DmC: Devil May Cry, Bagaimana Hasil Dari Keputusan Reboot yang Kontroversial?

Dunia game sempat dihebohkan ketika muncul konfirmasi selama Tokyo Game Show 2010. bahwa Capcom bakal me-reboot serial Devil May Cry. Ada yang menyambut hembusan nafas kehidupan baru untuk serial yang menjadi standar gameplay hard-stylish tersebut. Namun justru lebih banyak yang berpendapat langkah baru ini salah. Apakah tanggapan prematur hanya karena melihat desain karakter utamanya yang berubah drastis itu benar?

Me-reboot sebuah franchise yang sudah begitu dikenal dekat dengan gamer, dan berhasil membangun image khusus (terutama karakternya yang dibuat sangat cool), konteksnya bukan sekadar permak sana – sini. Tim yang bertanggung jawab harus bisa menemukan apa intisari game orisinalnya, kemudian menemukan formula baru selama mengemasnya agar sekilas terlihat berbeda. Pekerjaan ini jauh lebih susah dari mengembangkan sebuah game dari nol, karena perlu memilah mana yang tidak penting dari game aslinya, kemudian menggantikannya dengan hal baru yang lebih baik.

Dan yang lebih penting, tim yang bertanggung jawab perlu memberi penekanan pada mereka yang sudah menerima seperti apa Devil May Cry yang mereka kenal, bahwa versi reboot yang disebut DmC: Devil May Cry ini adalah sebuah ”rebirth,” bukan Devil May Cry 5, dan memang tidak diposisikan secara eksplisit sebagai sekuel game sebelumnya.

Speechless…. kita anggap saja mereka dua orang yang berbeda.

Suka atau tidak, DmC akan tetap hadir dengan segala bentuk perubahannya, khususnya karakternya yang memang bukan seperti yang sebelumnya kita sukai. Game yang pengembangannya sepenuhnya diserahkan pada Ninja Theory (sebelumnya kita kenal melalui Heavenly Sword dan Enslaved: Odyssey to the West) ini dirilis hari ini, 15 Januari 2013 oleh Capcom untuk PS3 dan X360 (atau beberapa hari lalu untuk versi kopiannya, sekali lagi karena adanya bocoran ISO), kemudian versi PC Windows menyusul pada 25 Januari 2013.

Ok, kita anggap juga Limbo itu pun juga tidak ada hubungannya dengan setting Devil May Cry yang kita kenal sebelumnya.

Game ini sendiri mengambil setting di sebuah dunia alternatif dari serial Devil May Cry sebelumnya, dan sama sekali tidak berhubungan dengan event yang terjadi pada game sebelumnya. Masih terfokus pada Dante, pemuda dengan kekuatan supernatural yang terbawa masuk ke dalam sebuah kota bernama Limbo City yang dipenuhi demon. Pengenalan awal dengan alibi dunia alternatif sedikit membuat para penggemar melunakkan opini negatif mereka sebelumnya, walaupun mereka masih saja tidak habis pikir kenapa Capcom menyerahkan pengembangan pada Ninja Theory. Alasan Capcom memilih Ninja Theory hanya satu, karena mereka kagum dengan hasil kerja developer yang sebelumnya menjadi pengembang khusus platform Sony tersebut.

Limbo menjadi musuhmu. Kota tersebut hidup, dan memantau setiap gerakan Dante melalui kamera pengintai.

Creative director Ninja Theory, Tameem Antoniades mengatakan jika mereka akan tetap mempertahankan mekanisasi gameplay DmC, seperti yang sudah distandarkan oleh Capcom melalui kreatornya Hideki Kamiya. Selain itu, lead producer Ninja Theory, Alex Jones juga ingin agar hasil “perombakan” mereka ini tetap bisa dibandingkan dengan seri sebelumnya dari segi gameplay dan cerita. Seperti ide memasukkan setting kota yang “hidup” dan bisa menyerang Dante, menjadi satu elemen baru yang diunggulkan DmC dibandingkan seri sebelumnya.

Kamu perlu mengalahkan musuh yang bermunculan sebelum bisa melanjutkan perjalanan. Salah satu ciri khas Devil May Cry klasik yang dipertahankan,

Kota Limbo dimana Dante bakal beraksi bisa bergerak dengan sendirinya dengan tujuan menghalangi Dante melangkah lebih jauh. Ide tersebut terinpsirasi Devil May Cry sebelumnya, dimana kamu bakal dihalangi ketika ingin melalui pintu yang masih tertutup (tanpa ada satu pun petunjuk bagaimana membukanya), atau jika musuh – musuh bermunculan, maka kamu perlu mengalahkan mereka semua untuk bisa terus maju.

