May the Odd Be Always in Your Favor

Tiap kali saya ingin mereview suatu film layar lebar yang diadaptasi dari sebuah novel, saya selalu mengalami satu dilema. Apakah saya harus membaca novelnya terlebih dahulu, ataukah lebih baik melihat filmnya dulu. Karena memang nyaris tidak mungkin untuk menjejalkan buku novel setebal ratusan halaman ke sebuah film layar lebar yang berdurasi 2-3 jam. Pembaca yang sudah pernah membaca novel semacam Eragon, Harry Potter, maupun Cirque Du Freak pastinya setuju dengan saya bahwa versi layar lebar dari ketiga judul novel tersebut jauh lebih inferior bila dibanding versi aslinya. Tapi, lebih inferior dari versi novelnya bukan berarti lantas membuat film-film tersebut menjadi film yang jelek bukan?

Contohnya adalah adaptasi  novel terbaru yang saya tonton akhir minggu lalu, The Hunger Games. Saya secara pribadi memang belum pernah membaca versi novelnya, tapi dari pendapat banyak teman yang sudah melihat dan membaca kedua versi dari judul tersebut, semuanya sepakat bahwa versi buku lebih baik. Saya bukannya tidak setuju dengan pendapat tersebut, hanya saja, walau memang benar versi bukunya lebih baik, hal tersebut tidak mengubah fakta bahwa The Hunger Game adalah sebuah film layar lebar yang tidak boleh kamu lewatkan. Dan jika benar versi novelnya jauh lebih baik, maka saya juga merekomendasikan pembaca sekalian untuk membeli dan membaca novelnya. Oh iya, sebelum membaca review ini lebih lanjut harus saya peringatkan bahwa akan ada sedikit SPOILER, terutama mengenai ending dari film layar lebarnya. Jadi jangan baca lebih lanjut jika kamu tidak menyukai spoiler.

Yang membuat The Hunger Games menjadi film yang bagus  bukanlah aksi yang keren ataupun penggunaan teknologi CG mutakhir (walaupun dua hal tersebut tetap bisa kamu temukan). Percaya atau tidak, walau ini adalah sebuah film mengenai turnamen survival dimana 24 remaja harus bertarung sampai mati, tapi sisi drama dan ironi dari turnamen tersebut yang membuat film ini semakin hidup dan menarik. Satu hal yang paling saya kagumi adalah bagaimana sang sutradara mampu menggambarkan para penduduk Capitol dengan sempurna, menjijikkan, tapi sempurna. Bayangkan saja, penduduk Capitol ini menganggap acara The Hunger Games ini sebagai suatu tayangan TV dimana mereka menaruh taruhan, memberikan dukungan sponsor, bahkan mengajak anak-anak mereka untuk bermain layaknya para tribute (sebutan untuk mereka yang bertarung di Hunger Games) yang bertarung sampai mati. Bahkan ada semacam acara talkshow dengan para peserta sehari sebelum mereka harus bertarung sampai mati. Sebuah ironi yang konyol, menggangu, sekaligus cukup keren.

Konsep sebuah pertarungan maut dimana sekelompok orang harus bertarung sampai tinggal satu pemenang sebenarnya bukanlah barang baru lagi. Sudah ada banyak film yang menggunakan konsep ini. Bedanya, orang-orang yang bertarung di turnamen ini biasanya adalah narapidana, atau orang-orang jahat lainnya. Sedangkan yang bertarung di Hunger Games adalah remaja berusia 12-18 tahun yang (sebagian besar) sama sekali tidak terlatih untuk saling membunuh. Tapi justru hal inilah yang membuat penonton jadi lebih bisa bersimpati dan merasa terikat pada para pemuda ini.

Jika ada beberapa hal yang saya rasa masih kurang dari The Hunger Games kemungkinan adalah bagaimana ending dari film layar lebar ini kurang memiliki dampak nyata. Setelah semua hal yang terjadi, pada akhirnya Peeta dan Katnis (tokoh utama dari film ini) kembali ke distrik mereka tanpa adanya hal konkrit yang mereka lakukan untuk “membebaskan” distrik mereka. Tapi karena novelnya adalah sebuah trilogi, saya yakin di adaptasi film layar lebar yang keduanya kita akan melihat hasil yang lebih konkrit dari semua usaha Katnis dan Peeta.


SHARE
Previous articleGame Developer Buka-Bukaan Rahasia Pembuatan Game Lewat Gedebuk Coy!
Next articleDapatkan Bintang Tiga di Semua Level Angry Birds Space!
Seseorang yang awalnya ingin menjadi seorang teknokrat namun justru berkecimpung di dunia game. Penggemar Jessica Alba dan Alexis Bledel yang memiliki spesialisasi di antaranya dalam bidang Anime, Game, RPG, Game Design, Manga, Movie dan Trading Card Game. Saat ini mendapat posisi sebagai Managing Editor ZIGMA dan OMEGA serta Lead QA I Play All Day Studio.