Jelajah Tokyo: Shinjuku

    Di sela-sela tugas meliput Tokyo Game Show 2012, saya menyempatkan diri untuk menjelajah Tokyo. Pikiran saya sudah ke pulau artifisial Odaiba, atau makan di Roppongi, mengunjungi kuil di Asakusa, Disney Sea, LEGO Land, atau mungkin juga mencoba onsen. Tapi saya sadar betul, waktunya nggak banyak. Semuanya harus direncanakan. Maka saya memutuskan untuk mengunjungi tiga tempat saja: Shinjuku, Shibuya, dan Harajuku.

    Shinjuku berada di tengah Tokyo, dan disebut sebagai wilayah metropolisnya Tokyo. Distrik ini punya mal-mal besar, gedung pemerintahan, universitas, taman nasional, sampai apartemen dan kondominium. Stasiun Shinjuku disebut-sebut sebagai stasiun tersibuk dan terpadat di seluruh Jepang.

    Tujuan saya ke Shinjuku adalah melihat sisi modern Tokyo, sekaligus mengunjungi toko buku Kinokuniya. Kebetulan ada dua Kinokuniya di Shinjuku. Kinokuniya pusat terletak di dekat stasiun Shinjuku. Sedang salah satu cabang Kinokuniya terbesar juga ada di Takashimaya, yang tak terlalu jauh dari stasiun Shinjuku.

    Beberapa hal yang cukup menarik dari Shinjuku adalah Tokyo Metropolitan Government Center. Gedung pemerintahan ini didesain oleh arsitek ternama, Kenzo Tange. Selain itu juga ada DoCoMo Tower, yang bentuknya mirip dengan Empire State Building. Gedung ini dimiliki oleh NTT DoCoMo, perusahaan operator seluler terbesar di Jepang.

    Oh ya, Square Enix juga baru saja memindah kantornya ke wilayah Shinjuku. Saya juga sempat mengunjunginya. Untuk kunjungan dadakan ini, nanti akan saya bahas di artikel lain.

    Kalau kamu suka nonton film, Shinjuku punya banyak gedung bioskop. Ada Cinem@rt, Wald 9, dan yang paling baru, Shinjuku Piccadilly. Tidak seperti di Indonesia, yang bioskopnya didominasi oleh jaringan 21 Cineplex dan Blitz, di Jepang masing-masing bioskop dimiliki oleh perusahaan berbeda. Masing-masing juga memiliki fasilitas yang berbeda-beda. Shinjuku Piccadilly, misalnya. Bioskop ini punya fasilitas menonton private untuk dua orang. Harganya sekitar ¥30,000 untuk berdua.

    Toko musik/film juga mendominasi Shinjuku. Ada Disk Union, HMV, dan Tsutaya. Tapi pilihan saya jatuh ke Tower Records, yang tak jauh dari Shinjuku Station. Tower Records adalah toko musik terbesar dan terlengkap di Jepang. Pilihannya sangat beragam. Mulai dari artis Jepang, artis dunia, musik klasik, juga soundtrack game/anime yang saya cari-cari.

    Dua tempat lain yang tidak boleh dilewatkan adalah Tokyu Hands, yang terletak dekat dengan Takashimaya. Ini adalah toko yang menjual berbagai macam kerajinan dan produk kreatif. Mulai dari fashion yang unik, aksesoris, sampai manian. Tempat selanjutnya adalah Don Quijote, toko diskon 24 jam yang menjual berbagai macam benda unik. Meski sedang tidak perlu apa-apa, cobalah untuk mampir. Dijamin kamu akan keluar membawa sesuatu.

    Saya menjelajah Shinjuku selama kurang lebih empat jam. Tidak panjang, tapi saya cukup puas menjelajahi sisi metropolis Tokyo. Lalu bagaimana dengan hunting buku di Konokuniya? Hmm, sayangnya saya tidak membeli apa-apa. Entah mengapa, saya sudah tidak familiar dengan artbook-artbook yang dijual. Terakhir ke Jepang, sepuluh tahun lalu, saya bisa keluar dengan membawa minimal tiga buku, kalau sudah mampir ke toko buku macam Kinokuniya (artbook Street Fighter, guide King of Fighters, dsb). Tapi sekarang, saya benar-benar tersesat dengan tokoh-tokoh baru game/anime Jepang (Tiger x Bunny, apa pula itu).

    Kinokuniya pusat di Shinjuku
    Softmap, menjual game baru dan bekas

    Stay tuned di Duniaku Network, berikutnya kita akan menjelajah Shibuya.


    SHARE
    Previous articleSingle Baru Avenged Sevenfold Menjadi Soundtrack Black Ops II
    Next articleTGS 2012: Fitur Baru untuk Monster Hunter 3 Ultimate Versi Wii U
    Mengawali karier menulisnya pada tahun 1997 sebagai kontributor rubrik game majalah Mentari Putera Harapan. Namanya mulai dikenal setelah dia turut membidani lahirnya majalah game pertama di Indonesia, Game Master. Begitu banyak majalah yang lahir dari buah pemikirannya. Sebut saja Game Master, 3D Magazine, Ultima Nation, hingga Zigma dan Omega. Tidak hanya dikenal sebagai jurnalis dan konseptor, GrandC juga seorang penulis cerita. Saat ini dia banyak disibukkan dengan pengembangan Vandaria, dunia fiksi ciptaannya.