Desain Dante yang menjadi kontroversi tersendiri, dan sampai sekarang banyak yang antipati itu pun, sebenarnya bermula dari penampilan yang sama persis seperti Dante yang sudah kita kenal. Namun Capcom kurang setuju dengan hal itu, dan meminta Ninja Theory untuk merubahnya, dan agar desain barunya bsa masuk untuk mereka para gamer muda. Dante lawas didesain dari perspektif Jepang, sedangkan yang baru ini diharapkan bisa diterima oleh gamer muda dan mewakili desain dari perspektif Barat.

Creative director Ninja Theory, Tameem Antoniades yang narsis, membuat desain awal Dante seperti dirinya sendiri. Sejak saat itu banyak penggemar Dante lawas yang merasa ilfell…

Namun karena perubahan yang dianggap drastis tersebut (mulai konsep game dan desainnya), Ninja Theory pernah “diancam mau dibunuh” melalui buku komik dan musik metal dari para fanboy. Dan apa pun yang diserukan para penggemar agar Dante lama dikembalikan, tidak akan membuat pengembangnya bergeming. Karena memang Capcom memasrahkan serial ini pada mereka, ancaman itu pun dianggap angin lalu. Apalagi menurut mereka, desain Dante yang sudah mereka ciptakan benar – benar sudah pas dengan setting-nya. Fans lama Devil May Cry hanya bisa puas dengan gameplay-nya yang dibuat se-hard stylish sebelumnya.

Dengan banyaknya pilihan senjata, Ninja Theory bisa memasukkan unsur gameplay baru seperti lebih banyaknya combo-combo udara.

Sebagian besar game ini sudah selesai pengembangannya pada April 2012 lalu, dan jeda waktu hingga game ini dirilis juga mengalami perbaikan dengan dukungan dari Capcom, yang banyak terlibat dalam memperbaiki sistem gameplay dan pertarungannya untuk memastikan bahwa Dante muda ini masih bergerak dengan respon yang cepat seperti sebelumnya, sekaligus juga menambahkan trik baru seperti combo – combo udara yang belum pernah diterapkan sebelumnya.

Ancaman boikot memang pernah bergulir, namun itu sebelum demo pertamanya dirilis November lalu. Dan rupanya spekulasi prematur karena desain Dante terbukti bisa diredam pasca demonya dibuka untuk umum. Dan terbukti ketika sudah dirilis, reboot DmC ini bisa memenuhi ekspetasi, dan menjadi obat kangen penggemar Devil May Cry lawas yang sudah terlanjur sayang dengan karakteristik keren yang sukses dibangun old Dante.

Yang iseng merubah cover game DmC menjadi seperti di atas, ayo ngakuuuuuuu….. hehe :)

Btw, berhubungan dengan mungkin masih ada rasa benci dari para penggemar Dante lawas, pada 10 Januari 2013 lalu ada yang iseng mengubah tampilan cover orisinal game ini di halaman Wikipedia, dengan gambar Dante berwajah culun, serta ada anjing buldog di sampingnya. Entah apa maksud diubahnya cover tersebut, namun melihat potongan rambut Dante culun tersebut, jelas kami langsung tertuju pada creative director Ninja Theory, Tameem Antoniades, yang style rambutnya memang seperti itu. Untungnya sudah ada yang mengembalikan tampilan cover tersebut ke cover game aslinya. Namun jika kamu penasaran seperti apa tampilannya, lihat saja gambar di atas :)

Dan melalui game ini, kita juga jadi tahu ternyata Capcom (yang mengapprove desain Dante baru ini), juga menyukai Twilight, coba lihat kemiripannya dengan si Cullen itu… :)

Dan untuk mengiringi perilisan Devil May Cry terbaru ini, kami merangkum kembali semua artikel yang berhubungan dengan DmCDevil May Cry, yang pernah diulas Duniaku.net, dan bisa kamu akses melalui setiap link di bawah — yang akan terus kami update dengan review dan informasi lainnya. So, sebelum memutuskan untuk membenci Dante baru dengan penampilannya yang memang sedikit bergulir dari kesan cool, ada baiknya kita nikmati dulu game ini, baru kita diskusikan kembali, apakah keputusan reboot yang kontroversial ini sudah benar… toh kita juga masih ada pembanding lain, reboot Tomb Raider yang seakan membuang image tangguh Lara Croft yang sudah kita kenal selama ini, dengan rencana rilis awal Maret mendatang.

DmC Devil May Cry – Combat Overview Part 1

DmC Devil May Cry – Combat Overview Part 2


SHARE
Previous articlePlayStation 4 dan Xbox 720 Bakal Dijual dengan Harga Empat Jutaan?
Next articleDemonstrasi “Kecil-Kecilan” dari Windows 8
Telah dikenal sejak satu dekade yang lalu melalui media game Ultima Nation. Saat itu artikel andalannya adalah panduan walktrough game-game RPG. Ura kemudian juga semakin dikenal lewat tulisannya yang idealis dan selalu konsisten pada satu aspek game, yaitu STORY - yang olehnya dianggap sebagai backbone sebuah game. Selain menggeluti dunia game, Ura juga penggemar gadget, dan dia memiliki hobi "ngoprek" smartphone.