Review Call Of Duty Modern Warfare 3… Menjawab Tantangan Battlefield 3

Secara mengejutkan, Battlefield 3 tampil sangat memukau, terutama untuk grafisnya yang menggunakan FrostBite Engine 2. Selain itu, Battlefield 3 rupanya menantang Modern Warfare 3 (MW 3) dalam hal fitur multiplayer-nya, yang juga tidak disangka-sangka tampil sangat apik. Lantas, bagaimana jawaban tantangan tersebut dari kubu MW 3? Saya rasa, MW 3 sudah menajawab dengan lunas tantangan yang diberikan oleh Battlefield 3 tersebut. Masih membawa DNA yang dibawa dari MW 2, MW 3 kembali menghadirkan atmosfer single player yang lebih sinematik jika dibandingkan dengan Battlefield 3.

Dari segi story, memang story MW 3 saya rasa masih kurang memorable jika dibandingkan dengan pendahulunya, MW 2. Story memang masih melanjutkan story MW 2, namun saya merasa story dalam game ini sudah kehilangan “nyawa” yang sudah diberikan dalam MW 2 lalu. Untuk gameplay, nyaris masih seadiktif dan sebaik pendahulunya dulu, dengan improvisasi di beberapa bagian, seperti mode Survival di Special Ops yang mirip dengan Horde Mode di Gears of War, serta AI yang sudah dipoles lagi. Untuk masalah AI, kali ini saya merasakan ada perbedaan yang signifikan antara tingkat kesulitan Hardened dan Veteran.

Namun game ini masih menyisakan sedikit kelemahan. Salah satu kelemahan yang cukup fatal terletak di fitur multiplayer yang saya rasa tidak terdapat perbedaan yang mencolok dengan MW 2 lalu. Selain itu, sekarang tidak ada deskripsi dalam sebuah map, mengenai ukuran map tersebut. Bukan hanya itu, terkadang musuh juga saya rasa juga sedikit overpower kala menggunakan helikopter atau persenjataan berat lainnya. Namun, dengan sedikit kelemahan tersebut, saya tidak ragu untuk menyebut game ini masihlah yang terbaik di kelasnya, mengungguli Battlefield 3.

httpv://www.youtube.com/watch?v=6D418di9HpM


SHARE
Previous articleApakah Shadow Of A Soul Game Penerus Amnesia?
Next articleWawancara Eksklusif dengan Toge Productions, Developer Necronator 2!
Ex Managing Editor majalah Zigma dan Omega yang mengawali karirnya sebagai kontributor sebuah blog teknologi. Febrizio dikenal juga suka dengan teknologi, film, pengembangan software, perkembangan sepakbola, serta saat ini juga mulai tertarik untuk mempelajari proses pengembangan game.