Duniaku Movie Review: Skyfall

Pekan ini penggemar film kembali dimanjakan dengan kehadiran mata-mata nomer satu dari Inggris, James Bond. Untuk seri terbarunya ini, Daniel Craig kembali memerankan sang mata-mata perlente tersebut. Dua karakter lama akan kembali membantu Bond dalam petualangannya, yaitu Q, dan Moneypenny. Dari tiga film Bond (Casino Royale, Quantum of Solace, dan Skyfall) yang dibintangi oleh Daniel Craig, saya kira Skyfall ini adalah yang terbaik. Bukan hanya dari adegan aksi, tapi juga dari jalan cerita, akting, dan juga cinematografi-nya. Tidak percuma jika film ini dibuat dalam rangka merayakan 5o tahun serial Bond. Ada banyak hal yang saya kira menonjol dari film ini jika dibanding film-film Bond lainnya, tapi sebelum membahas tersebut, mari kita simak sinopsis yang saya bagi menjadi tiga babak berikut ini. Oh ya, jika tidak ingin membaca SPOILER, silahkan langsung melompat ke bagian Conclussion dan Highlight.

 

Act 1: The Death of Mr Bond

Babak pertama dari Skyfall ini dimulai dengan pengejaran yang dilakukan oleh 007 dan agen wanita bernama Eve, di Turki. Mereka mengejar pria yang membunuh salah satu agen MI6, dan mencuri hard drive yang berisi identitas asli dari semua mata-mata NATO yang sedang menyusup ke organisasi teroris. Bond mengejar pria tersebut sampai ke atas sebuah kereta api, dan sempat tertembak di bahu kanan. Tapi ini tidak menghentikan 007, dan ia pun tetap bertarung untuk memperebutkan hard drive. Sementara itu, Eve yang mengikuti Bond mengatakan pada M bahwa kereta api akan memasuki terowongan dan ia tidak bisa lagi mengikuti kedua agen yang sedang bertikai tersebut. Mengetahui hal ini, M memerintahkan Eve untuk berusaha menembak musuh. Walaupun Eve mengatakan bahwa ia tidak mendapatkan bidikan yang tepat, tapi M tetap memerintahkan untuk menembak, dan pada akhirnya, justru 007-lah yang tertembak dan jatuh dari kereta.

Eve, agen MI6 yang “menembak” Bond

Bond dianggap mati, tapi bukan itu masalah terbesar yang sekarang dihadapi oleh M. Ia harus mempertanggung jawabkan hilangnya hard drive yang berisi data vital. Jika musuh berhasil mendapatkan data yang tersimpan di hard drive ini, maka seluruh mata-mata NATO yang sedang menyusup bisa-bisa dibunuh musuh. Perdana mentri memutuskan untuk memensiunkan M sebagai kepala MI6, dan kepala dari komite keamanan dan intelegensi, Gareth Mallory ditunjuk sebagai penggantinya. Tapi M menolak keputusan ini, ia mengatakan pada Mallory bahwa ia hanya akan pensiun setelah berhasil mengambil kembali hard drive yang dicuri. Ketika M dalam perjalanan pulang ke markas MI6, seseorang mencoba meng-hack data yang ada di hard drive, dan setelah diteliti, sumber dari hacker ini ternyata berasal dari kantor M sendiri. Bukan hanya berhasil mendapatkan data yang ada di hard drive, sang hacker juga meledakkan saluran gas di markas MI6, dan membunuh beberapa agen.

Sementara itu, Bond ternyata masih hidup. Ia menghabiskan hari-harinya dengan mabuk-mabukan dan bermain wanita, tanpa ada niat untuk kembali ke MI6. Tapi semuanya itu berubah ketika ia mendengar berita bahwa MI6 diserang dan di bom oleh teroris. Bond-pun memutuskan untuk kembali pulang ke inggris, dan menuntaskan tugas untuk mengambil hard drive.

 

Act 2: The Ressurection

Sesampainya di Inggris, Bond mengkonfrontasi M, ia merasa marah karena M tidak mempercayainya di Turki. Menurutnya, M seharusnya tidak memerintahkan Eve untuk menembak, dan membiarkan dirinya untuk membekuk penjahat seorang diri. Ini juga alasan mengapa pada mulanya ia enggan untuk kembali ke MI6. M tetap pada pendiriannya, dan mengatakan bahwa hal tersebut sudah menjadi resiko seorang mata-mata, dan meminta Bond untuk segera menjalani evaluasi guna menentukan kesiapannya dalam bertugas lagi.

