Samsung Galaxy S III mini vs LG Optimus L9, Memilih Android Dual-core Terbaik

Seperti yang pernah kami utarakan sebelumnya, Samsung akhirnya resmi merilis Samsung GT-i8190 Galaxy S III mini di Indonesia. Dan yang melegakan, harganya lebih murah dari Galaxy S Advance, yang memang diposisikan sebagai penggantinya.

Galaxy S III mini memang sudah dijual per November 2012 kemarin di Eropa, dengan harga berkisar antara Rp. 4.4 – 5 jutaan. Namun karena harga di Eropa biasanya memang lebih mahal dibandingkan wilayah lain, dan kita pun akhirnya mengetahui si mini ini ditawarkan dengan harga Rp. 3,499,000 saja di Indonesia. Melihat kelas dan spesifikasinya, memang Samsung memposisikan sebagai penerus Galaxy S Advance (eksis di Indonesia mulai Mei 2012) yang saat ini masih banyak dijual di berbagai outlet. Kenapa tidak Rp 3,999,000 seperti ketika Galaxy S Advance pertama kali dijual? Bisa jadi karena ada “gangguan.” Tidak lain karena “saudara serumpunnya,” LG Optimus L9 yang sudah dirilis di Indonesia sejak akhir November 2012 lalu dijual dengan harga Rp. 3,299,000, dan menawarkan spesifikasi yang setara dengan Galaxy S III mini.

Singkatnya, Galaxy S III mini menawarkan layar 4-inchi Super AMOLED beresolusi WVGA 800×480-pixel dengan penataan pixel PenTile (terlihat pixelated dalam jarak sangat dekat). Karena berkategori PenTile, artinya tidak ada sub-pixel tambahan, seperti yang diterapkan Samsung pada Galaxy S II, sehingga jangan disamakan dengan layar Super AMOLED yang resolusinya sangat tinggi seperti pada Galaxy S III atau Galaxy Note II. Kemudian chipsetnya juga bukan Galaxy S III, karena Samsung menawarkan ST-Ericsson NovaThor dengan dua inti yang mengadopsi teknologi Cortex-A9 berkecepatan 1GHz. Chipset tersebut masih bisa diandalkan kinerja 3D-nya berkat GPU Mali-400, serta RAM 1GB yang menjamin kinerjanya tatp snappy. Chipset tersebut banyak digunakan di Android kelas menengah, dan performanya memang tidak biasa saja, namun juga jangan diharapkan sefantastis big-brother Galaxy S III.

Sisa spesifkasi lainnya seperti sensor kamera utama 5-megapixel autofocus dengan flash LED yang mampu merekam video dengan resolusi 1280×720-pixel alias 720p (artinya, tidak bisa meng-capture video full HD seperti pada Galaxy S III), serta kamera sekunder dengan kualitas VGA. Smartphone yang bekerja di jaringan GSM quad-band secara 2G dan tri-band 3G ini juga memiliki modul Wi-Fi a/b/g/n dual-band yang penerimaan sinyalnya lebih baik, Bluetooth 4.0 serta NFC (opsional, tergantu pilihan dan harga). Internal storage-nya ternyata juga hanya 8GB atau 16GB (yang beredar di Indonesia 16GB) yang masih bisa diperbesar dengan microSD. Kemudian dimensi dan bobotnya 121.6 x 63 x 9.9mm dan beratnya 111.5g, sudah termasuk baterai dengan kapasitas 1500mAh.

Antara harga versi Indonesia, dengan spesifikasi yang ditawarkan, penulis merasa sudah setara. Apalagi dengan harga yang lebih murah dari Galaxy S Advance pendahulunya, kamu mendapatkan desain berkelas ala Galaxy S III dan Galaxy Note II, chipset dengan kinerja yang lebih baik, memory RAM juga lebih lega 256 MB, langsung menggunakan Android 4.1 Jelly Bean, serta banyak aplikasi tambahan dari Samsung, yang mereka kenalkan melalui Galaxy S III. Aplikasi tersebut antara lain:

S Voice

Aplikasi pengenalan bahasa yang memungkinkan kita menggunakan suara untuk membuka si mini dengan perintah sederhana, atau untuk memainkan lagu favorit, mengubah volume, mengatur jadwal atau secara otomatis memulai kamera dan mulai memotret. Yah, semacam Siri-nya si iPhone lah…

Direct Call

Si mini ini bisa tahu kapan kamu mau memutuskan untuk telepon. Seperti ketika menulis SMS, dan berniat telepon saja, cukup angkat telepon dan dekatkan ke telinga, maka Direct Call otomatis langsung memulai panggilan ke kontak yang saat itu teregister di menu SMS!

Smart Stay

Seperti pada Galaxy S III dan Galaxy Note II, Smart Stay akan mengenali mata kita ketika sedang melihat ke layar (dengan catatan berada di ruangan yang cukup terang). Selama kita melihat ke layar, backlight tidak akan meredup meskipun kita tidak menekan tombol apa pun.

