Harry Potter and The Deathly Hallows – Part 2, a Second Look… (SPOILER ALERT!!)

Mengatakan pemutaran Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 (HP 7 Part 2) sukses di Indonesia adalah suatu under statement. Bagaimanapun juga setelah berpuasa film Hollywood papan atas selama hampir setengah tahun, sudah sewajarnya jika para penggemar film layar lebar di Indonesia menggila. HP 7 Part 2 ini adalah sebuah fenomena, kapan lagi kamu pernah melihat bioskop yang hanya menayangkan satu judul film di 4-6 studio sekaligus (dan ini terjadi di banyak studio), kapan lagi kamu pernah melihat antrian karcis bioskop sepanjang 500 – 1000 meter (terjadi di Bandung), dan kapan lagi 21 mengubah kebijakan mereka atas pembelian tiket menggunakan M-Tix? Apapun yang terjadi bisa dipastikan 100% bahwa HP 7 Part 2 ini sukses luar biasa di Indonesia.

Jadi bisa dikatakan apapun yang saya katakan di review kali ini tidak akan memberikan efek apapun juga. Saya yakin 99% pembaca artikel ini masih akan melihat HP 7 Part 2 dengan antusiasme menggebu-gebu. Tapi hal tersebut justru mendorong saya untuk menulis review ini. Memang bung Kevin Suryanto sudah menulis reviewnya, tapi saya ingin memberikan perspektif lain, yaitu dari sisi penulis yang sudah membaca novel dan melihat film layar lebarnya.

Saya ingin memulai dengan sisi buruk dari HP 7 Part 2 ini. Pertama, jangan melihat versi 3D-nya karena kamu hanya akan membuang-buang uang. Versi 3D dari HP 7 Part 2 ini adalah salah satu film 3D terburuk yang pernah saya tonton. Hanya ada satu momen (yang berlangsung sekitar 1-2 menit) dalam film sepanjang 2 jam ini yang bisa dibilang memiliki efek 3D, sisanya? Jangan ditanya deh. Bukan berarti gambarnya kabur dan tidak fokus loh ya, hanya saja efek 3D nya bisa dibilang sangat-sangat minim.

Sisi buruk yang kedua adalah, bagaimana sutradara film ini, David Yates sekali lagi gagal untuk menemukan intisari dari versi novelnya, dan justru membuat penambahan/pengurangan yang bisa dibilang membantai buku karangan JK Rowling tersebut. Saya tidak memprotes adegan tambahan antara Ron dan Hermione di Chamber of Secret, saya juga tidak terganggu ketika penerobosan ke Gringotts dan pertemuan dengan Abeforth terasa begitu diremehkan, saya bahkan tidak memprotes bagaimana Voldermort mampu mengumpulkan ribuan pengikut dan masih tidak mampu meluluhlantakkan Hogwarts dalam satu serangan. Ini karena saya tahu bahwa hal tersebut memang sengaja dibuat agar film layar lebarnya menjadi lebih seru, tapi masih memiliki durasi tayang yang bisa ditolerir. Tapi ada beberapa hal yang tidak bisa saya tolerir sama sekali…

Salah satu hal yang paling menganggu saya adalah bagaimana Yates menggambarkan Harry Potter sebagai penyihir yang memiliki kekuatan setara dan bisa bertarung satu-lawan-satu melawan Voldermort. JK Rowling tidak pernah menyetarakan Harry dengan Voldemort (yang kekuatannya setara, atau bahkan lebih kuat dari Dumbledore), Harry hanyalah remaja berumur 17 tahun yang cukup pandai dalam penggunaan beberapa sihir untuk menangkal ilmu hitam. Bahkan jika mau dibandingkan, Hermione jauh lebih jago dan menguasai sihir tingkat tinggi daripada Harry.

