WESTERN RPG VS JAPAN RPG PART III: THE HISTORY

Semenjak awal muncul karakteristik game Role-Playing Game (RPG) pada dasarnya sama yaitu kita mengontrol satu orang sebagai tokoh sentral yang sepanjang perjalanan kemudian bertemu dengan karakter lain yang memiliki tujuan yang sama dan memutuskan untuk bergabung menjadi anggota kita (party) lalu bersama-sama melawan monster, naga atau menyelamatkan putri raja. Tapi tidak sesimpel itu karena dalam petualangan kita akan mendapatkan banyak quest untuk menambah kemampuan kita dulu sebelum akhirnya berhadapan dengan lawan yang lebih berat pada jalan cerita utama, hal inilah yang sebetulnya merupakan dasar sebuah game layak disebut game RPG atau bukan, dan tradisi seperti itu yang masih dipertahankan oleh game-game RPG sampai sekarang, walaupun ada juga beberapa yang menyimpang dari pattern awal karena idealisme (mungkin).

Sejarah game RPG itu sendiri sebenarnya dimulai di negeri Paman Sam dengan dirilisnya game Dungeon, pedit5 serta Dungeons & Dragons pada tahun 1970an di platform mikro komputer, ketiga game tersebut menyajikan gameplay yang sederhana dengan istilah rogue dimana karakter berada di dungeon dalam sketsa set yang sederhana dan gamenya berbasis teks dan petualangan selalu mengarah keatas, tapi walaupun begitu game-game tersebut sudah sangat jelas alur dan ceritanya terutama dengan banyaknya stage berbentuk dungeon, pada saat itulah orang mengenal istilah RPG. Berbeda dengan kedua pesaingnya Dungeons & Dragons (DnD) untuk TRS-80 menyajikan gameplay yang lebih rumit dan cerita yang lebih mendalam, game inilah yang nantinya menjadi cikal-bakal game RPG yang dalam kelanjutannya akan berubah dan terpisah menjadi dua aliran antara barat dengan Jepang yang didasarkan oleh budaya masing-masing.

 

Western RPG

 

1970s

Industri game RPG barat dimulai pada tahun 1975 dengan game yang pada kala itu masih memiliki grafis sangat sederhana yaitu Dungeon (1975), pedit5 (1975) dan tentu saja DnD (1975) yang kesemuanya terinspirasi oleh novel legendaris karya J.R.R Tolkiens berjudul The Lord of The Rings (LOTR), mungkin jika Tolkiens tidak menulis LOTR bisa saja kita tidak mengenal game RPG sampai sekarang. DnD dirilis dalam tiga sistem yaitu PDP-10, Unix dan PLATO, tapi pada sistem PLATO game ini mendapatkan kesuksesannya karena PLATO memiliki kecepatan grafik network tercepat pada kala itu sehingga lebih banyak orang yang mengaksesnya. PLATO juga memungkinkan pemain untuk bermain di waktu yang bersamaan, tapi sayangnya fitur ini tidak didapatkan pada versi personal computer. Kesuksesan DnD diikuti dengan dirilisnya game-game sejenis seperti Temple of Apshai (1979), Sword of Fargoal (1982) dan yang paling popular adalah Rogue (1980) yang mengusung gameplay baru yaitu dungeon-crawling gameplay dimana pemain sepanjang permainan melewati dungeon yang rumit menuju ke atas. Pada game Rogue ini diperkenalkan pertama kali sistem randomly generated item walaupun kita melewati tempat yang sama dua kali.

Dungeons & Dragons


1980s

Berlanjut ke era selanjutnya yaitu era magic dimana magic menjadi pengaruh terbesar dalam industri game RPG di saat itu, dimulai dengan munculnya Wizardry (1981) yang menawarkan permainan dalam sudut pandang orang pertama secara 3D dan pertama kali memperkenalkan sistem magic dan pilihan moral pada game RPG. Game ini bercerita tentang seorang penyihir jahat yang berusaha keluar dari penjara berbentuk dungeon untuk mencari kebebasan dan menentukan pilihannya.

