DmC: Devil May Cry, Angel atau Demon? Satu Dante Untuk Tiga Style

Melanjutkan ulasan DmC: Devil May Cry kami sebelumnya, dan mengajakmu mengenali Limbo serta dunia manusia yang menjadi setting, kini kami jelaskan mengenai satu aspek game tersebut yang banyak mengingatkan kita pada Devil May Cry lawas, yaitu gameplay.

Keseluruhan gameplay DmC: Devil May Cry ini mengingatkan seperti game originalnya, walaupun kami merasa lebih advance dengan beberapa pilihan senjata berbeda, dan dua mode pengoperasian Angel dan Demon. Pada dasarnya gerakan Dante muda seperti Dante tua yang kita kenal sebelumnya, mulai melakukan combo standar dengan menyerang menggunakan pedangnya, Rebellion, dan menembak dengan pistol kembarnya Ebony dan Ivory. Bedanya adalah dua variasi teknik selama menggunakan senjata tersebut, yang disebut Angel Mode dan Devil Mode, bisa diaktifkan dengan menahan salah satu tombol trigger. Sehingga selain mode normal, serangan Dante bisa dikombinasikan dengan dua mode tadi yang bebas diganti selama dia bertarung.

Menahan L2 bakal merubah pedang Dante menjadi bentuk scythe, itu menandai aktifnya mode Angel, dan serangan pedang Dante berubah menjadi Osiris. Sesuai bentuknya, sabit tersebut kekuatan serangannya tidak sebesar pedang. Kemudian dengan mode Angel, pistol kembarnya juga berubah menjadi Ophion, dengan bentuk rantai putih serta ujung mirip kepala ular yang bisa menggigit dengan kuat, sangat pas untuk meraih platform yang tinggi.

Sementara itu ketika menahan trigger R2, Dante masuk mode Demon, dan merubah pedangnya menjadi kapak raksasa bernama Arbiter, lebih lambat namun sangat kuat, dan cocok untuk menembus pertahanan musuh. Sedangkan pistol kembarnya kembali menjadi Ophion, namun dalam mode Demon ini senjata jarak jauh tersebut lebih berfungsi semacam grappling hook untuk berinteraksi dengan obyek di sekitarnya, atau bisa juga untuk menarik musuh dari kejauhan untuk mendekat dan menyambutnya dengan combo (seperti gerakan Snatch milik Nero dari Devil May Cry 4).

Kedua mode tersebut terlihat jelas dari warna yang dominai menyelimutinya. Biru untuk Angel atau cahaya, dan merah untuk Demon atau kegelapan. Kamu pun perlu memperhatikan warna dominan demon yang dihadapi Dante, karena ada beberapa yang hanya bisa dilukai oleh senjata tertentu; jika merah, menandakan hanya senjata tipe demon yang bekerja, dan jika biru, kamu perlu senjata angel.

Adanya dua mode tersebut membuat Dante begitu fleksibel gerakannya. Menggunakan mode Angel memungkinkan Dante untuk mendekat pada musuh dan pada bagian tertentu sebuah level. Sedangkan ketika dalam mode Devil, Dante justru bisa menarik musuh dan obyek untuk mendekatinya. Menggunakan mode Angel, Dante juga dengan mudah menyeberangi celah lebar. Dan kedua mode tersebut (bersama mode normalnya) bisa kamu gunakan bergantian satu-sama-lain untuk membangun serangan combo, yang sekali lagi kini diukur tingkat style rank-nya, dimana rank yang bisa kamu raih antara lain:

  • Dirty!
  • Cruel!
  • Brutal!
  • Anarchic!
  • Savage!
  • SSadistic!!
  • SSSensational!!!

Untuk mendapatkan style tersebut kami merasa lebih mudah daripada game sebelumnya. Mungkin karena kami memainkannya dalam mode “Devil Hunter,” yang kami anggap lebih pengertian dibandingkan setting kesulitan dalam Devil May Cry 3, misalnya. Ditambah kita langsung mendapatkan akses gerakan “tarik-musuh-dan-bantai” ala style-nya Nero dengan berganti mode Angel atau Demon. Sedangkan ketika mencoba memainkannya di tingkat kesulitan yang lebih tinggi, mencapai style tersebut makin susah, terutama karena jika menerima damage, langsung menurunkan rank. Dan kami sendiri malah membayangkan, bagaimana ketika memainkan tingkat kesulitan Hell and Hell (langsung tewas dalam sekali serangan). Buka artikel lama kami di sini, untuk mengetahui perbedaan tingkat kesulitannya.

Dengan senjata dan kemampuan Dante bisa digonta-ganti secara realtime selama dia beraksi, kombinasi kreatif bisa dengan mudah kamu hasilkan. Selain itu membedakan dibanding Devil May Cry lawas, Ninja Theory memasukkan banyak unsur aerial combat, dan Dante men-juggle juggle musuh ke udara, dilanjutkan dengan rangkaian kombinasi Angel dan Demon, membuat gameplay DmC baru ini lebih asyik dimainkan. Apalagi kontrol untuk setiap senjata juga serupa, membuat kita tidak malas berganti mode dan senjata untuk menciptakan combo dengan point style tinggi. Apalagi banyak musuh juga memaksa kita secara konstan berganti senjata.

