Friday Night Movie Review: Red Lights

Setelah beberapa bulan ini memanjakan pecinta movie dengan berbagai deretan judul papan atas (The Expendable 2, Bourne Legacy, The Dark Knight Rises, The Amazing Spiderman, dll) minggu ini bioskop-bioskop Indonesia sepertinya beristirahat untuk sejenak. Mungkin untuk menghimpun tenaga guna menunggu perilisan Resident Evil Extinction minggu depan. Karena hal ini saya juga sedikit kesulitan untuk memilih film apa yang sebaiknya dibahas minggu ini. Pada akhirnya daya tarik dari aktor papan atas seperti Sigourney Weaver, Robert De Niro, dan Cillian Murphy, membuat saya memilih untuk membahas Red Lights ini.

Red Lights bercerita mengenai seorang profesor yang ahli dalam bidang paranormal, Margaret Matheson (Sigourney Weaver) dan asistennya Tom Buckley (Cillian Murphy), yang mengelilingi Amerika guna mencari dan mempelajari fenomena paranormal. Mereka juga sering kali dimintai untuk menyelidiki apakah fenomena paranormal yang terjadi sebenarnya asli ataukah hanya tipuan. Karena hal inilah, Margaret Matheson merupakan sosok yang dibenci sekaligus ditakuti di kalangan paranormal. Sudah beberapa kali Margaret dan asistennya Tom, berhasil membekuk paranormal palsu yang memberi harapan kosong dengan imbalan uang.

Masalah mulai meruncing ketika Silver (Robert De Niro) seorang paranormal buta yang sudah pensiun, memutuskan untuk tampil kembali. Sebelum memutuskan untuk pensiun, tadinya Silver dikenal dengan berbagai kemampuan seperti membengkokkan logam, membaca pikiran, sampai dengan menyembuhkan penyakit. Orang selalu berbondong-bondong untuk melihat pertunjukkannya, entah itu untuk meminta kesembuhan atau sekedar melihat kemampuannya yang mengagumkan. Silver bisa dibilang sebagai selebritisnya dunia paranormal.

Tom, melihat keluarnya Silver dari pensiun ini sebagai kesempatan untuk membekuknya, tapi Margaret tidak setuju dengan asistennya. Ia menganggap Silver terlalu berbahaya, dan usaha untuk menangkapnya justru akan berbalik menyerang mereka. Ini karena dulu Margaret sendiri pernah berhadapan dengan Silver, dan pada akhirnya justru dipermalukan di depan banyak orang. Tom tetap bersikeras untuk membongkar kedok Silver, tapi suatu peristiwa supernatural menghalang-halanginya ketika ia mencoba untuk mensabotase salah satu pertunjukan Silver. Bisakah Tom membuktikan bahwa Silver sebenarnya adalah seorang penipu, ataukah memang fenomena paranormal itu ada?


Salah satu hal yang sangat saya sukai dari film ini adalah bagaimana ia menggambarkan manusia sebagai mahluk yang sangat bergantung pada harapan. Harapan untuk sembuh, harapan bahwa ada dunia lain setelah kematian, harapan bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari yang kita ketahui. Begitu teguhnya mereka berpegang pada harapan ini, mereka akan mengorbankan segala guna mewujudkannya. Bahkan ketika terbukti bahwa harapan mereka ini palsu, banyak orang yang justru menyalahkan orang yang mengungkap kebenaran, dan bukannya orang yang “membutakan” mereka dengan kebohongan. Mereka lebih suka hidup dalam kebohongan yang manis daripada menerima kenyataan pahit dari kebenaran. Tapi memang itu adalah sifat dasar dari manusia, ketika kamu akan kehilangan hal yang paling kamu cintai, harapan sekecil dan se-absurd apapun akan digenggam dengan erat. Matheson, sang profesor, bahkan juga mengakui hal ini. Ia mengatakan pada Tom bahwa untuk sesaat, ia sempat mempercayai bahwa Silver benar-benar memiliki kekuatan supernatural.

Sangat disayangkan, walaupun temanya menarik, tapi Red Lights memiliki kesalahan yang saya kira cukup fatal, yaitu terlalu rumit. Entah memang saya yang bodoh dan sedikit lambat berpikir, tapi terus terang saya sering kali bingung dengan berbagai percakapan yang terjadi, terutama percakapan yang melibatkan Silver dan Tom. Sampai saat ini, adegan dimana Tom menemui Silver di ruangan khususnya masih menjadi suatu teka-teki bagi saya. Apa maksud dari adegan ini, apa yang sebenarnya dibicarakan oleh Silver? Bukan berarti saya tidak mengerti bahasa inggris atau tidak bisa membaca teks bahasa Indonesia, tapi saya tetap tidak paham apa yang sedang terjadi. Padahal jika saja lebih disederhanakan, saya yakin Red Lights akan bisa dinikmati lebih banyak orang.

Oh iya, satu hal yang harus Anda ketahui sebelum melihat film ini, mungkin film ini akan menyinggung Anda, karena ia menggambarkan proses penyembuhan yang banyak dilakukan oleh agama tertentu, sebenarnya adalah proses bohong-bohongan saja. Tapi saya yakin sang sutradara sebenarnya tidak bermaksud menyinggung agama apapun juga. Saya kira sang sutradara hanya ingin agar kita tidak begitu saja mudah percaya oleh suatu hal yang tidak bisa dijelaskan dengan nalar. Bagaimanapun juga, memang tidak sedikit para penipu yang mencoba untuk memanfaatkan mereka yang berharap akan adanya mukjizat.

Menurut saya pribadi, Red Lights memiliki tema yang sangat menarik. Apakah fenomena supernatural itu benar-benar ada? Jika kita lihat di layar televisi, acara reality show supernatural pernah menjadi salah satu acara unggulan di berbagai stasiun TV. Acara seperti Dunia Lain, Indigo, dan berbagai acara lainnya, semuanya berkutat dalam hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat. Lalu apakah acara-acara ini sebenarnya juga hanya sekedar bohongan saja? Saya tidak berani mengatakan ya maupun tidak, karena memang disekitar kita ini masih ada banyak peristiwa aneh yang tidak bisa dijelaskan. Yang bisa saya katakan adalah, apakah Anda akan memutuskan untuk tidak mempercayai sesuatu karena tidak ada bukti bahwa itu nyata, ataukah Anda akan mempercayai sesuatu karena tidak ada bukti bahwa hal tersebut tidak nyata?


SHARE
Previous articleIndonesia HoN National Championship 2012
Next articleUbisoft Mulai Merambah F2P Dengan Mighty Quest For Epic Loot
Seseorang yang awalnya ingin menjadi seorang teknokrat namun justru berkecimpung di dunia game. Penggemar Jessica Alba dan Alexis Bledel yang memiliki spesialisasi di antaranya dalam bidang Anime, Game, RPG, Game Design, Manga, Movie dan Trading Card Game. Saat ini mendapat posisi sebagai Managing Editor ZIGMA dan OMEGA serta Lead QA I Play All Day Studio.