Keesokan harinya Bond menjalani berbagai test kesiapan seorang agen. Sayangnya, cedera di bahu kanan yang ia derita di Turki membuat tangannya bergetar ketika membidik. Akibatnya ia tidak lagi bisa menembak dengan tepat. Walaupun begitu, M tetap menyatakan Bond lulus, dan siap untuk kembali bertugas. Dari pecahan peluru yang diambil dari bahu kanan Bond, mereka mengetahui bahwa pria yang mencuri hard drive bernama Patrice, dan sekarang ini ia ada di Shanghai. Maka ditugaskanlah Bond ke Turki untuk memburu Patrice, dan mengetahui siapa yang menyuruhnya merebut hard drive.

Bérénice Lim Marlohe, aktingnya membuat saya nyaris bisa merasakan ketakutan yang ia rasakan

Sesampainya di Shanghai, Bond mengikuti Patrice sampai ke sebuah gedung kosong. Disini Bond sekali lagi bertarung dengan Patrice dan mencoba untuk mengorek informasi mengenai orang yang mempekerjakan Patrice. Sayangnya ia terjatuh dari gedung dan meninggal sebelum sempat berbicara. Kehabisan info dan jalan keluar, satu-satunya petunjuk yang tersisa adalah koin judi dari sebuah kasino di Macau yang ada di tas Patrice. Sementara Bond menyelidiki petunjuk baru ini, pria yang mencuri hard drive mulai berulah, ia mempublikasikan lima nama agen lewat youtube, dan mengatakan bahwa lima nama baru akan diumumkan tiap minggunya.

Sesampainya di kasino, Bond menukarkan koin judi milik Patrice, dan ia pun menerima satu koper uang berisi empat juta Euro. Ketika akan meninggalkan kasino, Bond dihentikan oleh seorang gadis bernama Severine yang mengatakan bahwa ia adalah orang yang mempekerjakan Patrice. Bond tentu saja mengetahui bahwa Severine hanyalah bawahan dari orang lain. Ia pun meminta Severine untuk mempertemukannya dengan sang majikan. Severine setuju, dengan syarat Bond harus membunuh majikannya.

Q baru, yang mengingatkan saya dan teman saya akan Otacon dari seri Metal Gear

Bond dan Severine pun dibawa kesebuah pulau, yang sudah ditinggalkan. Disini Bond akhirnya bertemu dengan otak dibalik kekacauan ini, yang ternyata adalah mantan mata-mata MI6, bernama Raoul Silva. Ia tadinya dianggap sudah meninggal di Cina. Raoul sendiri merasa bahwa M telah menghianatinya dengan menyodorkan dirinya ke pemerintah Cina, oleh karena itulah ia merencanakan balas dendam ini selama bertahun-tahun. Setelah Silva membunuh Severine, 007 pun berusaha melarikan diri, dan pada akhirnya berhasil menangkap Silva.

Silva dipenjara di markas baru MI6, dan Q sedang berusaha untuk meng-hack laptop Silva untuk mengetahui sejauh apa informasi yang sudah dimiliki Silva. Sementara itu, M menghadiri sidang pertanggung jawaban atas semua peristiwa yang terjadi. Sayangnya penangkapan Silva ini sudah ia rencankan. Ketika Q berhasil meng-hack laptop milik Silva, sebuah virus masuk ke sistem keamanan digital dari MI6. Akibatnya semua pintu terbuka, dan Silva-pun berhasil melarikan diri. Dari awal tujuannya adalah menangkap M hidup-hidup, oleh karena itulah ia berpura-pura tertangkap. Silva dan Bond pun berlomba-lomba untuk menuju ruang sidang dimana M sedang “diadili”. Walaupun Silva berhasil mencapai ruang pengadilan terlebih dahulu, ia tidak berhasil menculik M. Bond segera menyelamatkan M, dan memerintahkan Q untuk meninggalkan jejak yang bisa diikuti oleh Silva. Dengan begitu Bond berharap Silva akan terpancing untuk kembali mencoba menculik M.

