Anime Masterpieces: Usagi Drop

Animation Production: Production I.G.
Tayang
: 2011-07-07 sampai 2011-09-15
Episode:
11

Usagi Drop begitu sederhana sekaligus begitu unik dalam premisnya. “Seorang bujang 30 tahun yang membesarkan anak 6 tahun.” Sudut pandang orang dewasa merupakan sesuatu yang sangat jarang di anime, tidak mengherankan karena target audiens mayoritas anime adalah anak-anak dan remaja.

Cerita dimulai dengan Daikichi, seorang bujang 30 tahun yang ketika menghadiri pemakaman kakeknya, terkejut ketika mengetahui kakeknya pada umurnya yang begitu tua memiliki seorang anak perempuan berumur 6 tahun. Di tengah reaksi keluarga besar yang menolak kehadiran anak itu, Daikichi memutuskan untuk membesarkannya.

Memang sebuah tindakan yang impulsif berdasarkan rasa kasihan dan amarah akan keluarganya, ketika Daikichi kemudian menyadari akan kesulitan membesarkan seorang anak. Masalah pakaian, di mana harus menitipkannya saat dia bekerja, sampai bagaimana dia tak bebas lagi. Namun di saat yang sama Daikichi menyadari kapasitas dalam hatinya untuk mengasihi seorang anak. Di saat seperti Rin lulus TK, masuk SD pertama kali, mendapatkan teman, tumbuh gigi dewasa pertama, ataupun saat-saat kecil seperti tidur bersama, memasak bersama, berbelanja bersama, sikat gigi bersama, pergi dan pulang bersama, kita menyadari bagaimana Daikichi terus berusaha membahagiakan Rin.

Lewat Daikichi juga kita merasakan bagaimana rasanya mengasihi seorang anak. Bagaimana rasa khawatir menunggui anak yang sakit, bagaimana rasanya ada yang mengingatkan untuk berperilaku baik, bagaimana rasanya dipercayai seorang anak. Bagaimana beban menjadi sebuah figur yang begitu dibutuhkan dalam membimbing sebuah kehidupan yang begitu muda, dan kepuasan menanggung beban tersebut. Tentu Daikichi kadang membuat kesalahan, dan bahkan sempat ragu dalam pilihannya ini, namun itu hanya menunjukkan bahwa dia hanyalah manusia.

Selama perjalanannya itu juga, Daikichi menyadari bahwa pandangan dunianya berubah. Dia menyadari akan teman kerjanya yang mengorbankan karir demi anaknya, dia menyadari akan pernikahan sepupunya yang tidak bahagia, dia bertemu dengan seorang ibu yang bercerai di usia muda. Dia menyadari bahwa ada satu hal yang sama dari mereka semua, bahwa apapun kondisi mereka, seberapa banyak mereka mengeluh, pada akhirnya mereka semua sangat mengasihi anak mereka lebih dari apapun.

Usagi Drop juga tidak menutup mata mengenai masalah-masalah dalam berkeluarga, seperti bagaimana ibu kandung Rin meninggalkannya demi pekerjaannya, bagaimana keengganan adik Daikichi menikah karena masih ingin bebas, dan bagaimana posisi seorang anak di tengah perceraian dan keluarga yang tidak harmonis. Semua hal inilah yang membuat Usagi Drop terasa begitu nyata. Manusia memang manusia kadang bisa egois, kadang bisa menyakiti orang lain tanpa sadar, namun manusia juga memiliki kapasitas untuk rasa belas kasih yang besar.

Semua ini didukung oleh produksi yang solid dari Production I.G. Penggunaan palet warna yang cerah dengan kadang membuat kesan seperti cat air dan musik piano yang lembut, menyumbangkan banyak ke keindahan dari Usagi Drop. Penggunaan ekspresi yang variatif dan ekspresi wajah yang simbolik dari Rin juga berperan besar dalam membuat Rin tampak begitu imut. Pujian juga harus diberikan kepada suara Rin, yang berkat disuarakan oleh seorang anak umur 10 tahun (yang juga memerankan Rin di versi live-action Usagi Drop), membuatnya terasa begitu nyata dan tidak dibuat-dibuat.

Sedikit karya yang mampu menginspirasi kita menjadi orang yang lebih baik. Usagi Drop tidak hanya mengingatkan kita akan keindahan kasih orang tua, tapi juga menginspirasi kita untuk menjadi demikian, menjadi manusia yang membahagiakan manusia lain tanpa harapan balas saja.


SHARE
Previous articleJadi Kreatif Bersama Gameloft dan Duniaku… Berhadiah Samsung Galaxy Mini, Lho!!
Next articleXaverite, Sang Pewaris Zirnitra
Sebagai seorang yang tertarik dengan analisis, pria yang dipanggil Ryo ini menyayangkan kurangnya hal demikian di jurnalisme pop culture Indonesia, terutama game, anime, dan komik. Harapannya adalah pengembangan budaya membaca dan menulis kritis secara khusus di Indonesia. Dia sendiri tertarik dengan berbagai macam media, namun obsesi utamanya adalah komik. Misi pribadinya adalah mengangkat karya-karya luar biasa non-mainstream yang sering dilewatkan orang.