Smart Alert

Fungsi notifikasi tambahan, yang memberi kita peringatan vibrasi seandainya ada panggilan tak terjawab atau pesan baru yang belum sempat direspon. Fungsi semacam itu jarang disediakan secara default, dan biasanya baru didapatkan ketika meng-install aplikasi pihak ketiga.

Pop-Up Play

Fitur yang dibanggakan Samsung ketika mengenalkan Galaxy S III, dan awalnya diklaim membutuhkan smartphone ber-chipset quad-core. Namun dengan dual-core-nya si mini ini, ternyata bisa mengeksekusi opsi melihat video dalam tampilan pop-up windows, bersamaan dengan aktivitas lain, seperti cek email atau mengetik SMS.

Best Shot

Kamera Galaxy S III mini juga mampu mendeteksi bagian wajah, dan membedakan suatu foto apakah seseorang sedang tersenyum, kemudian membantu kita memilih foto mana yang lebih bagus melalui Best Shot. Fungsi ini cocok ditandamkan dengan mode pengambilan foto Smile Shot.

Samsung Galaxy S III mini vs LG Optimus L9

Dengan rentang harganya, Galaxy S III mini ini bisa disetara dengan Optimus L9. Sama-sama dari Korea Selatan, sama-sama dual-core dengan RAM 1GB, mana yang harus dipilih? Berikut perbandingan spesifikasi keduanya.

Kini kita bandingkan key feature keduanya smartphone tersebut.

Galaxy S III mini langsung datang dengan Jelly Bean, sedangkan Optimus L9 masih Ice Cream Sandwich. Jadi kamu sekaligus mendapatkan fitur Jelly Bean, sepetti animasi antar muka yang lembut dan integrasi search Google Now, selain juga meningkatkan performa smartphone secara keseluruhan. Untuk Optimus L9, sejauh ini belum ada konfirmasi resmi kapan ada update Jelly Bean.
Galaxy S III mini dengan layar 4-inchi memang paling nyaman untuk tipikal tangan orang Indonesia yang tidak terlalu lebar, namun Optimus L9 dengan layar 4.7-inchi juga lebih lega untuk bermain game, melihat film, atau browsing website. Resolusi layar Optimus L9 pun termasuk tinggi, plus material IPS pada tingkat brightness tertingginya menyajikan warna yang lebih natural dibandingkan tipikal AMOLED yang terlalu berlebihan tingkat kontras-nya (gambar jadi berkesan seperti kartun). Selain itu, Optimus L9 juga sudah dilindungi lapisan Gorilla Glass 2, dibandingkan Galaxy S III mini yang hanya Gorilla Glass pertama.
Keduanya memberikan konfigurasi dual-core dan RAM 1 GB. Galaxy S III mini menyerahkan kinerjanya pada duet chipset NovaThor U8420 1GHz dan GPU Mali-400. Kemudian Optimus L9 dengan chipset TI OMAP 4430 1GHz serta GPU PowerVR SGX540. Seharusnya setara, namun pada kenyataannya dari beberapa hasil benchmark, TI OMAP 4430 dan PowerVR memberi kinerja yang lebih baik, padahal sistem operasinya masih Ice Cream Sandwich. Namun kenyataannya memang si mini juga menjalankan Jelly Bean yang kebutuhan RAM lebih besar, serta antar muka Touch Wiz-nya Samsung lebih besar. Untuk kategori kinerja bisa dikatakan setara.
Di sisi kamera, keduanya sama-sama menawarkan resolusi maksimal 5-megapixel. Antar muka kameranya pun mirip, dengan panel pengaturan dan shortcut di sebelah kiri. Namun untuk Samsung, kamu bisa dengan mudah mengedit shortcut-nya.. Hanya saja di LG, kamera Optimus L9 mampu merekam video full HD 1080p, berkat dukungan chipset-nya yang lebih advance. Untuk yang satu ini, kami lebih menyukai apa yang ditawarkan Optimus L9 karena ada opsi full HD.
Dibandingkan Optimus L9, Galaxy S III mini unggul karena material layarnya yang OLED, yang memang lebih banyak digunakan pada smartphone Samsung. Tipikal OLED memang tidak natural, kontras yang berlebih membuat gambar terlihat lebih penuh warna, dan lebih banyak yang menyukai tampilan seperti itu. Kemudian internal storage si mini juga lebih besar, 16GB dibandingkan 4GB pada Optimus L9. Galaxy S III mini juga memiliki sensor gyroscope, yang banyak dibutuhkan ketika memainkan game, untuk mendeteksi orientasi layar. Selain itu, Galaxy S III mini juga 14 gram lebih ringan.
Dibandingkan Galaxy S III mini, Optimus L9 pun memiliki keunggulan tersendiri. Selain ukuran layar, resolusi, perlindungan Gorilla Glass 2, smartphone kelas menengah LG ini menawarkan baterai berkapasitas raksasa. Dengan baterai 2,150 mAh, daya tahannya jelas lebih panjang daripada Galaxy S III mini yang hanya 1,500 mAh. Apalagi didukung prosesor TI OMAP yang terkenal hemat daya. Penulis sempat mencobanya beberapa hari, dalam sekali charge baterai tersebut bisa mengaktifkan L9 seharian full online dengan dukungan koneksi internet via hotspot WiFi. Oh ya, Optimus L9 juga lebih tipis 1mm, jika itu menjadi perhatianmu, serta kualitas output speakernya lebih keras dibandingkan Galaxy S III mini.