 

Act 3: Skyfall

Pada akhirnya Bond memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya, Skyfall Lodge. Ini adalah tempat Bond tinggal sebelum kedua orang tuanya meninggal dan ia menjadi yatim piatu. Di Skyfall Bond bertemu dengan Kincaide, pria tua yang menjadi pengurus dari rumah tersebut. Maka bersiaplah tiga orang ini untuk menghadapi Raoul Silva dan pasukannya, mereka memasang perangkap di berbagai tempat. Selang beberapa waktu kemudian, Skyfall pun diserbu oleh pasukan Silva. Walau sedikit kesulitan, tapi Bond akhirnya berhasil membunuh semua pasukan. Sayangnya Silva bukan salah satu dari pasukan ini, ia datang dengan menggunakan helikopter tempur. Bond pun segera menyuruh M dan Kincaide untuk melarikan diri lewat jalan bawah tanah, sementara ia bersiap untuk meledakkan Skyfall. Menggunakan dinamit dan tangki gas, Bond meledakkan Skyfall, ledakan ini mengenai helikopter tempur milik Silva, dan berhasil menjatuhkannya.

Sementara itu Silva melihat lampu di kejauhan, dan menyadari bahwa M telah melarikan diri lewat jalan bawah tanah. Ia pun segera memburu M ke sebuah kapel tua. Pada akhirnya Silva berhasil menangkap M dan Kincaide. Ia kemudian meminta M yang sudah terluka karena baku tembak sebelumnya, untuk membunuh dirinya dan M sendiri secara bersamaan. Untungnya Bond berhasil datang tepat waktu, ia melempar pisau yang menancap tepat di punggung Silva. Pada akhirnya Silva berhasil dibunuh, tapi M yang sudah kehilangan banyak darah juga tidak terselamatkan. Sebagai epilogue, Mallory kini mengepalai MI6 sebagai M yang baru. Sementara itu Eve menjadi sekretarisnya, dan ia mengatakan pada Bond bahwa nama lengkapnya adalah Eve Moneypenny.

 

Raoul Silva, antagonis utama yang juga gay?

Highlight and Conclusion

Ada banyak hal yang membuat saya terkesan akan film ini. Yang pertama adalah bagaimana sang sutradara dan penulis naskah mampu terus memberikan kejutan sepanjang filmnya. Seolah-olah tiap kali kamu merasa bahwa ini adalah adegan puncak dan paling keren dari filmnya, WHAM, kamu dikejutkan lagi dengan adegan lain yang tidak kalah kerennya. Ketika kamu berpikir bahwa film akan berakhir, tiba-tiba saja ada plot twist lain yang akan mengejutkan mu.

Hal lain yang membuat saya menyukai film ini adalah bagaimana tiap adegan terasa unik dan membuat mu ingin menyaksikannya sekali lagi. Misalnya saja ketika Silva menunjukkan muka aslinya. Walau hanya sekilas, sampai sekarang pun saya masih bisa membayangkan dengan jelas wajahnya saat itu. Atau ketika adegan pertarungan antara Bond dan Patrice di Cina, walau hanya siluet, tapi adegan tarung ini terkesan terkoreografi dengan sangat bagus. Adegan pertarungan Bond di atas kereta api juga tidak kalah kerennya. Jika saja ada tombol rewind di gedung bioskop, saya ingin menyaksikan berbagai adegan ini beberapa kali lagi. Disinilah dimana sang keahlian sutradara kelihatan menonjol. Bukannya menggunakan suatu hal yang keren dan menggunakannya di berbagai adegan, tapi ia mampu memberikan hal keren baru dalam setiap adegan. Penonton dibuat teringat akan tiap adegan ini, dan “dipaksa” untuk ingin melihatnya sekali lagi.

Menurut saya, Skyfall juga tidak memiliki plot hole, dan semua yang terjadi memang sangat beralasan dan masuk akal. Misalnya, tadinya saya heran mengapa Bond tidak segera kembali bertugas setelah peristiwa di turki. Tapi kemudian dijelaskan bahwa Bond juga manusia, ia bisa juga merasa kesal dan sedikit dendam ketika ia merasa dikhianati dan tidak dipercayai. Saya juga sempat heran mengapa Silva tidak menggeledah atau mendeteksi sinyal radio yang dikirim oleh Bond, karena dengan seluruh perlengkapan keamanan dan kecerdasan yang ia miliki, tidak mungkin ia bisa sesembrono itu. Tapi sekali lagi, nantinya semua ini akan dijawab dan djielaskan dengan cara yang masuk akal.

