The Un(der)sung Games of 2011

 

Seiring berkembangnya industri game menjadi sebuah media hiburan yang besar, muncul sebuah analog dengan industri lain yang berkembang lebih dulu, film. Game-game dengan budget besar yang dikerjakan tim developer berjumlah puluhan bahkan ratusan dengan marketing yang luas dapat dianalogikan dengan film-film Hollywood berbudget besar dengan aktor-aktor dan aktris-aktris terkenal. Game-game dan film-film ini sangat memukau secara grafis, sangat terasah secara teknis, dan diketahui oleh orang banyak.

Namun pada saat yang sama, semakin besar sesuatu membuatnya semakin terbatas. Daripada sebuah visi, karya-karya tersebut menggunakan sebuah formula yang terbukti sukses dan mengasahnya sampai bersinar. Deus Ex: Human Revolution sebagai contoh yang paling baik, mencampur berbagai elemen dari game-game tersukses tahun-tahun terakhir seperti stealth, first-person shooter, pilihan moralitas, sistem interogasi ala L.A. Noire, dan gameplay open-world.

Tapi harus disadari pula bahwa sebuah game atau film pada dasarnya bertujuan untuk menghibur. Sering orang hanya memerlukan selingan dari kehidupan sehari-hari. Sering orang hanya perlu menjadi Batman untuk beberapa saat atau menjadi tentara Amerika melawan Rusia di perang dunia tiga. Beberapa orang ingin lebih. Mereka ingin melihat seberapa besar potensi game sebagai media penceritaan. Mereka ingin mencoba cara bermain yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Mereka ingin melihat visi pencipta yang tidak dibatasi. Orang-orang seperti saya.

Dan di situlah sebuah daerah bernama game indie mengisinya. Bukan berarti game indie pasti mengisinya. Untuk setiap game mainstream yang kurang terinspirasi, ada puluhan game indie yang juga hanya mendaur ulang formula yang telah ada dan dikerjakan seadanya. Perbedaannya adalah game-game indie tersebut mudah untuk tidak dihiraukan.

Itu mulai berubah di tahun 2011 lalu. Kesuksesan Minecraft yang berhasil menjual jutaan dan perkembangan Steam sebagai media distribusi digital berhasil membuat game indie sebagai alternatif hiburan game-game dengan marketing luas yang dijuluki game triple-A. Situs-situs besar seperti Destructoid dan Eurogamer pun sudah mulai membahas game-game indie di antara game-game mainstream.

Sayang hal tersebut belum begitu bergaung di dunia gaming Indonesia. Mudah dimengerti. Ketergantungan kita kepada pembajakan menutup banyak gamer terhadap platform Xbox Live Arcade dan Xbox Indie Games. Banyak dari kita yang masih belum terbiasa menggunakan sistem berbayar digital Steam. Tak melupakan juga bahwa dunia gaming Indonesia sejak awal lebih berputar di konsol daripada di PC di mana game indie tumbuh subur.

Jadilah saya mengemban tugas untuk menjelajahi dunia tersebut untuk mencari harta karun. Yang akan anda baca kemudian adalah hasilnya. Namun seperti sebuah harta yang tergantung dari pandangan yang melihat, mungkin anda tidak akan melihat semuanyanya sebagai sebuah harta. Tapi jika anda menemukan satu harta saja di antara semua ini, maka saya sudah puas.

Bastion

Bastion merupakan sebuah cerita tentang kehancuran dunia, balas dendam, tanggung jawab, dan kehidupan kembali. Sang pemain bermain sebagai Kid, karakter tak bernama yang bertualang mencari bahan-bahan untuk membangun kembali Bastion, sebuah benteng sisa peradaban. Dan sang pemain melakukannya dalam balutan sebuah game action yang diiringi narasi dalam setiap langkahnya.

Di tengah petualangannya, dunia membangun kembali di sekeliling Kid sejalan arahnya. Sisa-sisa peradaban menghantui setiap langkah Kid. Sang narator mengnarasikan setiap langkah Kid dengan puitis. Dengan hanya narasi, sang pemain merasakan bagaimana perasaan Kid di tengah dunia yang hancur tersebut. Merasakan kemarahan atas dunia. Merasakan betapa leganya melihat seorang yang selamat. Merasakan bagaimana indahnya sebuah lagu di tengah puing-puing dunia.

