Lihat Dan Pastikan Sendiri

Sebenarnya saya ingin mengatakan, “Three Musketeer 2011 adalah film yang bagus dan jangan percaya pada review yang mengatakannya jelek”. Tapi saya kira itu tidak adil, karena disini saya juga mereview film tersebut, dan punya hak apa saya untuk mengatakan bahwa review lain tidak bisa dipercaya? Oleh karena itu saya memutuskan untuk mengatakan, “lihat dan pastikan sendiri apakah Three Musketeer 2011 adalah film yang bagus atau bukan”. Saya disini hanya ingin mengungkapkan pendapat dan fakta yang saya temukan setelah melihat film tersebut.

Saya datang kira-kira 10 menit sebelum adegan ini

Ok, sebelumnya harus saya peringatkan bahwa saya terlambat sekitar 20 menit ketika menonton film ini. Tapi dari sisa 90 menit yang saya lihat, bisa saya katakan, Three Musketeer 2011 ini melebihi ekspetasi saya. Hal pertama yang langsung saya perhatikan adalah betapa cerdiknya orang yang mengatur cinematografy dari film ini. Tiap adegan, bangunan, dan berbagai alat bantu digunakan sedemikian rupa sehinggga efek 3D dari filmnya benar-benar terasa. Misalnya bagaimana ruangan berkoridor digunakan untuk memperjelas efek 3D, atau berbagai benda yang dengan sengaja di taruh di dekat kamera untuk lebih memperkuat efek depth of field, dan tentunya efek seperti asap dan partikel-partikel yang beterbangan membuat mu seolah benar-benar berada ditengah-tengah pertarungan yang sedang terjadi. Setelah beberapa kali dikecewakan efek 3D yang biasa-biasa saja oleh beberapa film yang belakangan dirilis, Three Musketeer 2011 membuat saya merasa tidak percuma mengeluarkan uang lebih guna menonton film 3D.

Hal kedua yang saya perhatikan dan sukai dari film ini adalah bagaimana kontradiksi membuat jalan cerita dan seting dunianya menjadi kian menarik. Kontradiksi disini saya golongkan kedalam tiga bagian yaitu kontradiksi dalam seting, kontradiksi dalam jalan cerita, dan kontradiksi dalam karakter.

Kontradiksi dalam seting hadir ketika Paul Anderson (sutradara Three Musketeer 2011) memutuskan untuk mencampurkan unsur fantasi dalam film yang berseting tahun 1600-an. Di satu sisi kamu akan menemukan bangunan klasik abad 17, para bangsawan Prancis dengan baju, dan gaya rambut over the top, sementara itu disisi lain kamu juga akan disuguhi kapal terbang (ala Final Fantasy klasik), senapan mesin, flame thrower, dan sistem pengamanan serta peralatan lain yang saya yakin tidak dipikirkan oleh orang-orang di abad 17. Hal ini membuat Three Musketeer 2011 terasa menyegarkan dan berbeda dari versi Three Musketeer lainnya.

Kapal terbang ala final fantasy klasik

Saya tidak bisa bercerita banyak mengenai kontradiksi dalam jalan cerita yang saya maksud di atas tanpa melakukan spoiler. Yang bisa saya katakan adalah, penulis naskah dari Three Musketeer 2011 membuat jalan cerita yang tidak masuk akal, mudah ditebak, dan terkadang kelewat norak, tapi dalam waktu yang bersamaan kamu juga akan merasa bahwa film ini cerdas, tidak terduga, dan sangat keren.

Kontradiksi terakhir adalah kontradiksi dalam karakter. Terus terang saya kagum akan akting Jovovich di film ini. Ia mampu memerankan peran seorang gadis yang berkesan lemah, penurut, dan hanya bermodalkan kecantikan (dan belahan dada), tapi dibalik itu semua ia adalah seorang mata-mata yang berbahaya, sangat cerdas, dan memiliki kemampuan tarung yang tidak kalah dari para pengawal kerajaan yang terbaik. Jovovich disini mampu memerankan anti heroine yang sangat sempurna. Dan walaupun ia bisa dibilang adalah salah satu tokoh antagonis, saya justru merasa lebih terikat secara emosional padanya dibanding dengan Three Musketeer. Orlando Bloom juga menampilkan karakter yang cukup menarik, ia sombong, menjengkelkan, tapi kamu tetap akan menyukainya. Yah mungkin bisa dianalogikan seperti nasi goreng jancuk (salah satu makanan khas Surabaya) puedes luar biasa, membakar perut dan lidah, tapi kamu tidak bisa berhenti memakannya.

Orlando memainkan peran layaknya seorang Jack Sparrow yang sedikit lebih sinis dan "jahat"

Tentu saja Three Musketeer 2011 juga bukannya film yang sempurna. Bagi penggemar versi novelnya, yang dikarang oleh Alexandre Dumas, film ini layaknya sebuah tamparan di muka, karena memang jalan cerita, seting, dan karakternya berbeda jauh dari versi novel. Selain itu satu hal lagi yang membuat saya bingung dan sedikit jengkel adalah mengenai pemeran ratu Anne. Saya tidak memprotes aktingnya, tapi di film yang dipenuhi aktris-aktris seksi dan menawan (Milla Jovovich dan Gabriella Wilde), kenapa yang memerankan ratu Prancis justru kalah cantik? Bahkan dayang-dayangnya saja lebih menarik dari sang ratu.

Dari kiri kekanan, Milady, Constance, ratu Anne

Kesimpulannya, menurut saya Three Musketeer 2011 ini adalah salah satu adaptasi Three Musketeer yang paling bagus, modern, cerdas, keren, dan seksi. Dan saya harap Anda melihatnya terlebih dahulu sebelum memutuskan apakah film ini bagus atau tidak.


SHARE
Previous articleHadirnya Mobile Suit Teddy Bear dalam “SD Gundam G Generation 3D” dan Bundle Khususnya
Next articleSyndicate, Merubah Tactical Shooter Menjadi FPS
Seseorang yang awalnya ingin menjadi seorang teknokrat namun justru berkecimpung di dunia game. Penggemar Jessica Alba dan Alexis Bledel yang memiliki spesialisasi di antaranya dalam bidang Anime, Game, RPG, Game Design, Manga, Movie dan Trading Card Game. Saat ini mendapat posisi sebagai Managing Editor ZIGMA dan OMEGA serta Lead QA I Play All Day Studio.