Saya Bangga Dengan Film Indonesia!

Saya harus akui, bahwa saya bukanlah pencinta film layar lebar produksi dalam negeri. Bahkan film-film seperti Merantau, Soe Hok Gie, Pasir Berbisik, dan Daun di atas Bantal pun tidak bisa membuat saya mencintai dan bangga dengan hasil karya sineas dalam negeri. Tapi setelah melihat The Raid, dengan percaya diri saya bisa katakan, Saya Bangga dan Cinta dengan film Indonesia (paling tidak dengan The Raid).

Terus terang jika dilihat dari sisi film aksi, bagi saya The Raid jauh lebih bagus dari kebanyakan film-film Holywood seperti the Expendables, Die Hard ataupun berbagai film Jason Statham, yang bahkan judulnya pun tidak saya ingat. The Raid juga tidak kalah dari film-film garapan Jet Li maupun Jacky Chan. Intinya ini adalah film buatan sineas dalam negeri yang memang layak bersaing di kancah internasional. Tidak heran jika Holywood kemudian membeli hak untuk menyiarkan dan membuat remake-nya.

The Raid sendiri bercerita mengenai sebuah tim elit polisi yang mencoba menyerbu sarang mafia. Apartemen bobrok yang akan diserbu ini merupakan tempat persembunyian penjahat kelas kakap yang selama ini diincar polisi. Selama ini sudah beberapa kali polisi mencoba menyerbu sarang penyamun tersebut, tapi mereka tidak pernah berhasil. Kali ini pun, tim elit polisi yang mencoba menyerbu tempat ini harus berhadapan dengan” neraka” ketika rencana penyerbuan mereka berubah menjadi acara pembantaian oleh pihak mafia.

Dari sisi cerita, sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa dari The Raid, memang sih ada beberapa plot twist disana-sini, yang walaupun sudah bisa diduga, tapi cukup menyegarkan juga, tapi masalahnya, sisi cerita dari film ini kurang digarap dengan baik. Ada beberapa plot hole, yang sampai terakhir tidak dijelaskan secara tuntas. Belum lagi, nama tiap tokoh juga jarang sekali disebut, bahkan sampai film berakhir pun saya masih tidak tahu siapa nama gembong mafia yang ingin ditangkap, saya hanya bisa mengingat satu nama saja, “anjing gila.”

Letak keistimewaan The Raid ada pada bagian aksinya. Koreografi pertarungan The Raid sangatlah memukau. Selain brutal, sadis, dan ganas, pertarungan di The Raid juga berkesan nyata. Kursi, meja, dan berbagai peralatan lain yang digunakan untuk bertarung tidak lantas hancur berantakan begitu dipukulkan ke badan lawan. Dan yang pasti, efek darah yang digunakan sekarang jauh lebih realistis, beda dengan garapan sutradara Gareth Evans sebelum ini (Merantau), yang menggunakan darah berwarna pink. Saya sudah banyak melihat adegan tarung di film laga, tapi hanya sedikit film yang bisa menyamai serunya pertarungan di The Raid. Sekedar untuk peringatan saja, pertarungan di The Raid selalu penuh dengan darah dan adegan kekerasan yang sadis, jadi bersiaplah untuk merasa miris.

Uniknya, selain unsur kekerasan dan aksi tanpa henti selama 90 menit, The Raid masih bisa menampilkan unsur komedi di tengah suasana yang serius. Kerap kali seisi bioskop dimana saya melihat film ini tertawa terbahak-bahak setelah melihat seseorang dibunuh dengan sadis. Bukan karena gedung bioskop dipenuhi oleh psikopat haus darah, tapi karena memang sutradara Gareth Evans menempatkan berbagai adegan yang singkat, tapi lucu, ditengah-tengah pertarungan berdarah.

Akhir kata, jika harus ditanya apa yang membuat The Raid sebagai film yang bagus dan layak ditonton, saya hanya bisa berkata satu alasan, karena “pas.”


SHARE
Previous articleHalo 4 Warhouse Map Preview, a Stratospheric Gas-Mining Ship
Next articleZigma #113, Kingdom Hearts 3D + The Witcher 2 Edisi Konsol!
Seseorang yang awalnya ingin menjadi seorang teknokrat namun justru berkecimpung di dunia game. Penggemar Jessica Alba dan Alexis Bledel yang memiliki spesialisasi di antaranya dalam bidang Anime, Game, RPG, Game Design, Manga, Movie dan Trading Card Game. Saat ini mendapat posisi sebagai Managing Editor ZIGMA dan OMEGA serta Lead QA I Play All Day Studio.