Magic The Gathering Adaptasi Sistem “Ganti” Vandaria Wars

Magic The Gathering (MTG) akan merilis ekspansi barunya, Innistrad, pada bulan ini. Innistrad merupakan sebuah plane (dimensi dalam dunia Magic atau Multiverse) yang termanivestasi oleh kekuatan jahat. Innistrad dipenuhi oleh makhluk-makhluk yang telah terasuki kekuatan tersebut. Dengan kekuatan jahat itu, manusia dalam Innistrad menjadi Vampire atau Werewolf.

Sama seperti kebanyakan, Vampire dan Werewolf dalam Innistrad mampu berubah wujud menjadi kelelawar ataupun serigala. Dengan banyaknya Vampire dan Werewolf dalam Innistrad, MTG memperkenalkan sebuah sistem baru untuk merepresentasikan perubahan mereka.

Vandaria Wars sebelumnya telah menerapkan sistem perubahan serupa. Sistem yang diterapkan Vandaria Wars adalah menggunakan Subdeck, sebuah deck tambahan untuk kartu-kartu khusus dengan logo “S”. Melalui Subdeck ini para Vampire dan Werewolf dapat berubah wujud sesuai dengan kemampuan Mereka.

VW Vampire
VW Werewolf

Subdeck bahkan telah menjadi sistem andalan dalam Vandaria Wars. Dengan sistem tersebut sejumlah kartu dapat lebih bebas dalam merepresentasikan kemampuannya, seperti: para penyihir yang mampu merapalkan sejumlah sihir melalui kartu Subdeck, tentara tambahan yang dapat dipanggil dengan cara khusus, ataupun berbagai macam bentuk perubahan seperti Vampire dan Werewolf itu sendiri.

Lalu bagaimana cara MTG menerapkan sistem perubahan ini tanpa adanya Subdeck? MTG memperkenalkan sistem Double Faced Card. Double Faced Card tidak memiliki sisi belakang kartu Magic The Gathering seperti biasanya. Kartu ini memiliki dua sisi muka. Berikut adalah penjelasan dari website MTG:

A double-faced card has two faces. It has no regular Magic back. Its front face, which is marked with a sun symbol and has a mana cost, is the default. A double-faced card always enters the battlefield with its front face up. This is true whether it enters the battlefield from the stack as the result of being cast, or from anywhere else, such as your graveyard (due to a card like Zombify, for example).

The back face of a double-faced card is marked with a moon symbol, lacks a mana cost, and has a color indicator—that’s the dot on its type line—that tells you what color it is. The two faces of a double-faced card are often the same color, but not always. The back face’s characteristics matter only if the card is on the battlefield and its back face is showing. Otherwise, only the front face’s characteristics count. (For example, Gatstaf Shepherd’s converted mana cost when it’s in your deck is 2, not zero.)

Each double-faced card has at least one ability that causes it to transform. To transform a double-faced card, you turn it over so that its other face is showing.

MTG Vampire
MTG Werewolf

Memasukkan Double Faced Card dalam deck dapat dilakukan dengan berbagai cara. Cara termudah adalah dengan menggunakan sleeve berwarna di baliknya, sehingga kartu tidak akan bisa dibaca baliknya dan pemain cukup mengeluarkan kartu tersebut dari sleeve dan membaliknya ketika mereka melakukan perubahan. Cara kedua adalah dengan menggunakan kartu proxy yang dapat diperoleh dalam booster Innistrad. Kartu ini cukup diberi tanda dan dimasukkan dalam deck. Setelah dipanggil, pemain kemudian dapat menggantinya dengan kartu yang dimaksud.

Proxy Card

Namun tetap saja sistem Double Faced Card ini akan menyusahkan pemain karena memaksa mereka menggunakan kartu proxy ataupun sleeve khusus. Problem terbesar dari Double Faced Card adalah ketika melakukan drafting, sebab dengan adanya kartu ini, maka beberapa kartu akan dapat dengan mudah diketahui.


SHARE
Previous articleJadilah Guildmaster di Vandaria Wars
Next articleHollywood Menginvasi Bioskop Indonesia, all previews here !
Memulai kariernya sebagai freelance majalah Ultima Nation, Dipta berkembang hingga menjadi penulis guide di majalah Optima. Ia sempat menghilang pada tahun 2003 untuk mempelajari film di Australia. Pada tahun 2008 Dipta kembali ke Indonesia dan memimpin GAMEZiNE selama kurang lebih 2 tahun. Ia juga sempat memperoleh penghargaan MURI sebagai Pencipta TCG Indonesia Pertama melalui karyanya Vandaria Wars.