Sihir Itu Ada!

“Keunggulan Xar dan Vichattan sendiri mungkin terletak pada world-buildingnya, walaupun dunianya kecil tapi lengkap dari teori penciptaannya,” begitulah salah satu penjelasan Bonmedo Tambunan terhadap salah satu pertanyaan yang terlontar pada Peluncuran Xar dan Vichattan 3 di Leksika Kalibata City, 31 Maret 2012 lalu.

 

Walaupun dibayangi demo antikenaikan BBM sedari beberapa hari lalu, acara tetap berlangsung meriah. Setiap pengunjung dengan antusias menerima pin, stiker, dan berbagai penganan istimewa. Acara diawali dengan diskusi antara moderator Melody Violine (Blogger Buku Indonesia) dengan Bonmedo Tambunan (penulis XV) dan Silvero Shan (editor XV 3) selama sekitar setengah jam. Pada sesi ini, terungkap betapa detail dan menariknya dunia Xar dan Vichattan yang sudah mulai menghinggapi penulisnya sejak tahun 1993.

Sesi tanya jawab dimeriahkan oleh para pengunjung yang ingin mengetahui lebih lanjut perihal Xar dan Vichattan. Dibantu oleh sang editor, Bonmedo menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka satu per satu. Kuis juga dibawakan oleh MC, Aditya Hadi Pratama (Forum Buku Kaskus) dengan hadiah buku dari Adhika Pustaka dan poster XV. Puas bertanya-jawab, doorprize pun diundi pada akhir acara. Hadiah doorprize ini sangat spesial, yaitu boxset XV yang belum beredar di pasaran.

Acara diakhiri dengan sesi tanda tangan dan foto-foto. Tidak hanya para pengunjung yang mendapatkan hadiah buku, mereka yang membeli XV sendiri pun tidak mau ketinggalan untuk meminta tanda tangan empunya. Dengan cerita yang menawan dan ilustrasi yang indah, XV berhasil memikat pembaca dari berbagai kalangan usia.

Keberhasilan Bonmedo Tambunan menuntaskan trilogi Xar dan Vichattan seri Ahli Waris Cahaya diharapkan dapat memotivasi (calon) penulis-penulis fantasi lainnya di tanah air turut untuk mencapai prestasi serupa. Dengan demikian, merajanya karya-karya fantasi lokal di negeri sendiri bukan lagi mimpi semata.


SHARE
Previous articleWinter is Coming
Next articleAIKA Champions League Event!
Meskipun menyandang nama musik, Melody Violine lebih senang menulis daripada bermain musik. Itulah mengapa ia memutuskan untuk kuliah di Program Studi Indonesia FIB UI hingga lulus pada tahun 2009. Selain menjadi kontributor Duniaku, ia menerjemahkan novel-novel dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, termasuk di antaranya adalah adaptasi novel Assassin's Creed (Oliver Bowden).