An Anecdote: Video Game Logic

 


Ferelden. Negeri ini berada dalam bahaya serangan Darkspawn yang bisa menghancurkan seluruh negeri ini. Namun Loghain, pria paling berpengaruh di negeri ini mengancam kehancuran negeri ini sendiri karena dia meremehkan ancaman Darkspawn demi keyakinannya akan kemandirian Ferelden.
Karena itulah, tanggung jawab jatuh kepada diriku. Aku adalah seorang Grey Warden yang mengambil tugas untuk menyatukan negeri ini melawan Darkspawn. Aku telah melakukan semua yang kubisa. Inilah puncaknya. Landsmeet. Pertemuan para bangsawan dan pemimpin negeri Ferelden. Aku akan meyakinkan mereka bahwa Loghain salah dan Ferelden harus bersatu.

Tuduhan langsung menghadangku begitu aku datang. Beberapa bangsawan mendukungku. Keputusan yang benar untuk membantu mereka sebentar dengan mengesampingkan sebentar tugas utamaku.
Kemudian Loghain menuduhku menculik putrinya Ratu Anora. Aku tidak khawatir. Loghain sendiri yang melakukannya. Semuanya akan berjalan lancar.
Tapi kemudian Anora menuduhku yang menculiknya. Ups, seharusnya aku berbicara lebih diplomatis kepadanya, aku lupa bahwa dia wanita yang pintar dan licik. Seharusnya aku tidak menyebutkan rencanaku untuk menjadikan Alistair raja.

Dalam sekejap keadaan berbalik. Semuanya percaya bahwa aku yang salah. Uh, tuan-tuan? Kalian tidak tahu bahwa aku punya dukungan dari para dwarf dan elf? Kalian tidak tahu bahwa aku yang menyelamatkan Circle of Magi negeri ini? Tidak?

Voting diambil. Dua bangsawan pertama mendukungku. Aku sedikit percaya diri. Tapi ternyata hanya mereka pendukungku. Hasil voting empat lawan dua. Aku merenung sebentar dan memikirkan semua kesalahan yang aku lakukan. Dialog dengan Anora jelas merupakan kesalahan terbesar. Seharusnya aku mengamankan bukti bahwa Loghain terlibat dalam perdagangan budak. Templar gila yang kutemui di penjara itu seharusnya kubebaskan karena dia punya bukti bahwa Loghain terlibat dengan Blood Mage. Bangsawan yang kubunuh di penjara mungkin orang brengsek, tapi  seharusnya aku lebih menuruti logika daripada kata hatiku untuk membunuhnya.
Renungan itu cuma beberapa saat namun terasa begitu lama. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Penjara? GAME OVER?
Jika ini adalah sejarah, sejarah akan mencatat kehancuran sebuah negeri yang memilih untuk hancur daripada bersatu. Tapi tidak, ini adalah ceritaku. Aku adalah seorang pahlawan video game, dan video game ingin aku untuk menang. Begitu para penjaga mendekat, Arl Eamon bangsawan pendukungku memutuskan untuk melawan dengan kekerasan. Aku pun mengikutinya.

Pertarungan yang terjadi kemudian tidak susah. Loghain pun bukan tandingan gempuran 2 Mage, apalagi di tingkat kesulitan Normal. Setelah aku menang, semuanya berubah pikiran dan memutuskan siapa yang benar diputuskan dengan duel. Yang benar yang menang. Hukum rimba.
Duel melawan Loghain berhasil kumenangkan. Alistair menjadi raja. Anora diasingkan. Kesimpulannya jelas. Aku membuat banyak keputusan politik yang salah sebelum dan saat Landsmeet dan video game memberiku kartu kemenangan gratis. Aku menerima gelarku sebagai pemimpin melawan Darkspawn. Tidak ada seorang pun yang berbicara mengenai kudeta berdarah yang baru kulakukan.

Bukan aku yang mengalahkan Darkspawn, tapi logika video game.


SHARE
Previous articleTop 10 Game Yang Tidak Layak Dimainkan Saat Puasa
Next articleChapter Kedua Untuk “Trails Series” Adalah The Legend of Heroes: Trails of Blue
Sebagai seorang yang tertarik dengan analisis, pria yang dipanggil Ryo ini menyayangkan kurangnya hal demikian di jurnalisme pop culture Indonesia, terutama game, anime, dan komik. Harapannya adalah pengembangan budaya membaca dan menulis kritis secara khusus di Indonesia. Dia sendiri tertarik dengan berbagai macam media, namun obsesi utamanya adalah komik. Misi pribadinya adalah mengangkat karya-karya luar biasa non-mainstream yang sering dilewatkan orang.