Today Video Games Life Lessons (3/10/2011)

Life Lesson: Gue memang kesel sama Squall!! Udah muka gue yang ganteng ini jadi bercodet gara-gara dia, terus ternyata doi berhasil ngalahin gue. Pokonya gue sebel sama Squall!! Tapi saat gue mancing bersama temen-temen gue, gue kok lupa yah sama keselnya gue – Seifer Almasy, Final Fantasy VIII (1999)

Real Deal: Sama seperti Seifer yang maaf *spoiler* tersenyum bersama teman-temannya saat memancing dan bermain air di akhir game. Kita harus bisa melupakan semua dendam, kekesalan ataupun kebencian yang pernah kita alami. Seberapapun sakitnya dendam itu, sedalam apapun luka yang ditorehkan, kamu harus bisa melupakannya. Sebab saat orang terus mengingat-ingat dendam atau kebencian yang dialaminya, orang tersebut akan terpaku di masa lalu sehingga tidak bisa menyongsong masa depan. Memang enggak gampang untuk melupakan dendam, tapi seiring dengan waktu kamu pasti akan lupa dengan dendam tersebut.

Yang jadi masalah adalah ketika sang obyek dendam muncul di hadapanmu. Pasti kamu akan kembali teringat semua dendam dan kebencian yang mungkin tadinya kamu sudah lupa. Untuk menghindari hal ini, ada baiknya kamu menajuhi obyek dendamu, jaga jarak, kalau perlu pindah rumah. Pokoknya kalau bisa kamu jangan pernah bertemu lagi dengan obyek dendamu baik sengaja maupun tidak. Sukur-sukur kamu bisa memaafkan sehingga kamu bisa bersikap biasa saja dengan obyek dendamu. Menyimpan dendam itu enggak enak lho. Rileks saja lah, toh kamu sudah berhasil membunuh Odin bukan?? Setidaknya monster-monster lainnya yang merasa dicurangi karena keberadaan Odin akan berterima kasih sama kamu. Tuh lihat, monster Malboro mulai membawa tentakelnya buat kamu. Minimal kamu bakal punya kereta kematian pribadi (Doomtrain di Final Fantasy VIII membutuhkan Malboro Tentacle untuk membuatnya).

httpv://www.youtube.com/watch?v=OoIUKzW5mMg


SHARE
Previous article5 Skala Pengukuran Yang Mungkin Belum Anda Tahu ( 17++)
Next articleN64oid Versi 2.4… Emulator Nintendo 64 Untuk Android yang Makin Sosial
Pemuda tambun yang hobinya main RPG (Role Playing Game. Buka Rocket Propelled Grennade) ini, memulai karirnya sebagai penulis lepas di salah satu majalah game yang tidak terlalu hit. Karena jatuh cinta pada dunia tulis menulis, Estu akhirnya memberanikan diri mengerjakan sebuah proyek portal game yang cukup ambisius di jamannya. Rupanya setelah portal game tersebut beroperasi beberapa masalah eksternal dan internal mulai menerpa silih berganti. Karena merasa kebebasannya digawangi, akhirnya Estu memutuskan berhenti dan memulai bisnis kecil-kecilan. Dari perjalanan bisnisnya Estu mendapatkan berbagai filosofi yang terus menerus dipakai hingga sekarang. Salah satunya adalah "keberuntungan adalah persiapan bertemu dengan kesempatan - Seneca" atau "Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat - Thomas Alva Edison". Di tengah-tengah jadwalnya yang cukup padat, Estu selalu sempat meluangkan waktu untuk bermain game, menonton film dan menulis artikel.