Wizardry


Lalu muncul satu judul lagi yaitu Ultima III: Exodus (1983) untuk platform personal computer yang menjadi standar baru game RPG karena game ini menyajikan party-based combat dan perpaduan elemen fantasy dengan science-fiction. Pada awalnya game ini dirilis untuk platform Apple II, tapi karena kesuksesannya game ini dirilis di berbagai platform pada zamanna. Game buatan Richard Garriot ini dianggap sampai sekarang sebagai pelopor game RPG modern. Game ini pun mempengaruhi munculnya game-game sejenis seperti Excalibur (1983) dan Dragon Quest (1986). Saking suksesnya game ini, spin-off mulai bermunculan seperti World of Ultima (1990) dan Ultima Underworld (1992) yang menawarkan pemain tampilan 360 derajat pada dunia di game ini, hingga pada akhirnya dirilislah pada tahun 1992 Ultima VII: The Black Gate yang menjadi judul dalam format real-time pertama kali bagi seri ini dan bisa dimainkan secara menyeluruh menggunakan mouse. Unsur-unsur dari kedua game tersebut inilah yang akan membentuk wajah game RPG di era modern.

1990s

Gamer angkatan tua pasti pernah memainkan game komputer berjudul Heroes of Might and Magic, game ini seri awalnya berjudul Might and Magic: The Secret of the Inner Sanctum yang dirilis di tahun 1986 untuk Aple II. Game ini memiliki fitur yang kompleks dan kaya seperti beragamnya jenis senjata dan spell serta luasnya dunia yang bisa dijelajahi. Seri ini memiliki total 9 sequel hingga tahun 2002 termasuk seri turn-basednya yang membuatnya menjadi legenda hidup game RPG bersamaan dengan Ultima dan Wizardry, merupakan game yang cocok untuk menyambut era RPG modern.

Pada 2 Januari 1997, Blizzard Entertainment merilis game RPG bertemakan dark-fantasy berjudul Diablo untuk PC, game yang bersetting di kerajaan Khanduras ini menawarkan pemain untuk mengontrol seorang hero dan menjelajahi dunia Diablo yang luas dalam gameplay RPG lebih berwujud action-adventure. Sebenarnya Diablo menggunakan formula lama yaitu dungeon-crawling seperti game Rouge tapi dikemas dalam format 3D yang jauh lebih enak dipandang mata. Game ini menurut saya adalah awal lahirnya juga genre action-RPG seperti Dungeon Siege (2002), Sacred (2004), Torchlight (2009), Din’s Curse (2011), Hellgate: London (2007) dan Kingdom Hearts (2002).

Diablo


Di akhir tahun 1990 dunia RPG barat digebrak lagi dengan munculnya game Fallout karya Black Isle Studio yang dirilis untuk PC, game yang menurut saya memiliki set paling keren dan penentu apakah gamer bisa menemukan unsur RPG pada game semacam ini atau tidak karena game ini serba berbeda, berbeda karene setnya yang bersetting dunia alternatif America pasca perang nuklir di masa depan yang jarang ada di game RPG, tidak adanya unsur spell atau magic yang biasanya wajib ada di game RPG serta tidak adanya pedang, mungkin ada tapi game ini lebih cocok menggunakan pistol. Fallout selamanya mengubah image game RPG. Fitur dasar Fallout sendiri adalah gameplay yang non-linear, quest-system dan dialog yang dibumbui humor, game ini juga menawarkan bagaimana tokoh utama membentuk dunia yang sudah porak-poranda berdasarkan pilihan-pilihan dialog yang kita tentukan.

Fallout


Akhir era 90an tidak hanya dikuasai oleh Fallout, tapi ada juga Baldur’s Gate yang dirilis oleh BioWare di awal tahun 1998. Baldur’s Gate adalah game DnD di zaman modern yang mensupport sampai 6 player dalam co-op mode. Game ini menawarkan cerita yang epic dan dikemas dalam cerita yang berkelanjutan hingga seri-seri selanjutnya, lewat game inilah sebetulnya yang menjadikan BioWare sebagai master game RPG di era ini dan era sekarang. Kedua game tersebut memiliki banyak sekali sequel dan spin-off dan menjadi contoh game RPG paling sempurna sampai sekarang.