Di akhir perjalanannya, Kid dihadapkan pada sebuah pilihan. Sang pemain pun terpaku. Tak ada akar dari segala kejahatan. Hanya sebuah pilihan. Mengampuni atau balas dendam. Masa lalu atau masa depan. Saat narasi akhirnya berakhir setelah Kid menentukan pilihannya, sang pemain pun tenggelam dalam emosi. Emosi yang diciptakan dari menyelesaikan salah satu cerita modern terbaik.

The Binding of Isaac

Di Alkitab, ada sebuah cerita mengenai bagaimana nabi Abraham diminta Tuhan Allah mengorbankan anaknya Isaac (Ishak). Cerita ini seharusnya tentang kebaikan dari Tuhan Allah. Bagaimana Dia berbeda dengan paganisme yang meminta kurban manusia.

The Binding of Isaac merupakan interpretasi modern dari cerita tersebut. Alkisah di sebuah keluarga modern, sang ibu yang religius mendapatkan ‘wahyu’ bahwa sang anaknya berada di bawah pengaruh setan. Sang ibu pun tanpa ragu memisahkan Isaac dari mainan yang dikatakan sebagai sumber pengaruh tersebut. ‘Wahyu’ kemudian pun datang yang meminta ibu Isaac mengurungnya di gudang, dan ibu Isaac pun tanpa ragu mengurungnya. Akhirnya muncul ‘wahyu’ di mana sang ibu diminta membunuh Isaac. Isaac pun kabur ke bawah tanah, dengan harapan kabur atau mungkin mengalahkan ibunya. Interpretasi ini mengangkat satu subteks yang dapat tak kelihatan di cerita aslinya: Kekerasan terhadap anak tanpa memperhitungkan pandangan sang anak, dengan argumen pertahanan Nuremberg “Saya hanya menuruti perintah.”

Apa yang terjadi kemudian adalah game itu sendiri. Sang pemain mengendalikan Isaac dalam ruangan bawah tanah dengan desain dungeon seperti Zelda namun ditambah dengan sistem pengacakan. Ini semua dibalut dengan Estetika Edmund McMillan (yang sebelumnya membuat Super Meat Boy) yang dipenuhi oleh cairan tubuh. Namun dalam The Binding of Isaac hal ini menciptakan sebuah metafora. Isaac ‘bertarung’ dengan menggunakan air matanya sebagai proyektil. Musuhnya berupa monster sampai makhluk mirip Isaac sendiri, tersenyum dengan menangis darah. Power-up didapatkan dengan melukai dirinya sendiri. Menancapkan parasit, menyuntikkan virus dan steroid, menusuk kepala dengan jemuran. Dan menggunakan ilmu hitam seperti Tarot, bahkan bertransaksi dengan setan itu sendiri.

Namun di antara metafora tersebut, dan pertanyaannya terhadap moral cerita di Alkitab, The Binding of Isaac tidak memiliki agenda ateistik. Pada akhirnya sebuah Alkitab menghentikan usaha ibu Isaac membunuh Isaac. The Binding of Isaac bukanlah tentang kenapa ibu Isaac tega membunuhnya, melainkan apakah, setelah trauma psikologis, seorang anak seperti Isaac dapat  tumbuh sebagai seorang manusia yang fungsional.

1
2
3
4
5
6

SHARE
Previous articleWarna Warni Cover Final Fantasy XIII-2
Next articleSam Worthington Bicara Tentang Wrath of the Titans dan Avatar 2
Sebagai seorang yang tertarik dengan analisis, pria yang dipanggil Ryo ini menyayangkan kurangnya hal demikian di jurnalisme pop culture Indonesia, terutama game, anime, dan komik. Harapannya adalah pengembangan budaya membaca dan menulis kritis secara khusus di Indonesia. Dia sendiri tertarik dengan berbagai macam media, namun obsesi utamanya adalah komik. Misi pribadinya adalah mengangkat karya-karya luar biasa non-mainstream yang sering dilewatkan orang.