Selain itu, gerakan super Devil Trigger yang sebelumnya merubah Dante menjadi “monster,” dan disini malah membuatnya menjadi old Dante, juga dibuat dengan fokus mengenalkan aerial combat tersebut. Ketika mengaktifkan Devil Trigger, Dante mampu meluncurkan musuh ke udara, membuka pertahannya, dan menyerang mereka dengan mudah. Hanya saja boss dan musuh berukuran jumbo tidak bisa di-juggle seperti itu.

Eksekusi combo tidak akan membingungkan pemain lama, karena Ninja Theory masih menggunakan konsep input combo time-based seperti Devil May Cry klasik, seperti misalnya, menekan tombol berulang kali untuk satu rangkaian serangan, atau memberi jeda antara setiap tekanan tombol bisa memicu serangan yang berbeda. Kemudian arah serangan Dante juga dibuat lebih bebas, tidak seperti game sebelumnya yang bakal mengacu pada satu musuh begitu dipicu, namun di sini kamu bebas menyerang ke segala arah — well, hanya untuk pedang saja, karena untuk tembakan pistolnya masih otomatis menarget musuh, dan kadang bisa menimbulkan masalah ketika musuh yang ditembak bukan yang kita inginkan. Imbas bebasnya menarget musuh, Ninja Theory juga memberikan tombol “Launch” khusus (Lingkaran untuk PS3, B untuk X360) untuk serangan semacam High Time (serangan yang meluncurkan musuh ke udara) yang kamu kenal dari seri sebelumnya.

Devil Trigger, Obat Kangen Old Dante 

Meskipun penampilan Dante baru ini jauh dari kesan pendahulunya, namun Ninja Theory tidak kekurangan akal. Mereka mengabulkan harapan penggemar Dante lawas melalui wujud Devil Trigger. Ketika cukup power terkumpul, Dante bisa mengaktifkan mode Devil Trigger. Dan bukanya berubah menjadi demon seperti yang dilakukan old Dante, Dante muda ini malah berubah menjadi old Dante.

Tidak terlalu mirip, hanya beberapa wujud fisiknya mengingatkan pada demon hunter berambut putih yang selama ini sudah kita kenal. Warna matanya pun menjadi merah dengan bola mata menjadi putih, sedangkan otot – otot tubuhnya juga lebih terliihat jelas. Selain itu, mantel yang dia kenakan pun berubah warnanya menjadi merah darah). Dalam mode ini, waktunya melambat, dan dia bisa menembak lebih cepat, sehingga damage yang ditimbulkan pun juga berlipat, dan saat melakukan gerakan tersebut, posenya pun terlihat lebih stylish – efek waktu melambat dan gerakannya yang lebih cepat.

Keren, walaupun para pemain Devil May Cry lawas pasti juga familiar dengan mode ini, yang mengingatkan mereka dengan Quicksilver Style – kemampuan mengendalikan waktu dalam Devil May Cry 3 yang didapatkan Dante dari Geryon; memungkinkan Dante bergerak lebih cepat sehingga membuat musuh dan lingkungan sekitarnya menjadi lebih lambat, memungkinkannya bereksperimen dengan lebih banyak gerakan kombinasi. Sedangkan Devil Trigger ala DmC: Devil May Cry ini seakan memberi Dante sedikit kemampuan mengendalikan Limbo untuk mengurangi gravitasi, membuat musuh tak berdaya dan bisa diluncurkan ke udara, memulihkan Vitality, dan meningkatkan kecepatan serta kekuatan serangannya.

Di awal Devil Trigger semua musuh berukuran kecil diluncurkan ke udara, pertahanannya terbuka, dan kamu bisa melancarkan banyak combo udara. Sayangnya, boss tidak terkena efek terlontar ke udara, namun ada beberapa opsi lain selama kamu menggunakan Devil Trigger, seperti mungkin mendapatkan grapple point di tubuhnya, atau memperlambat serangan boss. Devil Trigger bisa diaktifkan ketika sebuah meter terisi penuh, dan itu terjadi ketika Dante melukai musuh atau terkena damage. Begitu Devil Trigger diaktifkan, meter tersebut juga dengan cepat terkuras.

DmC Devil May Cry – Launch Trailer

http://youtu.be/wIIpKfNWrpk


SHARE
Previous articleFinal Fantasy All the Bravest, Kerahkan Semua Anggota Party-mu!
Next articleKarakter Baru Lagi untuk God Eater 2, Kazuki Nana
Telah dikenal sejak satu dekade yang lalu melalui media game Ultima Nation. Saat itu artikel andalannya adalah panduan walktrough game-game RPG. Ura kemudian juga semakin dikenal lewat tulisannya yang idealis dan selalu konsisten pada satu aspek game, yaitu STORY - yang olehnya dianggap sebagai backbone sebuah game. Selain menggeluti dunia game, Ura juga penggemar gadget, dan dia memiliki hobi "ngoprek" smartphone.