2000s

Era 2000an adalah era emas game Multiplayer RPG (MMORPG) seperti pada game World of Warcraft, tapi saya tidak akan membahas secara mendalam mengenai genre MMORPG ini karena fokus saya tetap pada sejarah RPG secara menyeluruh. OK, era RPG tahun 2000an dimulai dengan Neverwinter Nights (NWN) yang diproduksi oleh BioWare pada tahun 2002 untuk console Atari, kesuksesan NWN dilanjutkan dengan dirilisnya expansion dan sebuah sequel yang dikerjakan oleh Obsidian Entertainment yang pekerjanya mayoritas berasal dari Black Isle Studio yang bubar pada saat pengembangan Fallout 2. Game NWN ini merupakan kombinasi dari DnD dengan tampilan full 3D dan kebebasan menggerakan kamera. Tapi tidak sampai disitu, BioWare kemudian merilis Star Wars: Knights of the Old Republic (KOTOR) yang membawa pemain ke dalam dunia Star Wars dimana setting dalam game KOTOR ini terjadi 4000 tahun sebelum era Star Wars Episode I The Phantom Menace terjadi. KOTOR jelas menjadi sukses besar karena BioWare berhasil membawa dunia Star Wars melalui genre yang tepat dan juga cerita langsung diadaptasi dari George Lucas sendiri selaku creator seri Star Wars. Tak lama kemudian dirilislah Star Wars: Knights of the Old Republic 2 yang kini pengerjaannya diserahkan kepada Obsidian Entertainment di tahun 2005. Obsidian Entertainment kemudian merilis sequel lain dari game BioWare yaitu Neverwinter Nights II pada Halloween 2006 yang menampilkan fitur DnD Ruleset 3.5. Obsidian juga sebenarnya sempat mengembangkan game dari film Aliens yang terkenal itu tapi dibatalkan bersamaan dengan dibatalkannya juga pengembangan game original mereka Seven Dwarves. Proyek sukses terakhir Obsidian Entertainment adalah Fallout: New Vegas yang merupakan spin-off dari seri Fallout yang kini dimiliki oleh Bethesda.

Star Wars: Knight of The Old Republic

Sedikit membahas tentang Bethesda, publisher ini sejak tahun 1994 telah mededikasikan diri mereka untuk menciptakan game RPG terutama CRPG yaitu seri Elder Scroll yang kini sudah mencapai seri kelima. Game bersetting medieval yang sudut pandangnya bisa berubah dari FPS menjadi TPS. Ciri khas dari game Bethesda adalah unsur sandboxnya yang bisa dibilang mirip dengan seri Grand Theft Auto tapi tentu bernuansa RPG, genre ini sebetulnya genre RPG yang paling fun tapi sayang masih kurang diterima dengan baik oleh kebanyakan gamer di negara kita yang terpaku pada game RPG Jepang yang cenderung linear.

Fallout 3, RPG bergaya FPS, so what?


Era keemasan Western RPG dimulai semenjak munculnya Xbox 360, dimana developer-developer barat yang tadinya mencari nafkah hanya dari PC semacam Bethesda, BioWare dan Obsidian mulai memproduksi game mereka untuk console, seperti Fallout 3 (2008), Fallout: New Vegas (2010), Mass Effect 1 & 2, Dragon Age 1 & 2, Elder Scroll IV: Oblivion (2006) dan yang paling baru Elder Scroll V: Skyrim (2011) yang dijagokan sebagai penerima gelar Game of The Year tahun ini, walaupun cukup banyak bugnya. Malah kini muncul kabar Blizzard juga sedang membentuk tim untuk merilis gamenya di console. Hal ini semakin mengkokohkan Western RPG sebagai kiblat game RPG era modern.

