Xaverite, Sang Pewaris Zirnitra

 

Preview saya sebelumnya seolah benar-benar mengangkat nama Vermont dan membuat starter tersebut begitu sempurna, apalagi jika digabungkan dengan kartu-kartu Creatio. Lalu bagaimana dengan Xaverite? Heir of Zirnitra bermain dengan ritme yang lebih cepat ketimbang Dragon Slayer. Pukulan yang mereka berikan juga tidak kalah keras dengan para Vermont.

Dengan basis utama Mystic, kecepatan memanggil Territory mereka berkisar antara 4, 5, dan 6 gold. Territory dalam Heir of Zirnitra memiliki kemampuan yang sangat beragam. Salah satu yang menjadi favorit saya adalah Twin Dragon Garden yang membuat semua Follower seperti Mephisto. Dengan adanya Territory ini, kamu cukup menyisakan 1 Follower untuk menghadapi seberapapun banyaknya Follower. Lalu bagaimana para Follower ini akan selamat menghadapi serbuan lawan?

Jangan khawatir, sebagai keturunan Zirnitra, para Xaverite merupakan bangsa pemuja naga. Mereka rela mengorbankan dirinya untuk memanggil kembali leluhur mereka yang telah tiada. Xaverite laki-laki memiliki kemampuan yang aktif ketika sesuatu terjadi di graveyard atau terdapat sejumlah kartu di graveyard, sedangkan yang wanita memiliki kemampuan untuk memanggil leluhur mereka.

Dengan adanya kemampuan mengorbankan diri ini, para Xaverite benar-benar tidak takut untuk masuk ke graveyard. Dengan jumlah yang cukup, mereka tentu akan sangat ingin untuk dikorbankan, dan tentu saja jika memungkinkan berkorban sambil membawa korban Follower lawan.

Salah satu Dragon yang sangat menarik untuk dipanggil oleh Xaverite adalah Xaverian Zweii. Seekor Dragon mungil yang memiliki kemampuan untuk mengembalikan Xaverite ke permainan dan mengurangi goldcost Xaverite. Dengan kartu ini kamu bisa mengorbankan Xaverite wanita untuk memanggilnya dan Xaverian Zweii mengembalikan Xaverite wanita itu ke permainan kembali. Untuk mempercepat proses summon, kamu juga bisa memanfaatkan Dragonian Oath yang memiliki kemampuan mendiskon sebesar 2.

1
2

SHARE
Previous articleAnime Masterpieces: Usagi Drop
Next articleAssasin’s Creed: Revelation… Bersama Desmond, Ezio dan Altair Meramaikan Konstantinopel
Memulai kariernya sebagai freelance majalah Ultima Nation, Dipta berkembang hingga menjadi penulis guide di majalah Optima. Ia sempat menghilang pada tahun 2003 untuk mempelajari film di Australia. Pada tahun 2008 Dipta kembali ke Indonesia dan memimpin GAMEZiNE selama kurang lebih 2 tahun. Ia juga sempat memperoleh penghargaan MURI sebagai Pencipta TCG Indonesia Pertama melalui karyanya Vandaria Wars.