Ada alasan mengapa Harry bisa mengalahkan Voldemort, dan ada alasan juga mengapa JK Rowling tidak menggambarkan adegan tarung satu-lawan-satu yang menegangkan antara Harry dan Voldemort di novelnya. Memang saya bisa memahami keinginan Yates yang ingin memberikan berbagai aksi seru untuk penonton. Bagaimanapun juga tidak mungkin ia mengikuti novel dimana adegan pertarungan klimaksnya dimulai dan diakhiri dengan satu sihir saja. Tapi ia seharusnya tidak menambahkan adegan pertarungan satu lawan satu antara Voldermort dan Harry. Kenapa tidak menuruti bukunya dan menggambarkan bagaimana Voldemort bertarung dengan empat orang sekaligus?

Hal lain yang menganggu saya adalah bagaimana Yates meremehkan adegan tarung terakhir di Hogwarts. Memang berkat efek CG, dan keputusan untuk memperbanyak para penyerang sampai 10 kali lipat, pertarungan terakhir di Hogwarts terasa epik dan megah, tapi pertarungan ini tidak memiliki “jiwa.” Mana para House Elf yang akhirnya mampu mengambil keputusan tanpa diperintah. Lalu dikemanakan para Centaur yang akhirnya memutuskan untuk campur tangan dalam urusan manusia. Dan apa yang terjadi dengan para hantu Hogwarts yang bersatu padu guna mengusir pasukan Voldermort? Memang kelihatannya remeh, tapi berbagai elemen inilah yang membuat pertarungan terakhir di Hogwarts begitu berarti. Bagaimana mereka yang tadinya saling “berselisih,” bersatu padu guna melawan kejahatan yang lebih besar.

Pertarungan terakhir di Hogwarts adalah suatu simbol, simbol yang menunjukkan bahwa semangat Dumbledore masih tetap ada walaupun ia sudah pergi (semacam Will of Fire/Hi no Ishi-nya Naruto). Simbol bahwa segenap penghuni Hogwartsmempercayai Dumbledore, dan mempercayai Harry yang tengah melaksanakan mandat terakhir dari kepala sekolah mereka. Dan simbol bahwa membela apa yang kamu percayai terkadang membutuhkan pengorbanan yang besar. Berbagai hal Inilah yang gagal disampaikan oleh Yates. Memang adegan tarung terakhir di filmnya seru, tapi hanya sebatas itu yang bisa ditampilkan Yates.

Satu hal terakhir yang kurang saya sukai adalah bagaimana masa lalu Dumbledore tidak benar-benar terungkap di film layar lebarnya. Padahal di versi novelnya kita dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa Dumbledore juga hanyalah manusia, bahwa ia juga sering membuat kesalahan, dan tidak luput dari perasaan serakah, balas dendam, dan keinginan untuk menguasai sama seperti manusia normal.

Ok saya kira itulah beberapa hal yang saya keluhkan dari HP 7 Part 2. Lalu apa yang saya sukai dari film ini? Yang pasti, ini adalah seri HP dengan alur cerita yang paling lengkap dan tidak terasa melompat-lompat dari satu adegan ke adegan lain. Hal yang wajar sih mengingat memang HP 7 Part 2 ini hanya men-film-kan sekitar 200 halaman terakhir dari novelnya. Selain itu beberapa adegan tambahan yang dibuat oleh Yates juga cukup menarik (seperti halnya petualangan Ron dan Hermione di Chamber of Secret). Dan saya juga tidak bisa mencela kemampuan dari para aktor untuk memerankan karakter mereka masing-masing.

Lalu keputusannya? Bagi saya yang sudah membaca novelnya, HP 7 Part 2 ini masih terasa kurang bisa mengekspresikan apa yang ingin disampaikan oleh JK Rowling. Tapi bagi mereka yang belum membaca novelnya, saya kira HP 7 Part 2 ini adalah salah satu seri HP terbaik.


SHARE
Previous articleInotia 3: Children of Carnia, Action RPG Terbaik Untuk Kelas Mobile
Next articleAsiasoft Bidik Pasar Indonesia
Seseorang yang awalnya ingin menjadi seorang teknokrat namun justru berkecimpung di dunia game. Penggemar Jessica Alba dan Alexis Bledel yang memiliki spesialisasi di antaranya dalam bidang Anime, Game, RPG, Game Design, Manga, Movie dan Trading Card Game. Saat ini mendapat posisi sebagai Managing Editor ZIGMA dan OMEGA serta Lead QA I Play All Day Studio.