 

 

Japan RPG

 

1980s

Industri game RPG Jepang merupakan trend-fashion industri game RPG untuk console karena sejak awal dikenalnya genre ini sudah dimulai dengan console meskipun ada juga beberapa game legendaris yang dimulai di PC, hal ini cukup berbeda dengan industri Western RPG yang memulainya murni dari komputer. Di era ini banyak perusahaan yang membuat computer video games system dan Japan RPG dimulai di era PC-8001 dengan dirilisnya game berjudul The Dragon and Princess oleh KOEI pada tahun 1982 yang menyajikan elemen petualangan dan menyelamatkan putri raja. Setahun kemudian, Bokosuka Wars untuk Sharp X1 dan kemudian dirilis di NES pada tahun 1985. Game ini memperkenalkan genre RPG bernuansa taktik yang dicampur dengan RPG atau yang kini biasa disebut Tactical-RPG dan mendulang sukses di Jepang.

Bokasuka, bentuk awal tactical-RPG

Game ini menugaskan kita sebagai pemimpin pasukan yang bertugas mengatur dan merekrut pasukan sepanjang perjalanan, di game ini juga sudah diperkenalkan sistem mengumpulkan experience dan level up. Di tahun 1984 Nihon Falcom merilis Dragon Slayer yang merupakan fondasi dari berdirinya sejarah game RPG Jepang di masa yang akan datang. Game yang menawarkan real-time hack & slash di dalam dungeon ini merupakan kesuksesan terbesar di era itu. Game Dragon Slayer ini juga merupakan cikal bakal game Legend of Zelda yang bertema action-RPG. Pengaruh game Dragon Slayer terasa sampai sekarang terutama pada game Final Fantasy, menurut John Szczepaniak dari Retro Gamer dan The Escapist, Dragon Quest milik Enix juga terinspirasi dari Dragon Slayer.

Dragon Slayer, sumber inspirasi SquareEnix di masa kini

Pada tahun yang sama, Hydlide dirilis untuk PC-8801 dan Famicom pada 1986 oleh Falcom. Game yang namanya cukup sulit dieja ini pertama kali menawarkan berbagai inovasi pada game RPG dan jelas akan menambah khazanah game RPG di masa depan, inovasi tersebut adalah kemampuan untuk pindah mode dari attack menjadi defense, quick save dan load option yang dipersonalisasi menggunakan password dan dapat diakses dimana saja sepanjang permainan serta perkenalan pada health dan mana regeneration yang akan penuh sendiri saat bermain. Selain Square dan Enix, Falcom juga merupakan developer game penting dalam sejarah game RPG di Jepang.

Sementara itu di console, game RPG dimulai dengan dirilisnya Dragonstomper untuk Atari 2600 pada 1982. Pada 1985, Yuji Horii dan timnya di Chunsoft memulai produksi Dragon Quest (Dragon Warrior) dengan Enix sebagai publishernya yang merilis game tersebut pada 1986. Dragon Quest (DQ) ini merupakan wajah dari game RPG Jepang dan merupakan asal muasal bagaimana seri Final Fantasy diciptakan. Game ini sangat banyak mendapatkan pengaruh dari game RPG barat seperti sistem random battlenya yang diadaptasi dari Wizardry dan pergerakan sudut pandang overhead dari Ultima, sisanya adalah pengaruh dari novel grafik karya Horii sendiri yang berjudul Portopia Serial Murder Case. Latar belakang Horii dalam menciptakan DQ adalah karena ia ingin membuat RPG yang bisa menarik pemain yang lebih luas lagi yang tidak familiar dengan genre ini. DQ memiliki unsur yang dimiliki oleh game RPG modern pada saat ini yaitu quest utama dan subquest, spell system, kisah romance yang mengharukan den semua itu diimbangi oleh disain anime-style khas Akira Toriyama (creator Dragon Ball) dan music scoring dari composer Koichi Sugiyama yang bergaya klasikal yang dapat dikatakan sebagai revolusi music dalam video game. Gameplay DQ sendiri adalah non-linear. DQ belum go international ke Amerika Serikat sampai tahun 1989 yang dirilis disana dengan nama Dragon Warrior, game RPG NES yang pertama kali dirilis di Amerika Serikat. Petualangan DQ di Amerika harus berhadapan dengan remake game yang menginspirasi DQ sendiri yaitu Wizardry dan Ultima beberapa tahun kemudian.

Dragon Quest IV


Di tahun 1986, The Legend of Zelda dirilis di console NES. Walaupun bukan murni game RPG karena tidak ada sistem experience tapi terdapat unsur RPG lainnya, game ini menjadi tonggak game action RPG.

