G+ menarik minat Zuckerberg, CEO Facebook dan beberapa staffnya untuk ikut mencicipinya. Jika ingin tahu halaman G+ milik Mark, kamu bisa masuk account-nya yang ada di sini.

Yang menarik, follower Mark justru yang terbanyak lho yang ada di G+, bahkan mengalahkan popularitas founder Google sendiri, Larry Page. Tercatat, hingga akhir akhir Juli ini, “penggemar” Mark sudah mencapai 350 ribu orang, sedangkan Larry “baru” mendapatkan pengikut sekitar 200 ribuan saja. Langkah Zuckerberg ini pun diikuti oleh beberapa staffnya. Tercatat, ada 62 pegawai Facebook yang menjajal G+ ini antara lain Chief Operating Officer  Sheryl Sandberg dan Bret Taylor. Wow! Semoga saja para jawara Facebook tersebut bisa mempelajari apa yang menjadi keunggulan G+, dan menerapkan dalam paket layanan “counter attack” di Facebook mereka nanti.

Tapi sayangnya, kabar terbaru dia bakal menutup account-nya, dengan alasan tidak mau terlacak sedang berada di mana.  Ya ya, memang dengan integrasi Google Maps (apalagi Latitude-nya), semua orang bakal tahu kita sedang dimana, bersama siapa, dan sedang melakukan apa…. (kok jadi seperti lagu ya?). Tapi bukankah fitur tersebut bisa dinonaktifkan?

Terus… terus… terus scroll ke bawah ya, masih ada lagi kok teksnya….

Note: Untuk Febrizio, teks artikelmu tak “jupuk” sedikit ya…. hehe!

Oh ya, jika ingin mengetahui lebih jauh mengenai G+, tunggu saja artikel khususnya dalam Zigma #105, yang terbit awal Agustus 2011 nanti.



SHARE
Previous articleZigma #104… Segera Dapatkan di Toko Buku/Majalah Terdekat!!
Next article10 Tokoh Antagonis Film Serial Anak Anak Jaman Dulu
Telah dikenal sejak satu dekade yang lalu melalui media game Ultima Nation. Saat itu artikel andalannya adalah panduan walktrough game-game RPG. Ura kemudian juga semakin dikenal lewat tulisannya yang idealis dan selalu konsisten pada satu aspek game, yaitu STORY - yang olehnya dianggap sebagai backbone sebuah game. Selain menggeluti dunia game, Ura juga penggemar gadget, dan dia memiliki hobi "ngoprek" smartphone.