Demikian keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Jika kamu menyukai desain Galaxy S III, atau mencari Android dengan OS Jelly Bean out-of-the-box, dengan dukungan custom ROM dari developer ketiga yang cukup banyak, kemudahan mencari aksesoris (apalagi di Indonesia), tentu pilihan terbaik ada pada Galaxy S III mini. Kemudian ciri khas Samsung yang memberi kemudahan, penempatan tombol power berada di sisi kanan, mudah dijangkau, dan tidak terlalu keras. Optimus L9 juga ditempatkan di sebelah kanan, namun penulis merasa tidak segampang Galaxy S III mini ketika menekannya. Kemudian corong speaker di sebelah kamera seperti kebanyakan smartphone Android baru Samsung, tidak mudah tertutup tangan ketika digunakan. Plus, cara membuka tutup belakang Galaxy S III mini ini tidak memerlukan usaha yang berat seperti ketika membuka tutup baterai Optimus L9 (walaupun sisi positifnya, Optimus L9 memang terasa lebih solid konstruksi casing-nya).

Namun jika mencari Android dengan layar yang sangat lega, baterai yang hemat, dan output warna dari LCD yang natural sesuai warna aslinya (khususnya mereka penggemar fotografi), maka tipikal layar IPS seperti yang diberikan LG ini layak menjadi pertimbangan, karena harga retailnya terpaut sekitar Rp 200 ribuan dengan harga normal Rp 3,299,000 (beberapa toko menjual lebih murah!). Selain itu, walaupun ini masalah selera, desain Optimus L9 lebih cantik daripada Galaxy S III mini yang minimalis. Paling peulis sukai adalah adanya lis krom di sekeliling tubuhnya, menemani permukaan bergerigi yang begitu nyaman digenggam. Hanya saja yang disayangkan dari Optimus L9 adakah penempatan speakernya, berada di kanan-bawah, rentan tertutup tangan ketika kita menggunakannya dengan kedua tangan, seperti ketika bermain game misalnya.

Di rentang harga yang setara, masih ada beberapa pilihan lainnya. Seperti Motorola DROID RAZR XT910, yang harga barunya juga sama Rp. 3,499,000. Jika kamu tidak memperhitungkan merk, kami lebih menyarankan DROID RAZR yang aduhai tipisnya ini dibandingkan dua pilihan di atas, walaupun pilihan Motorola ini juga sudah termasuk uzur (eksis sejak akhir 2011 lalu). Dia menggunakan chipset yang sama seperti Optimus L9 (namun speed-nya ditingkatkan menjadi 1.2 GHz), namun layarnya 4.3-inchi dengan resolusi sama dengan Optimus L9 (qHD 960×544 pixel), yang menggunakan material Super AMOLED Advance. Saat ini masih mengoperasikan Ice Cream Sandwich, namun ada kepastian update Jelly Bean. Kameranya pun sudah 8-megapixel, body yang tipis (hanya 7.1-mm), dan memiliki lapisan anti air.

Opsi lainnya lagi? Ada HTC Sensation XE, yang harga barunya hanya Rp. 2,999,000 — juga tersedia warna putih. Dengan prosesor dual-core dari chipset Qualcomm Snapdragon MSM8260 yang speed-nya 1.5 GHz, kapasitas ROM 4 GB, kamera 8-megapixel dengan dual LED flash, baterai 1730 mAh, integrasi equalizer Beats Audio, namun sayang RAM-nya hanya 768 MB saja. Apa yang penulis sukai dari Sensation XE ini seperti DROID RAZR XT910 adalah desainnya yang berkelas. Yah, mereka berdua sejatinya memang Android kelas atas, dengan harga perdana sekitar Rp 5 jutaan, yang saat ini karena usia ditawarkan di harga Rp 3 jutaan saja. Namun secara kinerja dan kemampuan, boleh diadu dengan Galaxy S III mini atau Optimus L9.Opsi lainnya? Kalau penulis pribadi sih, nyari second-nya Samsung Galaxy S II saja, jauh lebih worthed dibandingkan semuanya… hehe!

Sumber: Spec GSMArena, Gambar Samsung


SHARE
Previous articleJim Carrey dan Adam Sandler Gabung di Guardians of the Galaxy?
Next articleRazer Perkenalkan Orbweaver, Kendali Game dalam Satu Tangan!
Telah dikenal sejak satu dekade yang lalu melalui media game Ultima Nation. Saat itu artikel andalannya adalah panduan walktrough game-game RPG. Ura kemudian juga semakin dikenal lewat tulisannya yang idealis dan selalu konsisten pada satu aspek game, yaitu STORY - yang olehnya dianggap sebagai backbone sebuah game. Selain menggeluti dunia game, Ura juga penggemar gadget, dan dia memiliki hobi "ngoprek" smartphone.