Pada tahun 1987, Dragon Quest II (DQII) dirilis dan memperkenalkan party system dengan cara merekrut, game ini juga yang pertama kali memperkenalkan sistem ship yang dapat mengantar kita kemana saja serta sistem inventory yang diperluas. Di tahun ini juga Square yang hampir bangkrut merilis “proyek terakhirnya” yang diberi nama Final Fantasy (FF) sebagai gambaran akan harapan terakhir kembali ke kejayaan developer yang kini bernama SquareEnix. Game yang memperkenalkan sistem party yang dapat kita bentuk sendiri ini dan terinspirasi dengan kesuksesan Dragon Quest ini ternyata meraih kesuksesan dan Square tidak jadi bangkrut. Sampai sekarang FF series sudah mencapai seri ke-14.

1990s

Tahun 90an merupakan tahun keemasan bagi industri game RPG Jepang, dimana game RPG Jepang tidak hanya laku di Jepang saja tapi sudah go international. Dan mulai disukai di Amerika Serikat. Persaingan Final Fantasy dan Dragon Quest yang pada saat itu sudah mencapai sequel ketiganya semakin ketat. DQIV memperkenalkan storytelling yang dibagi per chapter yang setiap chapternya didedikasikan kepada cerita latar belakang setiap party member, tapi hal ini menjadikan game ini menjadi linear dan berbeda dengan seri-seri sebelumnya. Sementara FF series yang sudah mencapai seri ketiganya mempekenalkan job system. Pada tahun 1991, FFIV dirilis dan kembali memperkenalkan hal baru yaitu sistem ATB yang akan terisi secara otomatis dan jika penuh pemain dapat memberikan command tertentu pada karakternya, FFIV juga merupakan awal dari game FF yang memberikan cerita yang dramatis.

FFV dirilis pada tahun 1992 dan memperkenalkan kepada pemain sistem time gauge yang memberikan indikasi siapa yang akan maju duluan saat penuh, FFV juga semakin menambah job system hingga 22 job dan opsi kostumisasi yang lebih kompleks. Pada tahun yang sama DQV juga hadir untuk menantang FFV, DQV sayangya tidak memberikan hal baru pada gameplay, hanya pengembangan pada cerita yang lebih emosional.

Final Fantasy VII


Di tahun 1995 Square merilis Chrono Trigger yang mengangkat standar baru pada genre RPG karena menawarkan cerita yang non-linear, multiple ending sampai 10 ending, battle system yang unik karena ada combonya, sidequest yang berhubungan dengan plot utama, sedikitnya random encounter dan yang terakhir pertama kali dikenalkan fitur New Game+ serta konsep time-traveller yang belum pernah ada pada game RPG sebelumnya. Di tahun-tahun selanjutnya hingga 1997 banyak sekali game RPG bermunculan yang mungkin akan diceritakan lebih mendetail di lain waktu. Akhirnya revolusi datang juga pada industri RPG Jepang dimana Square yang kini benama Squaresoft meluncurkan FFVII yang diakui oleh gamer di seluruh dunia sebagai game RPG paling berpengaruh sepanjang masa setara dengan seri Star Wars dengan record penjualan mencapai $45 juta. FFVII serba revolusioner, gameplay, grafis, cerita yang panjang dan luas serta emosional. Di game ini juga diperkenalkan sistem limit break dengan animasi yang outstanding di masanya. FFVII benar-benar tidak ada lawannya saat itu hingga dua tahun kemudian tepatnya tanggal 9-9-1999 dirilis FFVIII dnegan grafis yang lebih bagus dan karakter yang tidak cebol lagi (super-deformed), FFVIII merupakan FF favorit saya karena gameplay, story dan dunianya menurut saya paling cool apalagi senjata yang didesain oleh Tetsuya Nomura yaitu Gunblade sangat ikonik.

2000s

Kesuksesan terus berlanjut bagi Squaresoft dan industri game Jepang pada umumnya, di tahun berikutnya dimana FFIX (2000) dirilis dengan mengusung gaya klasik, agak sedikit kecewa karena karakter kembali mejadi cebol, tapi kekecewaan terobati dengan story yang menurut saya lebih complicated dibanding FFVIII.

