Harry Potter 7 Part 2 Review: Akhir Petualangan Harry Potter

Setelah berbulan–bulan bioskop di seluruh Indonesia kurang menikmati film berkualitas yang ditayangkan di studio-studionya, pada Jumat tanggal 29 Juli ’11 kmarin mendapat sebuah angin puyuh. Bagaimana tidak? Pembukaan perilisan movie Hollywood di Indonesia dibuka dengan premiere movie yang ditunggu oleh jutaan fans nya di dunia, Harry Potter and The Deathly Hallows – Part 2 (HP 7 Part 2). Bukan pertanyaan lagi bagaimana antusias para fans HP series untuk menyaksikan saga terakhir dari series yang sudah hadir sejak tahun 2000. Sikap antusias ini dapat dilihat dengan antrean panjang di setiap gedung bioskop. Sepertinya penayangan HP 7 Part 2 di semua studio di tiap kota tidak dapat menahan sebagaimana antusias para fans HP. Tapi apakah semua antusias dan antrean panjang ini dibayar dengan baik oleh David Yates?

Pertama, story dari Part 2 langsung melanjutkan cerita dari Part 1 yang tayang tahun lalu. Jadi jangan kaget kalau movie ini terkesan terburu-buru (karena adegan tidak terburu buru nya sudah termakan di Part 1). Apalagi yang belum menonton Part 1 dijamin akan kebingungan dan tidak mengerti ceritanya sama sekali, saya sangat rekomendasikan untuk melihat Part 1 terlebih dahulu atau melihatnya lagi untuk lebih mengerti Part 2.

Cerita mulai berjalan seketika Voldermort menemukan Elder Wand, tongkat sihir terkuat milik Dumbledore yang dijuluki tongkat terkuat yang pernah ada. Tidak dapat disangkal lagi dengan Elder Wand dan sihir gelap milik Voldermort mampu membuatnya sebagai salah satu villain terkuat yang pernah ada. Di lain sisi, Harry sedang mencari Hocrux, sekumpulan barang misterius yang jika dihancurkan mampu membuat Voldermort semakin lemah. Di Part 1 Harry sudah menemukan beberapa Hocrux, namun jumlah itu masih belum mampu membuat Voldermort mudah untuk dikalahkan. Dalam Part 2, Harry berjelajah untuk menemukan sisa Hocrux agar dapat mengalahkan Voldemort.

Eits, tapi installmen terakhir dari saga HP tidak akan berakhir dengan simpel seperti kutipan kalimat singkat di atas. Namun semua rahasia yang tersembunyi dan kerap ditanyakan dalam HP semua akan terjawab disini, bahkan ada satu adegan yang dijamin akan membuat penonton non-pembaca akan kaget. Sayang semua rahasia yang ada disini kurang dapat di deliver dengan baik di bioskop Indonesia, akibat subtitle yang agak kacau (mungkin hanya satu dua kata yang salah, namun kesalahan ini cukup fatal dan menyebabkan banyak penonton yang bertanya–tanya). Dan ada beberapa yang membuat saya kecewa disini, Cara perekaman dalam part II seperti melihatkan apa yang akan terjadi setelah ini, setelah itu dll yang membuatnya sangat mudah ditebak (padahal saya sendiri bukan pembaca novel nya maupun fans HP). Kemudian adegan romance yang berkesan cuma setengah setengah. Dan juga adegan akhir yang berkesan sedikit awkward.

David Yates, director series HP mulai installmen ke 5 ini dipercaya kembali setelah membuat HP 7 Part 1 dengan baik tahun lalu. Trio Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson yang sudah menemani kita dalam 10 tahun ini memaksimalkan kemampuan aktingnya disini. Ralph Fiennes (Lord Voldemort) juga patut diberi jempol menjadi salah satu villain yang dapat dikenang sepanjang masa. Dari semua teman Harry, Neville Longbottom yang diperankan oleh Matthew Lewis memegang peran cukup banyak disini . Namun dari semua cast itu hanya 1 nama yang aktingnya sangat berkesan, Alan Rickman aka Severus Snape yang menurut saya sendiri patut diberi piala oscar dalam penghargaan tahun depan. Hampir 100% dari semua karakter yang ada dalam saga Harry potter kembali ditampilkan disini dengan apik untuk penutupan terakhir saga Harry Potter.

Mengesampingkan semua hal di atas, David yates dan JK Rowling patut diberi applause akan akhir klimaks dari saga yang sudah berumur 10 tahun ini. Terutama pertempuran dalam sekolah Hogwarts yang sangat berkesan dan juga didampingi oleh spesial effect yang bagus. Oleh karena semua itu, saya beri Harry Potter and The Deathly Hallows Part 2 score 4/5.


SHARE
Previous articleOmega #92… Segera Dapatkan di Toko Buku/Majalah Terdekat!!
Next articleEVO Tournament 2011: Ajang Kekalahan Champions
Codenamed Archangel, next gen Game yang masih berkedudukan SMA di Surabaya Timur Bertumbuh besar dengan bantuan dari game seperti Halo dan Twisted Metal. Menyukai banyak genre video game dari shooter, sports, action, WRPG, racing. Sangat up to date dengan dunia next gen gaming dan suka menulis apapun tentang video game ataupun movie Aktif dalam komunitas grup gaming facebook dan mendapat posisi baik dalam grup besar seperti Xbox 360 Fanboys Indonesia, Playstation Square, World of Nintendo, Gamer Inside, Band of Indonesian Gamers, dan Zigma Omega. Dikenal memiliki penyakit overhobbies, tidak hanya gaming tetapi juga expert dalam bidang movies, musics, mangas, animes, figures, sports.