Jalan cerita dari Skyfall sendiri juga sangat menarik, selain memberi sedikit gambaran mengenai masa lalu Bond, seri ini memiliki beberapa misteri dan juga plot twist yang membuat mu penasaran untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Saya jamin durasi film sepanjang 2 jam lebih tidak akan terasa lama ketika kamu melihatnya.

Tentunya akting dari Daniel Craig, Judie Dench, Javier Bardem dan juga Bérénice Lim Marlohe, juga salah satu faktor yang menjadi nilai lebih dari film ini. Daniel Craig sekali lagi mampu menampilkan sosok Bond yang selalu tenang, penuh perhitungan, dan sangat percaya diri. Dalam pertarungan ia terkesan ganas, dan pantang menyerah. Bahkan ketika bahunya tertembak pun ia maju terus seolah tidak terjadi apa-apa. Judie Dench mampu menampilkan sosok wanita yang teguh, ia bisa menunjukkan kenapa Bond mempercayainya 100%, dan kenapa ia layak menjabat sebagai pimpinan dinas intelegensi nomer satu di Inggris. Bahkan saya kira, Judie Dench bisa dibilang sebagai ultimate bond girl, tentu bukan karena bodinya yang seksi atau parasnya yang menawan, tapi karena ia adalah satu-satunya wanita yang bisa “menaklukkan” Bond.

Sebagai sosok penjahat psikopat, Javier Bardem mampu memerankan Raoul Silva dengan sempurna. Ia bisa menunjukkan bagaimana ia membenci M, dan sekaligus masih merasa sayang padanya. Ia adalah mantan agen MI6 yang tesiksa secara lahir dan batin, dan sekarang ini sedang mencari penutup untuk babak terakhir dari kehidupannya. Tidak ketinggalan juga adalah Bérénice Lim Marlohe (Severine), memang ia hanya tampil sesaat, tapi saya cukup terkesan dengan aktingnya. Walau raut mukanya tersenyum, tapi kamu dengan jelas bisa merasakan bahwa ia sebenarnya sangat ketakutan. Ketakutan yang nyaris membuatnya gila. Dan semua itu bisa ia sampaikan dengan jelas ke para penonton, entah bagaimana, ia bisa membuat senyuman yang ia lakukan sebagai tanda bahwa ia sebenarnya ketakutan setengah mati.

Untuk cinematografi-nya, sang sutradara mampu menampilkan berbagai lokasi dan adegan yang sangat keren. Mulai dari kasino di Macau yang terasa megah, Shanghai yang terasa keren dan gemerlap, sampai dengan Skotlandia yang mengingatkan saya akan The Elder Scrolls V Skyrim. Satu hal yang saya sayangkan, yaitu tidak adanya vesi 3D, dan versi Imax-pun tidak difilmkan menggunakan kamera khusus Imax.

Satu hal terakhir yang membuat saya tergila-gila akan film ini adalah unsur humornya. Kerap kali sang sutradara menyelipkan berbagai unsur humor ditengah adegan yang menegangkan. Yang paling membuat saya terpingkal adalah ketika Silva “merayu” Bond, dan mengimplikasikan bahwa ia sebenarnya gay. Atau ketika Bond berkomentar mengenai hiasan meja berbentuk anjing milik M, yang sepertinya tidak bisa hancur. Memang porsinya tidak banyak dan hanya terjadi sekilas saja, tapi unsur humor mampu menyegarkan film yang penuh dengan aksi ini.

Walau bukan sebuah Trilogi, tapi saya kira Skyfall ini adalah penutup yang bagus untuk tiga film awal Daniel Craig. Ke depannya Bond seolah memulai petualangan baru, dengan berbagai peran pendukung yang baru pula. Rasanya saya sudah tidak sabar untuk melihat bagaimana sepak terjang Bond berikutnya. Oh dan jika kamu belum melihat Skyfall, saya anjurkan untuk segera melihatnya, jika perlu lihat di the Premierre, trust me it’s worth it.


SHARE
Previous articleKomentar Hajime Tabata untuk Lokalisasi Final Fantasy Type-0
Next articleZIGMA #120 – Persona 4 Golden yang Memukau!
Seseorang yang awalnya ingin menjadi seorang teknokrat namun justru berkecimpung di dunia game. Penggemar Jessica Alba dan Alexis Bledel yang memiliki spesialisasi di antaranya dalam bidang Anime, Game, RPG, Game Design, Manga, Movie dan Trading Card Game. Saat ini mendapat posisi sebagai Managing Editor ZIGMA dan OMEGA serta Lead QA I Play All Day Studio.