Final Fantasy pertama yang menggunakan pengisi suara


Masuk ke era PS2, pada tahun 2001 FFX dirilis dengan tampilan yang superb dan pertama kali game FF menggunakan pengisi suara dalam gamenya. Tapi sayangnya pada tahun yang sama awan kelabu menaungi Squaresoft karena proyek film perdana mereka yang bertajuk Final Fantasy: The Spirit Within gagal di pasaran dan Squaresoft kembali harus menghadapi kebangkrutan, merekapun akhirnya mengambil jalan merger dengan Enix yang notebene adalah rival mereka. Bergabungnya Squaresoft dan Enix berdampak pada hengkangnya Hironobu Sakaguchi yang dikenal sebagai bapak  Final Fantasy dan memutuskan membuat studio sendiri yaitu Mistwalker dengan gamenya Lost Oddissey (2006). Bergabungnya Square dan Enix benar-benar merubah seri FF selamanya, dimulai dengan FFXI yang bergaya MMORPG dan FFXII yang keduanya sama sekali tidak memiliki cerita dan karakter yang kuat dan memorable, hal ini pun berlanjut ke era console 7th generation dimana FFXIII (2009) terlihat kehilangan beberapa unsur game RPG dimana storynya yang sangat linear dan cerita yang sama sekali sulit dimengerti baik sampai akhir game kecuali kita membaca synopsis terlebih dahulu. Tapi saya tidak mengatakan FFXIII merupakan suatu kegagalan, battle system FFXIII sangat revolusioner walaupun masih berbasis turn-based. Seandainya Sakaguchi-san masih mengasuh FF series mungkin masih bisa bersaing dengan gempuran game-game RPG barat yang tak ada habisnya.

 

 

Conclusion

Setelah membaca artikel ini akhirnya terbukti kalau ternyata RPG lahir di tanah kelahiran Bill Gates dan saya pun meralat pendapat saya pada part pertama trilogi ini yang mengatakan game RPG berasal dari Jepang. Namun walaupun demikian, ada banyak sekali pengaruh dan unsur game RPG Jepang yang juga diusung oleh game RPG barat begitu juga sebaliknya. Saya yakin, jika tidak ada game RPG Jepang maka game RPG barat tidak akan sesukses sekarang dan jika tidak ada game RPG barat maka game RPG Jepang mungkin tidak akan ada. Semoga industri game RPG barat dan Jepang bisa terus bersaing dan semakin berkembang tanpa harus meninggalkan ciri khas dan budaya masing-masing.

Akhir kata, saya harap bacaan ini bermanfaat dan bisa menambah wawasan para pembaca setia duniaku.net, minimal melalui artikel ini kita bisa membedakan mana game RPG dengan game simulasi, saran saya jika tidak bisa membedakan game RPG dengan simulasi sebaiknya main ular tangga saja karena walaupun beda aliran (barat-Jepang) game RPG memiliki benang merah yang sama dan sama sekali tidak bisa ditemukan pada game bergenre lain apalagi simulasi terutama The Sims.

Referensi:

Wikipedia, Gamasutra, IGN, Gamespot

 


SHARE
Previous articleStreaming Semua Game PS3 Melalui PSVita… Dengan Resolusi PSP!
Next articleSetelah iOS, Fruit Ninja: Puss in Boots Menuju Android
Steve Rogers adalah pendiri grup Xbox 360 Fanboys Indonesia di Facebook yang sudah malang-melintang di dunia game kira-kira selama lebih dari 15 tahun, bahkan sejak belum bisa berdiri. Spesialisasinya adalah pemberitaan mengenai game-game barat terutama yang berkaitan dengan console Xbox. Cirinya dalam menulis adalah original, sensasional, bebas dan apa adanya, kontroversial hanyalah efek dari karyanya. Sesuai dengan motonya “doing the right thing isn’t doing the right thing”, ia tidak peduli dengan reaksi yang akan muncul terhadap karyanya karena ia menyadari maksud yang ia sampaikan belum tentu bisa diterima oleh orang lain.