Pemuda Berumur 18 Tahun Meninggal Setelah 40 Jam Bermain Game

Seorang pemain Diablo III berumur 18 tahun meninggal dunia setelah bermain marathon selama 40 jam tanpa henti, seperti yang dilaporkan oleh salah satu press di Australia.

Dilaporkan bahwa pemuda tersebut menyewa sebuah ruangan di salah satu warnet di dekat tempat tinggalnya sebelum memainkan game online Diablo 3. Tanpa sama sekali berhenti untuk tidur maupun makan, pemuda tersebut ditemukan pingsan di meja tempat dia bermain. Penjaga warnet langsung membangunkannya dan ia terbangun dan langsung berjalan keluar.

Namun ternyata setelah berjalan sejenak, ia jatuh tersungkur. Seketika saja penjaga warnet memanggil ambulan untuk membawanya ke rumah sakit. Saat mencapai rumah sakit, ia dinyatakan meninggal dunia oleh tim dokter. Banyak yang memperkirakan bahwa penyebab kematiannya adalah karena terlalu lama duduk dengan posisi yang sama hingga menyebabkan gangguan pada aliran darahnya.

Sebelumnya mungkin Citizen pernah mendengar kasus gagal jantung dari seorang pemain game dari Taiwan juga. Tak seorang pun temannya yang tahu bahwa dia telah meninggal sejak sembilan jam kematiannya. Ini disebabkan karena ia tidak mengindahkan kebutuhan makan dan istirahatnya, terlalu berkonsentrasi berlebihan pada game yang ia mainkan.

Tahun lalu juga ada kasus mengenai meninggalnya warga China karena bermain tanpa henti selama tiga hari berturut-turut. Selain itu, ada pula mengenai Chris Staniforth, gumpalan darah terbentuk di kakinya dan mengalir ke paru-parunya setelah sesi maraton Xbox.

Kematian ini bisa menjadi salah satu hal yang harus digaris bawahi sebagai resiko bermain game. Banyak orang mulai prihatin dan sebaiknya harus lebih waspada dalam bermain game. Mengenai hal tersebut, Blizzard Entertainment sebagai pihak pengembang game Diablo 3 mengatakan, “Kami sangat sedih mendengar berita ini, dan kami ikut berduka bersama dengan orang tua dan teman-teman di waktu sulit ini. Kami merasa tidak sopan apabila terus berkomentar sebelum mengetahui hal-hal apa saja yang terjadi.”

“Kami menyadari bahwa semuanya memang tergantung dari pribadi diri sendiri ataupun orang tua ataupun wali yang menentukan kebiasaan bermain seseorang, kami merasa bahwa pengawasan memang diperlukan dan kehidupan seseorang berada diatas segala hiburan, ” sambung mereka.

sumber : venturebeat